ARTIKEL

KMS Perkembangan Anak: Teknologi Sederhana yang Relevan Dengan Program Peningkatan Kualitas SDM

MAHDIN A. HUSAINI*, ABAS B. JAHARI*, HERYUDARINI HARAHAP*, SITI HALATI*, ANITA NUGRAHENI*, DAN ERNESTO POLLITT**
*Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi, Bogor
** University of California, Davis, USA


Penelitian ini mendapat dana dari Nestle Foundation, Lausanne - Switzerland, dan sumbangan suplemen makanan dari P.T. Indomilk, Jakarta

Abstrak

Penelitian mengenai perkembangan motorik kasar telah dilakukan terhadap 557 anak umur 3--18 bulan di daerah Jawa Barat secara kroseksional. Pada selang umur tersebut, diamati 18 milestone, a.l. telentang, tengkurap, duduk, gengsot, merangkak, berdiri, berjalan, dan berlari. Perkembangan motorik dipresentasikan dalam bentuk grafik menurut umur dan milestone. Selanjutnya, diharapkan dapat dikembangkan menjadi suatu KMS (Kartu Menuju Sehat) tentang Perkembangan Bayi dan Anak. Dengan menggunakan KMS ini, kelak akan mudah diidentifikasi anak-anak yang terlambat perkembangannya sehingga perlu perhatian serius dalam hal makanan, perilaku memberi makan, dan pengasuhan anak. Selain itu, KMS ini juga merupakan alat untuk memotivasi ibu dalam berupaya memberikan sesuatu yang terbaik untuk anaknya agar perkembangan motorik anak lebih optimal. Dengan demikian, di kemudian hari anak menjadi lebih cerdas. Grafik perkembangan motorik milestone anak tidak sulit untuk dimengerti, baik oleh ibu maupun petugas formal atau informal, serta sangat relevan dengan program pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Pendahuluan

Pada beberapa kesempatan ceramah di berbagai kota besar bersama tim majalah Ayah Bunda antara 1997--1998, kami bertanya kepada ibu-ibu tentang bayinya: apa yang mereka inginkan? Pada umumnya, mereka menjawab: cerdas. Mereka kurang perduli apakah bayinya gemuk, montok, atau langsing, yang penting adalah cerdas. Dahulu, mereka ingin bayinya montok, gemuk, dsb, tetapi sekarang mereka ingin cerdas. Hanya itu.

Telah banyak penelitian yang menerangkan tentang pengaruh gizi terhadap kecerdasan serta perkembangan motorik kasar. Levitsky dan Strupp1 pada penelitiannya terhadap tikus mengungkapkan bahwa kurang gizi menyebabkan functional isolationism 'isolasi diri' yaitu mempertahankan untuk tidak mengeluarkan energi yang banyak (conserve energy) dengan mengurangi kegiatan interaksi sosial, aktivitas, perilaku eksploratori, perhatian, dan motivasi. Aplikasi teori ini kepada manusia adalah bahwa pada keadaan kurang energi dan potein (KEP), anak menjadi tidak aktif, apatis, pasif, dan tidak mampu berkonsentrasi. Akibatnya, anak dalam melakukan kegiatan eksplorasi lingkungan fisik di sekitarnya hanya mampu sebentar saja dibandingkan dengan anak yang gizinya baik, yang mampu melakukannya dalam waktu yang lebih lama. Model functional isolationism yang dilukiskan ini sama dengan teori sebelumnya bahwa aspek-aspek essensial dan universal untuk perkembangan kognitif ditekan oleh mekanisme penurunan aktivitas pada keadaan kurang gizi1.

Untuk melakukan suatu aktivitas motorik, dibutuhkan ketersediaan energi yang cukup banyak. Tengkurap, merangkak, berdiri, berjalan, dan berlari melibatkan suatu mekanisme yang mengeluarkan energi yang tinggi, sehingga yang menderita KEP (Kurang Energi Protein) biasanya selalu terlambat dalam perkembangan motor milestone2. Sebagai contoh, pada anak usia muda, komposisi serat otot yang terlibat dalam pergerakan kontraksi kurang berkembang pada anak yang kurang gizi. Keadaan ini juga berpengaruh terhadap pertumbuhan tulang sehingga terjadi pertumbuhan badan yang terlambat3.

