daftar isi


Cukup Satu Putaran
  Edisi Khusus Pemilu Presiden

Laporan Utama

Cukup Satu Putaran

Mega-Hasyim ingin menang langsung di putaran pertama. Niat yang perlu diiringi kerja keras.


SEANDAINYA sejak terpilih sebagai presiden pada Juli 2001 Megawati Soekarnoputri rajin menulis kolom di media massa, mungkin ia bisa merebut lebih banyak simpati dalam pemilihan presiden pada 5 Juli nanti. Apalagi kalau yang ditulisnya kolom sepak bola—olahraga yang berjibun penggemarnya di negeri ini—seperti yang dilakukannya di Koran Tempo, Senin dua pekan lalu. Ia—mungkin bersama sejumlah orang yang diajaknya berdiskusi—menulis riuh-rendahnya Piala Eropa, sekaligus menyentil prestasi sepak bola Indonesia yang jalan di tempat. Ia sedikit terpeleset ketika menulis bahwa generasi Ramang, Iswadi Idris, Sutjipto Soentoro, Nobon dkk. berhasil menahan tim kuat Uni Soviet dengan 0-0 di Olimpiade Melbourne. Padahal prestasi itu diukir tahun 1956, ketika Ramang bermain bersama Maulwi Saelan, Van der Vien, Djamiat, Liong Houw, dan The San Liong. Angkatan Sutjipto, Iswadi, dan Nobon lahir setelah angkatan Ramang. Tapi kesalahan kecil ini bolehlah diabaikan, mengingat Presiden Megawati baru sekali menulis tentang sepak bola.

Di musim kampanye ini, Mega memang banyak melakukan hal yang jarang ia lakukan. Ia dulu jarang menulis di koran, ia jarang mau diwawancarai media massa, ia jarang mengunjungi terminal bus dan pasar becek. Sekarang, ini semua dijalaninya dengan bersemangat dan antusias.

Awal Juni, misalnya, Mega mendatangi Terminal Bus Pulo Gadung di Jakarta Timur. Putri Bung Karno ini bersenda-gurau dengan para penumpang di atas bus kota. Dari situ, di hari yang sama, ia bertandang ke Pasar Koja di Jakarta Utara. Ratusan pedagang mengelu-elukannya penuh gembira. Ia juga belanja di Pasar Jatinegara, Jakarta Timur, membeli sekilo kacang mete.

Sayang, ia tidak jadi datang ke Pasar Kumbasari di Denpasar. Padahal dia bisa membeli baju barong atau sarung Bali yang dingin itu di sana. Rupanya, Komisi Pemilihan Umum Daerah Bali melarangnya berkampanye di pasar. Lo, kenapa? Dikhawatirkan kedatangan Mega mengganggu aktivitas pedagang, begitu alasan pengawas pemilu di Pulau Dewata itu. Tak masalah. Mega terus menggelar safari dari pasar ke pasar. Minggu dua pekan lalu, bersama rombongannya, ia masuk ke Pasar Bringharjo di Yogyakarta. Gegap-gempitalah pengunjung pasar mendapati presidennya di sana.

Pasar, terminal, adalah "rumah" wong cilik, masyarakat papa yang seharusnya dibela pemerintah. Kaum cilik inilah yang dalam pemilu lima tahun yang lalu menentukan kemenangan PDI Perjuangan. Dengan slogan partai yang membela wong cilik, PDI Perjuangan merebut suara terbanyak dalam Pemilu 1999, yaitu 34,7 persen. Dan kelihatannya sekarang pun Megawati berharap dukungan masyarakat yang disebut-sebut sebagai kaum "akar rumput" ini. Maklum, dalam pemilu legislatif 5 April lalu, perolehan suara Partai Moncong Putih terjun bebas ke bilangan 19,4 persen saja. Artinya, partai itu kehilangan lebih dari 15 persen suara dan harus kalah dari Partai Golkar dalam pemilu 5 April lalu.

