WARTA MEDIKA

Mamografi: Penting untuk Skrining Keganasan Payudara (ada foto)

Kanker payudara merupakan 1-3% penyebab kematian akibat kanker pada wanita di seluruh dunia. Sejak mamografi digunakan secara luas sebagai metode skrining, ukuran tumor saat pertama dideteksi dan tingkat kematian akibat kanker payudara menurun cukup tajam sampai 20% dalam 10 tahun terakhir. Manfaat mamografi ini ternyata mendapat tentangan dua peneliti Denmark. Mereka mengungkapkan hasil penelitian yang mengungkapkan lima dari tujuh uji klinis tentang skrining mamografi ternyata cacat dan tidak satupun menunjukkan bahwa mamografi dapat menyelamatkan jiwa (Lancet 2000;355:129-34). Hasil ini mencetuskan perdebatan antara kelompok pro dan kontra program skrining rutin mamografi. Isu yang diperdebatkan di antaranya, mamografi dapat meningkatkan risiko kanker akibat radiasi kumulatif, teknik mamografi dapat menyebarkan sel kanker, mamografi meningkatkan agresivitas tindakan pengobatan kanker payudara, sampai besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk program skrining rutin ini.

Di Indonesia sendiri, perdebatan pro - kontra mamografi sebagai skrining rutin tidak terjadi. Dr. Nina I.S.H. Supit, SpRad., staf pengajar bagian Radiologi FKUI/RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo,, menjelaskan bahwa di Indonesia belum ada program skrining seperti yang terdapat di luar negeri. Menurut pendapatnya, program skrining dilakukan secara massal dengan pihak penyelenggara kesehatan mendatangi masyarakat. Selama ini yang terjadi di Indonesia adalah pasien datang untuk memeriksakan dirinya. Ini dikategorikan upaya deteksi dini. Tetapi, ia tidak setuju bila dikatakan mamografi tidak bermanfaat. Menurutnya, sampai saat ini, mamografi merupakan skrining dasar untuk keganasan payudara di dunia. Hal senada diungkapkan Dr. Muchlis Ramli, SpBOnk., penasihat Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI). Menanggapi isu kontroversial yang diungkapkan oleh dua peneliti Denmark, ia berpendapat bahwa di dunia ini begitu banyak penelitian mengenai mamografi dan kanker payudara sehingga analisis dari tujuh penelitian tidak bisa begitu saja menjadi konklusi bahwa mamografi tidak bermanfaat.

Kanker payudara di Indonesia sampai saat ini merupakan kanker kedua tersering pada wanita setelah kanker serviks. Dengan insidens kanker payudara sekitar 100 per 100.000 jiwa per tahun dan lebih dari 50% di antaranya ditemukan dalam stadium lanjut, mamografi masih menjadi alat yang diandalkan dalam mendeteksi kanker payudara, papar Muchlis. Menurutnya, masih sedikitnya penemuan kasus dalam stadium dini menyebabkan upaya deteksi dini dan skrining menjadi sangat penting. Mamografi merupakan salah satu upaya ini, di samping metode lain, yaitu SADARI (perikSA payuDAra sendiRI) dan pemeriksaan klinis oleh dokter. Mamografi sendiri sangat bermanfaat dalam menemukan lesi berukuran sangat kecil, sampai 2 mm, yang tidak teraba dalam pemeriksaan klinis (biasanya berukuran di bawah 1 cm).

Dengan program skrining diharapkan dilakukan pemeriksaan dasar mamografi setiap 2-3 tahun sekali pada perempuan berusia di atas 35-50 tahun, dan setiap satu tahun atau dua tahun pada wanita berusia di atas 50 tahun. Pemeriksaan dasar ini akan memberikan data awal jaringan payudara wanita. Bila mamografi dilakukan secara rutin diharapkan jika ada perubahan sedikit saja dari jaringan payudara wanita akan dapat segera diketahui. Demikian diungkapkan oleh Muchlis. Sayangnya, pola pikir seperti ini tidak dijumpai pada kaum perempuan umumnya. Dari pengalaman klinisnya, Nina mengungkapkan, sangat jarang seorang perempuan dengan kesadaran sendiri datang meminta dilakukan mamografi. Hampir semua pasien yang dihadapinya datang dengan keluhan nyeri atau benjolan, dan hampir semuanya membawa surat rujukan.

Rendahnya kesadaran untuk memeriksakan diri ini tidak hanya terjadi pada wanita dengan pendidikan atau ekonomi rendah, tetapi juga mereka yang berpendidikan tinggi atau cukup mapan, bahkan di kalangan profesi kedokteran sendiri. Memang, diakui Nina bahwa penyebaran informasi mengenai manfaat pemeriksaan dini (mamografi) atau faktor risiko kanker payudara mungkin kurang tersebar luas di masyarakat, tetapi bukan berarti tidak ada sama sekali. Menurutnya, sudah sering dilakukan seminar-seminar mengenai kanker payudara dan mamografi, tetapi umumnya tanggapan atau respons peserta hanya sesaat. Setelah selesai seminar biasanya mereka tidak lagi memikirkan bahaya kanker payudara.