Tengkurap, merangkak, dan berjalan menurunkan ketergantungan atau kontak yang terus-menerus dengan pengasuhnya. Keadaan ini berpengaruh nyata terhadap mekanisme self-regulatory, sehingga anak menjadi lebih bersosialisasi dan ramah dengan lingkungan4. Sebaliknya, bila terjadi keterlambatan dalam locomotion dan perkembangan motorrik akan merusak akses terhadap sumber-sumber eksternal yang berpengaruh kurang baik terhadap regulasi emosional, sehingga terhambat perkembangan kecerdasan anak5. Sehubungan dengan hal tersebut di atas, telah dilakukan penelitian di daerah Jawa Barat untuk dapat menerangkan tentang bagaimana mekanisme gizi berpengaruh terhadap perkembangan kecerdasan anak. Sebanyak tidak kurang dari 17 buah makalah ilmiah dan hasil penelitian ini telah diterbitkan di dalam beberapa jurnal di luar negeri, dan dari penelitian yang sama ditulis satu makalah yang akan diuraikan di sini untuk kepentingan pengembangan program gizi nasional, khususnya dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Metodologi

Penelitian kroseksional ini dilakukan di 6 Kebun Teh, PT Nusantara VIII, Pengalengan, Jawa Barat. Sebanyak 557 anak umur 3--18 bulan (± 90% dari total anak pada kelompok umur ini) diteliti. Kategori umur dibulatkan menjadi bulan tertentu plus minus 15 hari. Misalnya, kelompok umur 12 bulan terdiri dari anak yang berumur 11 bulan 16 hari sampai 12 bulan 15 hari.

Panjang badan dan berat badan dilakukan menurut teknik yang dikembangkan oleh Jelliffe6. Panjang badan diukur menggunakan ukuran yang terbuat dari kayu yang dikembangkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi, Bogor, dan dibaca dengan ketelitian 0,1 cm. Berat badan ditimbang menggunakan timbangan bayi yang dibuat oleh Misaki Inc., Jepang, dengan ketelitian 0,1 kg. Semua anak ditimbang dalam keadaan tidak berpakaian. Indeks berat badan terhadap panjang badan diinterpretasikan berdasarkan standar internasional NCHS7. Anak digolongkan dalam anak berstatus gizi baik bila BB/TB lebih rendah atau lebih tinggi dari rata-rata ± 1 SD. Apabila anak berada di luar batasan itu, anak tidak dimasukkan di dalam penelitian.

Perkembangan motorik kasar diukur pada milestone, duduk, tengkurap, merangkak, berdiri, berjalan, dan lari. Definisi milestone ini ditulis mengikuti Denver Developmental Screening Test8 dan Bayley Scales of Infant Development Motor Scale9 seperti dilukiskan dalam Tabel 2. Sebagai tambahan, tahapan-tahapan milestone ini sudah dikenal dalam budaya masyarakat setempat.

Pencatatan perkembangan motorik tersebut dilakukan oleh 3 orang tester yang dilatih terlebih dahulu secara intensif. Pada waktu pelatihan, dilakukan pengamatan terhadap 87 orang anak umur 9 bulan sampai 27 bulan. Kesahihan pencatatan data antar pasangan tester dan antar tiga tester adalah tinggi (r > 0,80).

Status motorik diamati selama 5--10 menit, dan selama testing session tersebut, setiap anak dirangsang untuk dapat melakukan milestone yang tertinggi. Instruksi diberikan kepada anak dan atau pengasuh untuk memberikan dorongan agar anak melakukan status motorik yang sedapat mungkin dapat capai anak. Pengamatan dilakukan di Posyandu atau di TPA (Tempat Pengasuhan Anak), atau di rumah subjek yang diteliti.

Hasil

Tabel 1 melukiskan hasil pengukuran antropometri berat badan dan panjang badan yang dibedakan menurut laki-laki dan perempuan. Makin tua umur anak, indeks berat badan (BB) terhadap panjang badan (PB) makin rendah bila dibandingkan dengan standar NCHS7. Namun, rendahnya nilai BB/PB ini tidak melewati minus 1 SD. Atau, dengan kata lain, anak yang diteliti pada umumnya masih berada di area gizi baik (rata-rata ± < 1 SD). Apabila BB/PB lebih rendah dari minus 1 SD, anak dianggap menderita gizi kurang, dan dikeluarkan dari analisis data.