Ada analisis, sejumlah suara kaum "akar rumput" yang dulu menyokong PDI Perjuangan sudah pindah ke lain hati. Mereka tidak merasa dibantu, malah makin sulit hidup. Harga kebutuhan pokok meroket, biaya pendidikan dan kesehatan mahal, penggusuran terjadi di mana-mana.

Di Jakarta saja, sepanjang tahun 2003, ribuan orang kehilangan tempat tinggal karena "tersikut dampak pembangunan". Di Jembatan Besi, Tambora, 600 jiwa kehilangan tempat tinggal. Di Sunter, Tanjung Priok, sekitar 500 jiwa pindah berteduh di bawah langit. Di Rawa Bagus, Cengkareng, 6.000 jiwa diusir dari rumahnya—yang sering kali berdiri di atas tanah negara. Di Tanjung Duren, Jakarta Barat, sekitar 600 jiwa juga tidak punya tempat menetap lagi karena digusur. Padahal, korban gusuran ini mengaku mencoblos "banteng gemuk" pada Pemilu 1999 lalu. Dengarlah kata Yati, warga korban gusuran yang kini menetap di halaman kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia di Jalan Latuharhary, Jakarta Pusat. Ia sudah patah arang dengan pemerintah. "Katanya partai wong cilik. Mana buktinya?" ujarnya jengkel dan putus asa, "Saya kira nanti bakul nasi Megawati akan diaduk-aduk."

Suara dari rakyat seperti Yati bukan tidak didengar oleh para petinggi PDI Perjuangan. Orang partai itu cepat sadar bahwa mereka tak boleh lagi kehilangan suara dari kalangan pinggiran ini dalam pemilu presiden nanti. Ketika ratusan warga di bekas Bandara Kemayoran, Jakarta Pusat, hendak dibuldoser, akhir Mei lalu, buru-buru sejumlah petinggi partai itu datang menolong. "Tolong Pak Sony Keraf menelepon Bu Mega, minta penggusuran ini ditunda," pinta Rumi, seorang warga, kepada Sony Keraf, bekas menteri yang juga sa-lah seorang pengurus PDI Perjuangan, yang ikut datang ke sana. Akhirnya, eksekusi ditunda.

Dan pastilah PDI Perjuangan dan Mega yang mendapat nama dari penundaan itu. Keberpihakan begini harus ditunjukkan lebih sering. Jika tidak, merosotnya suara PDI Perjuangan dalam pemilihan legislatif lalu bisa-bisa "menular" pada perolehan suara Megawati dan Hasyim Muzadi. Apalagi pasangan nasionalis-agama ini mendapat tantangan serius dari kandidat partai pemenang pemilu: Wiranto-Salahuddin Wahid. Partai Golkar menempati posisi pertama dalam pemilu legislatif dengan 21,18 persen suara.

Kedua kandidat itu bersaing ketat, setidak-tidaknya menurut jajak pendapat yang digelar oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada 9-15 April lalu. Dengan responden dari seluruh provinsi di Indonesia, lembaga ini menjaring 1.216 orang. Hasilnya perlu direnungkan oleh PDI Perjuangan: jumlah orang yang menolak Mega kian hari kian banyak. "Dari 69 persen pada Maret menjadi 74,8 persen pada April," kata Deny J.A, Direktur Eksekutif LSI.

Hasil jajak pendapat yang digelar LSI bersama International Foundation of Electoral System (IFES), Mei lalu, juga sama saja. Survei digelar di 3.000 desa dengan 2.000 responden. Hasilnya, posisi Mega masih jauh di bawah Susilo Bambang Yudhoyono dan cuma unggul satu angka dari Jenderal (Purn.) Wiranto, yang sebelumnya sepi pemilih.