Selain mamografi, sebenarnya teknik SADARI cukup membantu. Setidaknya, mendorong kaum perempuan untuk segera berobat bila menemukan benjolan pada payudaranya. Tetapi, teknik ini ada kelemahannya. SADARI sangat tergantung pada ketelitian, kepekaan, dan tingkat intelegensi wanita, ungkap Muchlis. Sementara itu, menurut Nina, semua kembali pada kesadaran si perempuan tentang faktor risiko dan bahaya kanker payudara. Tanpa kesadaran, wanita tidak akan melakukan pemeriksaan, apakah itu SADARI ataupun mamografi, sekalipun tidak dikenakan biaya. Nina mengungkapkan, dari tahun ke tahun jumlah penderita kanker payudara di RSCM tidak mengalami perubahan, dan masih dengan stadium yang cukup tinggi. Menurutnya, ini terjadi karena kesadaran untuk memeriksakan diri dan mencari pengobatan yang benar masih belum membudaya di Indonesia

Jika dibandingkan dengan 10 tahun lalu, angka penemuan kanker payudara di Indonesia makin meningkat. Teknik pemeriksaan yang semakin baik dan penemuan alat baru, di antaranya mamografi, memang mempengaruhi angka ini. Tetapi, menurut Muchlis, yang juga anggota Dewan Eksekutif World Federation of Surgical Oncology Society (WFSOS), peningkatan angka penemuan ini lebih disebabkan oleh meningkatnya faktor risiko kanker payudara itu sendiri yang meliputi faktor eksogen, misalnya pola hidup, pola makan, serta faktor endogen, yaitu genetik. Ini juga yang menjadi faktor mengapa setelah berbagai perkembangan dalam diagnosis dan terapi kanker payudara, insidens kanker payudara di berbagai negara tetap tinggi. Karena itu, mamografi rutin masih menjadi anjuran di negara-negara tersebut.

Tetapi, seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, saat ini mengemuka isu bahwa radiasi yang dihasilkan oleh mamografi dianggap meningkatkan risiko terjadinya kanker pada wanita yang secara rutin melakukannya. Nina menjelaskan, dosis radiasi mamografi yang dihitung adalah skin dose (dosis di permukaan kulit). Dalam mamografi dilakukan dua posisi pemotretan untuk tiap payudara, yaitu kraniokaudal dan mediolateral. Untuk posisi kraniokaudal dosisnya 0,05 rad (radiation absorption dose) dan untuk posisi mediolateral 0,06 rad. Batas toleransi radiasi yang bisa diterima seorang wanita dalam usia subur adalah 13 mSv (miliSievert; 1mSv setara 1 rad) dalam waktu 13 minggu. Sedangkan mamografi dilakukan setidaknya satu kali saja setiap tahunnya. Jika dibandingkan dengan foto toraks, dosis pada mamografi jauh lebih kecil. Jadi, isu tersebut tidak beralasan dan sampai saat ini belum ada pembuktian ilmiahnya.

Satu hal yang pasti adalah mamografi bukanlah alat yang sempurna. Hasil negatif palsu terjadi pada 20-25% wanita yang berusia di bawah 50 tahun dan 8-10% wanita yang berusia di atas 50 tahun. Karena itu, bila ada keraguan, dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan lain, misalnya dengan sonografi atau biopsi. Diakui oleh Nina bahwa spesifisitas dan sensitivitas mamografi memang cukup tinggi, tetapi ini juga tergantung umur. Pada wanita yang masih muda, belum pernah melahirkan, atau menyusui, spesifisitas dan sensitivitasnya berkisar sekitar 70%. Sedangkan pada wanita yang lebih tua, sudah pernah melahirkan, atau menyusui, bisa mencapai 90%. Untuk menambah akurasi pemeriksaan, di RSCM rutin dilakukan sonografi setelah mamografi. Dengan pemeriksaan tambahan ini, spesifisitas dan sensitivitas bisa meningkat sampai 95%.

Berdasarkan data hospital base RSCM, cukup banyak kasus kanker payudara yang terdeteksi melalui mamografi. Karena itu, mamografi sangat bermanfaat, terutama pada kasus yang tumornya tidak teraba secara klinis, ungkap Muchlis. Sampai saat ini, stadium terendah yang bisa dideteksi adalah stadium 2. Jika program skrining dapat dilakukan, akan lebih banyak ditemukan kanker payudara pada stadium 1, demikian diharapkan oleh Nina. Menurut Muchlis, metode skrining yang paling baik diterapkan di Indonesia adalah SADARI, dokter puskesmas yang peka dalam pemeriksaan dan menanggapi keluhan pasien, serta mamografi. Kendalanya adalah bagaimana menyiapkan mamografi untuk kondisi geografi seperti Indonesia. Akan lebih baik lagi jika tersedia mobile unit untuk skrining mamografi dan serviks dalam satu unit, tambahnya lagi. Usul ini pernah diterima, tetapi sampai saat ini tidak ada tanggapan lagi dari pihak yang berwenang. Sedangkan menurut Nina, adanya fasilitas harus disertai dengan kemauan dan kesadaran untuk memanfaatkannya dengan sebaik mungkin.

Gaung Hari Perempuan Sedunia (8 Maret 2002) dan Hari Kesehatan Sedunia (7 April 2002) mungkin sudah memudar, tetapi perempuan di dunia ini akan terus ada. Dibayang-bayangi tingginya angka kematian ibu, kanker serviks dan kanker payudara, perempuan Indonesia akan terus hidup. Bagaimana kualitas kehidupan perempuan Indonesia bisa ditingkatkan? Mulailah dengan mengutamakan kesehatan, melalui upaya deteksi dini dan skrining. (berbagai sumber/wenni)