Perkembangan motorik menurut umur dapat dilihat dalam gambar 1a, 1b, dan 1c, sedangkan perkembangan motorik menurut aktivitas dapat dilihat dalam gambar 2. Dalam gambar 2, angka di dalam kurung pada garis horisontal menunjukkan jumlah anak yang diobservasi.

Dalam gambar 1a dapat dilihat bahwa kurang dari 20% anak mampu merangkak pada umur 6 bulan, dan pada umur 18 bulan lebih dari 90% anak sudah dapat berjalan sempurna. Dalam gambar 2, pada umur 12 bulan 90% anak sudah dapat merangkak, 50% anak sudah dapat berjalan 1, dan hanya 10% anak dapat berjalan 2 (sempurna). Gambar 3, dengan analisis menggunakan natural log transformation, perkembangan motorik menurut umur digambarkan dalam persentil, yaitu persentil 10, persentil 50, dan persentil 90. Kurve persentil 10 melukiskan bahwa 90% anak dapat melakukan aktivitas tertentu, dan hanya 10% pada umur yang sama tidak mampu melakukannya. Kurve persentil 50 menerangkan bahwa 50% anak yang berada di atas garis itu mampu melaksanakan aktivitas tertentu. Sebaliknya, 50% anak di bawah garis itu tidak mampu melaksakannya. Dari kurve persentil 90 melukiskan bahwa hanya 10% anak yang mampu melaksanakan aktivitas tertentu, sedangkan 90% anak pada umur yang sama tidak mampu melakukannya.

Gambar 4 merupakan penghalusan dan gambar 3 dengan teknik moving average, sehingga terbentuk kurve halus yang siap dimanfaatkan untuk Kartu Menuju Sehat (KMS) Perkembangan Anak.

Tabel 2 memberikan gambaran tentang perkembangan anak dari umur 3 bulan sampai dengan 18 bulan. Pada bayi baru lahir, anak baru bisa telentang atau telungkup, kemudian dengan bertambahnya umur, kemampuan motorik anak meningkat. Mula-mula, anak mulai belajar duduk, kemudian telungkup, merangkak, berdiri, berjalan, berlari, atau melompat. Pada anak yang sehat dan gizinya baik, umur 18 bulan sudah dapat berjalan sempurna atau lari atau melompat. Semua perkembangan motor milestone ini diilustrasikan dalam 16 gambar yang setiap ibu dapat mengenalinya dengan baik.

Cara mengenali perkembangan motor milestone anak dipergunakan gambar 4 dan Tabel 2 (gambar-gambar perkembangan milestone anak) dengan cara sebagai berikut:

  1. Kepada ibu ditanyakan umur anak dalam bulan. Anak yang umurnya lebih dari 18 bulan tidak dapat menggunakan grafik ini.
  2. Kepada ibu ditanyakan kepandaian anak sekarang dan diminta menunjuk salah satu dari 16 gambar terlampir.
  3. Ditentukan titik perkembangan anak pada perpotongan antara garis umur anak dengan garis motor milestone anak.
  4. Apabila titik perpotongan ini terletak di bawah kurve P10, berarti perkembangan milestone anak sangat terlambat; apabila berada di antara P50 dan P10, berarti perkembangan milestone anak lebih rendah dari rata-rata; apabila berada di antara P50 dan P90 berarti baik; apabila mendekati P90 berarti baik sekali; serta apabila berada di atas P90 maka perkembangan milestone anak amat baik dan jarang ada anak yang seperti ini.

Pada kunjungan bulan berikutnya, ditanyakan kemajuan kepandaian anak, lalu dibubuhkan titik berdasarkan umur dan motor milestone anak seperti cara tersebut di atas. Lalu, dihubungkan titik ini dengan titik sebelumnya dengan satu garis. Apabila garis ini menunjukkan kenaikan dan berada di atas P50, berarti baik, tetapi kalau kenaikannya cenderung menurun berarti perlu dicurigai adanya kemunduran, sehingga perlu diberikan perhatian khusus.

