Ken Arok tidak salah memilih Kebo Ijo untuk melaksanakan makar "undercover"-nya. Keris yang dipesannya dari maha-Empu Gandring itu dipinjamkannya kepada Kebo Ijo, yang lalu memamerkan keris itu kepada teman-temannya serta mendiskusikannya. Ken Arok mencuri keris itu dari Kebo Ijo, lalu membunuh Tunggul Ametung, penguasa raja yang beristrikan Ken Dedes superseksi itu. Keruan saja Kebo Ijo langsung diringkus "polisi" setelah ketahuan kerisnya tergeletak di samping baginda yang tidurmati.
Aryo Psi. mungkin sekali tidak keliru memilih calon presiden Amien Rais, yang berkebudayaan Jawa keraton Yogya-Solo. Selain berbudi halus, urmat dan rukun dengan sesama, juga bermoralkan asas kepantasan. Bagi priayi itu, pantas untuk: dhawuh, dangu, duka, drana (memerintah, menanyai, memarahi, dan memberi). Apalagi ia berlatar belakang Muhammadiyah, amar makruf nahi munkar. Pasti tidak korupsi. Ia juga awet ajeg madhep manteb mencalonkan jadi presiden setelah biasa memberi kritik kepada pemerintah sejak zaman Soeharto sampai kini. Ia punya ambisi! Belum lama ini Amien Rais menganjurkan agar rakyat menerima saja bila diberi uang oleh partai politik, tapi jangan mencoblos partainya. Piye ini?! Mungkinkah Aryo secerdas Ken Arok dalam memilih calon presiden?!
Aryo sendiri tidak menyatakan Amien Rais menganjurkan rakyat melaksanakan politik "dualisme" dua muka alias munafik; tapi ia memang punya rumusan sederhana untuk membaca karakter orang. Soalnya, orang Indonesia cenderung untuk mengirimkan sinyal-sinyal bahwa dia itu satria, tetapi diam-diam dia melakukan tindak kekerasan!
Salah satu rumus yang dipakai Aryo Psi. adalah ajaran berbau "rural agraris" dari Stephen Covey, penulis buku best seller berjudul 7 Habits of Most Effective People: Siapa menabur pikiran akan menuai perbuatan/ Siapa menabur perbuatan akan menuai kebiasaan/ Siapa menabur kebiasaan akan menuai karakter/ Siapa menabur karakter akan menuai takdirnya. Astaganaga! Jadi, yang penting dan bisa dikelola adalah kebiasaan. Kalau biasa menyesatkan orang yang menanyakan jalan waktu remajanya dulu, ya, tuanya suka menyesatkan pikiran orang! Kalau biasa berdandan necis waktu kecilnya, ya, dewasanya jadi perfeksionis yang suka menghukum anak buah yang tidak sempurna dalam melaksanakan tugasnya. Kalau waktu anak-anak biasa diasuh oleh beberapa ibu, ya, dewasanya punya istri lebih dari satu. Kalau waktu di rumah orang tua dulu biasa-biasa, ya, dewasanya tak banyak berlagu. Kalau dulu punya kebiasaan "baris terik tempe", ya, dewasanya disiplin kaku. Gitu!
Aryo juga punya rumusan ala petani seperti yang diajarkan oleh Ibu Theresa, yang secara khusus memuliakan rasa damai. Bagi Ibu Theresa, kata kuncinya adalah pelayanan. "Sunyi membuahkan doa/ Doa membuahkan iman/ Iman membuahkan cinta/ Cinta membuahkan pelayanan/ Dan pelayanan membuahkan damai. Itu!
Jadi, kalau kita ingin mendirikan negara yang "tata tentrem kerto raharjo" (damai sejahtera), ya, pilihlah calon presiden yang suka melayani orang lain. Kalau pelayanannya kurang tampak, ya, tiliklah kebiasaannya untuk "lelunga teki-teki/ cegah dhahar lawan sare" seperti kebiasaan pendiri dinasti Mataram: Panembahan Senopati versi serat Wedhatama.
Mendung Belum Tentu Hujan
"Ramalan cuaca memang akurat, tapi ramalan bintang tidak," begitu Aryo bilang, "Apalagi ramalan takdir." Itu dia! Aryotanpa ilmu phrenologymemang melihat Ibu Megawati itu bertipe keibuan, sekalipun ia belum pernah dengar atau lihat gambarnya Ibu Mega menggendong anaknya dulu ataupun cucunya sekarang. Berbaring dan bermain-main bersama anak-anak. "Beliau jelas tidak banyak bicara karena biasa mendengarkan bapaknya dulu pidato; tapi benarkah beliau tidak responsif? Yang jelas, beliau sabar menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan sesuatu; sayang sering dianggap terlalu lambat
." Sekalipun begitu, beliau tidak akan mau menggantikan Pancasila untuk yang lainnya.