Pembahasan

Data hasil penelitian kroseksional tidak merupakan data yang representatif dari perubahan dalam diri seorang anak10. Walaupun dalam banyak hal perkembangan motorik milestone tidak selamanya mengikuti suatu perubahan kronologi yang ketat, data dari hasil penelitian ini dapat dipergunakan sebagai dasar untuk mengestimasi perkembangan motorik pada umur anak tertentu.

Apabila dibandingkan dengan negara-negara Barat, maka perkembangan motorik milestone pada anak yang diteliti tergolong rendah. Di Amerika, anak mulai berjalan pada umur 11,4--12,4 bulan11, dan anak-anak di Eropa antara 12,4--13,6 bulan12. Sedangkan di Indonesia, pada sampel yang diteliti adalah 14,02 bulan. Informasi yang cukup untuk menerangkan perbedaan tersebut belum ada, namun besar kemungkinan bahwa faktor gizi, pola pengasuhan anak, dan lingkungan ikut berperanan.

Dalam grafik yang disiapkan untuk pembuatan KMS Perkembangan Anak, dibuat untuk umur 3--18 bulan. Pada umur sebelum 3 bulan, anak baru bisa berbaring atau telungkup, sedangkan pada umur 18 bulan dalam keadaan normal anak sudah dapat berjalan sempurna, lari, atau bahkan melompat. Selain itu, yang lebih penting lagi adalah perkembangan kecerdasan terjadi sangat cepat pada umur sampai 18 bulan yang telah diilustrasikan dengan baik pada hasil penelitian sebelumnya di lokasi yang sama11,12.

Pada 1986, sebanyak 334 anak umur 6--60 bulan berpartisipasi di dalam penelitian yang memberikan suplemen makanan rata-rata 300--00 Kal dan 10--20 g protein per hari. Kami kembali meneliti anak yang sama delapan tahun kemudian, yaitu pada 1994, dan menemukan 232 anak (125 yang dahulu mendapat suplemen, dan 106 kontrol) dari 334 anak yang dahulu diteliti. Uji kognitif yang kami lakukan adalah Cognitive Ability Test yang menguji proses kognitif elementari dengan menggunakan komputer yang melingkupi:

  1. Simple and choise reaction time (RT);
  2. Stendberg working memory screening (ST);
  3. Probe recall; dan
  4. Tochiostoscopic threshold (TT)13.

Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa anak-anak yang 8 tahun sebelumnya berumur kurang dari 18 bulan dan mendapat makanan suplemen, pada 8 tahun kemudian lebih baik skornya dari kelompok kontrol. Tetapi, tidak demikian halnya pada anak-anak yang dahulu berumur antara 18--60 bulan. Sesudah memperhitungkan faktor confounder, kami berkesimpulan bahwa suplemen makanan pada waktu bayi adalah faktor yang menyebabkan perbedaan. Hasil penemuan ini mendemonstrasikan bahwa suplemen makanan selama tiga bulan pada waktu bayi berumur kurang dari 18 bulan membawa keuntungan yang nyata terhadap kecerdasan anak sampai 8 tahun kemudian, yang sekarang mereka berumur 9 tahun. Sedangkan terhadap anak yang berumur lebih dari 18 bulan yang sekarang berumur antara 10--12 tahun, keuntungan tersebut tidak nyata11,12.

Kami mempunyai dugaan bahwa perkembangan neurologi sebelum berumur 18 bulan berhubungan erat dengan defisiensi gizi yang dapat bersifat permanen. Umur 18 bulan dari hasil penelitian ini dapat merupakan batas atau cut off point. Hasil-hasil penelitian pada tikus menunjukkan bahwa gizi kurang dapat berakibat defisit myelinisasi pada otak yang irreversibel14. Pada tikus, masa-masa kritis terjadi pada saat umur 8--14 hari, dan berdasarkan periode puncak pertumbuhan maka pada manusia dapat terjadi pada usia 6--18 bulan15. Sehubungan dengan hal tersebut, maka bayi kurang gizi yang tidak mendapat suplemen diduga mengalami defisit myelinisasi.