Khazanah tentang satria Jawa memang sudah amat mengakar di negeri kita. Sebelas "Juklak Kepemimpinan ABRI" hampir semua dikenal oleh para satria Jawa, termasuk tentu saja Wiranto dan SBY. Wayang purwa, babad, serta berbagai serat-serat lainseperti Tripama dari Mangkunegara IVmerupakan sabdatama bagi para satria TNI khususnya. Bila "social need" menurut David McClelland terbagi atas motif berprestasi, motif berkuasa, serta motif berafiliasi, agaknya pada Wiranto semua itu cukup tinggi. Cuma, mungkin solidaritas internalnya dianggap kurang, terutama karena atribusi eksternalnyakurang rasa bertanggungjawabnya atas kekacau-balauan negara semasa reformasi, terutama seputar lengsernya Presiden Soeharto waktu itu. Sebagai panglima ABRI, mestinya dialah yang paling bertanggung jawab. Beruntung bahwa ia masih berkarakter seperti Gajah Mada, sekalipun kekuasaan berseliweran di depannya, ia tidak melakukan "coup d'etat". Cuma, ya itu, masyarakat masih juga penasaran seberapa besar tanggung jawabnya sebagai Panglima ABRI waktu itu. Kenapa ia tidak "menantang" untuk melakukan pengadilan terbukaseperti yang dilakukan SBY ketika diduga terlibat peristiwa "Kudatuli". Demikianlah, "akuntabilitas" Wiranto masih selalu dipertanyakan sampai sekarang.
Di negeri yang oleh Francis Fukuyama dicap sebagai "low trust society", kredibilitas dan akuntabilitas amat penting. Terutama bila kita ingin membangun karakter bangsa agar dalam situasi bagaimanapun terpuruknya di bidang ekonomi, masih tersisa harapan akan rasa damai. Inilah yang diam-diam dikhawatirkan oleh sebagian dari masyarakat ketika mereka menolak militer, serta mereka yang tersangkut Orde Baru. Sekalipun jauh dari politik "tumpes kelor", hiburan "sing wis yo wis" (yang sudah, ya, sudah), yang biasanya bisa dimanfaatkan orang Jawa, seperti Nelson Mandela, melupakan apartheid dengan "forgive" dan "forget"agaknya tidak terlalu mempan. Kepedulian Wiranto pada VCD AFI Trisakti membuktikan itu.
Akan halnya Hamzah Haz, saya cemaskan kesantunannya yang dicederai oleh jumlah istri yang lebih dari satu, yang tidak mengundang simpati para perempuan Indonesia, apalagi ketika ia berkampanye di luar Jawa, "Sebagai satu-satunya capres luar Jawa, saya berharap WNI luar Jawa memilih saya", bisa jadi bumerang yang mencederai bangsa. Seorang aktivis perempuan asal Amerika tidak percaya seorang yang punya istri lebih dari satu itu tak pernah berdusta selain punya naluri kekuasaan yang besar seperti yang pernah terbaca dalam surat-surat Kartini dulu.
Sampailah kita pada "satria piningit" yang berasal dari kota kecil di Jawa Timur: SBY. Ibu-ibu mengagumi dia karena santunnya dan cakepnya ("bagus"), sekalipun di Jawa tersohor pula ungkapan "adol bagus", maksudnya seorang pria yang lebih mengandalkan ketampanannya ketimbang kualitas karakternya. Memang kok SBY tidak pernah sepi isu, salah satu di antaranya ya perkara agama. Barangkali karena istrinya Kristiani namanya. Untuk menepis isu itu, SBY melakukan umrah persis waktu para calon presiden mestinya mengambil nomor pilpresnya. Agaknya, karena hati-hati (bukan ragu-ragu, lo), SBY tampak berusaha meyakinkan para pemilih bahwa ia Islam beneran. Aryo khawatir SBY kena sindrom Panembahan Senopati.
Panembahan Senopati, pendiri dinasti Mataram itu, memang hidup pada masa peralihan dari kekuasaan Hindu Majapahit ke Kerajaan Islam Demak. Karenanya, ia juga sangat membutuhkan dukungan orang-orang Islam, yang sudah menyebar di sepanjang pesisir. Panembahan Senopati akhirnya menghalalkan segala cara untuk menegakkan kekuasaannya. Ia menyebar isu sudah mengalahkan Kanjeng Ratu Kidul dan bahkan mengawininya. Ketika kesangsian akan ke-Islam-annya masih juga merebak, ia dengan halus memerintahkan putranya supaya membunuh ibunya sendiri, yang keturunan Majapahit, dengan memberi anak itu keris ligan dan memerintahkannya supaya mencari "warangka"-nya, sarungnya. Ia juga memberi gelar dirinya Senopati Ing Ngalaga, Sayidin Panetep Panatagama, Khalifatullah Tanah Jawa
.
Janma Tan Kena Kinira
Sebetulnya orang dilarang menilai orang lain. Ujarannya sih "aja ngilani liyan" (jangan mengukur orang lain); karena pada dasarnya "janma tan kena kinira" (manusia tidak bisa diperkirakan) takdirnya, nasibnya. Seperti Damarwulan dalam legenda, yang hanyalah pemuda pemelihara kuda tapi akhirnya bisa jadi Raja Majapahitdemikianlah keyakinan masyarakat umumnya, Jawa khususnya.
Karenanya, menakar karakter yang kita lakukan hari ini tidaklah dimaksudkan untuk melanggar wewaler-wewaler di atas.
Semoga ada hikmahnya.