Berdasarkan keterangan tersebut di atas, maka dalam upaya meningkatkan kecerdasan anak, KMS Perkembangan Anak perlu dikembangkan. Hasil penelitian ini telah memberikan ilustrasi yang baik berupa grafik perkembangan motorik milestone anak dari umur 3 sampai 18 bulan sebagai bahan masukan. Apakah hasil penelitian ini dapat digunakan pada tingkat nasional, perlu pengujian dan ditindaklanjuti. Akan tetapi, kebutuhan terhadap hal tersebut sudah ada dan dirasakan sangat kuat.

Dengan menggunakan KMS Perkembangan Anak, kelak akan mudah diidentifikasi anak-anak yang terlambat perkembangan motorik kasarnya, sehingga anak-anak tersebut perlu perhatian serius. Misalnya, dalam hal makanan, perilaku memberi makan, dan pengasuhan anak agar di kemudian hari anak menjadi lebih cerdas. Selain itu, KMS Perkembangan Anak akan merupakan alat untuk memotivasi ibu dalam berupaya memberikan sesuatu yang terbaik untuk anaknya agar perkembangan motorik anak lebih optimal. Selain itu, juga sebagai alat pendidikan gizi dan kesehatan serta alat pendidikan tentang cara-cara pengasuhan anak. Kurva perkembangan anak yang dipersiapkan ini tidak sulit untuk dimengerti, baik oleh ibu maupun petugas formal ataupun informal, serta sangat relevan dengan program pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Daftar Pustaka

  1. Levitsky, DA. and Strupp, BJ. Functional isolation in rats. In: J. Brozek and B. Schurch (Eds). Malnutrition and Behaviour: Critical assessment of key issues, p. 411-420. Nestle Foundation. Lausanne, Switzerland, 1984.
  2. Pollitt, E. A developmental view of the undernourished child: background and purpose of the study in Pengalengan, Bandung. Europ. J. Clin. Nutr. 54 (Suppl. 2): S2-S10, 2000
  3. Golding, JSR. Mechanical factors which influence bone growth. Eur. J. Clin. Nutr. 48 (Suppl): S178-S185, 1994.
  4. Thompson, RA. Emotion regulation: a thema of search of definition. In: NA. Fox (ed). The Development of Emotion Regulation Biological and Behavioural Considerations. Monographs of the Society of Research into Child Development. 59,2-3,1994.
  5. Birengan, Z, Emde RN, Campos JJ and Applebaum, MI. Affective reorganization in the infant, the mother and the dyad-the role of upright locomotion and its timing. Child. Devi. 66: 499-514, 1995.
  6. Jellife, DB. The assessment of the Nutritional Status of the Community. Geneva: World Health Organization (Monograph 53), 1966.
  7. Hamill, PVV., Johnson CL., Reed RB., and Archer, AF. NCHS growth curvers from children from birth to 18 years. Vital and Health Statistics, Series 11, No. 165. Washington, DC, 1977.
  8. Frankenburg, WK and Dodds, JB. Denver Developmental Screening Test. Colorado: University of Colorado Medical Center, 1969.
  9. Bayley, N. Bayley Scales of Infant Development: Motor Scales. New York: The Psychological Corporation, 1969.
  10. Pollitt, E Husaini, MA Harahap, H., Halati, S., Nugraheni, A. and Sherlock, AO. Stunting and delayed motor development in rural West Java. Am. J. Hum. Biol. 6: 627-635, 1994.
  11. Husaini, MA, Karyadi, L, Husaini, YK., Sandjaja, Karyadi, D and Pollit, E. Developmental effects of short term supplementary feeding in nutritionally at risk Indonesian infants. Am. J. Clin. Nutr. 54: 799-801, 1991.
  12. Pollit, E., Watkins, WE., and Husaini, MA. Three month nutritional supplementation among Indonesia infants and toddlers benefits memory function eight years later. Am. J. Clin. Nutr. 66: 1357-1363, 1997.
  13. Sternberg, S. Memory-Scanning: mental processes revealed by reaction-time experiments. American Scientist 4: 421-457, 1969.
  14. Oski, FA. The non hematological manifestations of iron deficiency. Am. J. Dis. Child. 133: 315-322, 1979.
  15. Voorhess, ML., Stuart, MJ., Stockman, JA and Oski, FA. Iron deficiency anemia and increase urinary norephinephrine exretion. J. Pediatr. 86: 542-547, 1975.