Survei yang digelar Soegeng Sarjadi Syndicated pada 21 Mei-1 Juni lalu, dengan 5.000 responden dari 17 provinsi, menunjukkan bahwa Mega-Hasyim cuma didukung 13,78 persen responden. Duet ini terperosok di bawah pasangan Amien Rais dan Siswono Yudho Husodo, yang meraih 19,70 persen. Di urutan teratas adalah duet Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla, dengan 46,64 persen.

Tapi jangan anggap enteng suara pendukung Hasyim Muzadi, yang digandeng Mega menjadi calon wakil presiden. Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama itu adalah pemimpin sekitar 40 juta umat. Hasyim kini rajin menemui para kiai pendukungnya. Jika kiai sudah oke, tentu para santri juga akan manut Pak Kiai—jika paradigma lama di NU masih berlaku. Pasangan ini masih disokong oleh Mega Center, yang melibatkan sejumlah menteri, petinggi partai, sejumlah pengamat politik dan ekonomi, juga tokoh wartawan. Tjahjo Kumolo, salah seorang pengurus Mega Center, mengklaim bahwa tim ini telah membiakkan seruan pilih Mega-Hasyim ke seluruh negeri.

Masih ada tim Mega for President yang diketuai Sutjipto, Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan. Jangan juga dilupakan tim kampanye Mega-Hasyim, yang merupakan gabungan dari tim sukses Mega dan tim sukses Hasyim Muzadi. Sejumlah kiai NU, seperti Khatib Syuriah NU Said Agil Siradj dan beberapa kiai, aktif di tim gabungan ini.

Lobi tim gabungan ini melambung jauh hingga ke kalangan pesantren. Mereka aktif mendorong acara istigasah. Tanggal 1 Juni lalu, Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, mengundang ratusan ulama dalam acara bertajuk "Silaturahmi Alim Ulama Se-Eks Keresidenan Kediri". Pengasuh dan sesepuh Lirboyo, Kiai Haji Idris Marzuki, meminta semua warga NU mendukung Mega-Hasyim.

Itu yang Islam. Ada lagi sokongan dari non-Islam. Partai Damai Sejahtera juga ikut berbaris di belakang Mega-Hasyim. Partai yang didirikan oleh kalangan pemeluk Kristen ini, yang memperoleh 1,67 persen suara pada pemilu 5 April lalu, sempat menggelar deklarasi mendukung paket ini.

Dengan sokongan itu, Mega hakulyakin bisa memenangi pemilu presiden 5 Juli dalam satu putaran. Artinya, dia yakin bisa mengumpulkan lebih dari 51 persen suara plus lebih dari 20 persen suara di lebih dari 16 provinsi. Keyakinan "berani" itu disampaikan Mega dalam kampanye di sejumlah tempat. Selasa pekan lalu, misalnya, di Bandar Lampung, Mega mengklaim, "Dalam pemilihan presiden, saya bersama Pak Hasyim yakin sekali menang di satu putaran." Sekitar 5.000 pendukung yang tumpah di acara ini bertempik-sorak. Sejumlah petinggi PDI Perjuangan yang ikut di situ meninjukan tangan ke langit sembari memekik, "Merdeka..., merdeka."

Ada yang percaya, ada juga yang ragu. Sejumlah kalangan menilai cita-cita menang di putaran pertama itu seperti "pungguk merindukan bulan". "Dari mana mereka menghitungnya?" tanya bekas Wakil Ketua Badan Penelitian dan Pengembangan PDI Perjuangan, Sukowaluyo Mintohardjo, yang kini aktif di Lembaga Kajian Demokrasi(LKD), sebuah lembaga yang juga rajin melakukan survei pemilu.

Dukungan NU juga tidak sepenuhnya bulat. Massa NU tak utuh menyokong duet Mega-Hasyim. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), yang dibidani oleh NU, malah mendukung paket Jenderal (Purn.) Wiranto dan Salahuddin Wahid, adik Abdurrahman Wahid, tokoh paling kesohor di kalangan nahdliyin. Abdurrahman merestui Salahuddin maju mendampingi Wiranto, dan bersumpah tak sekuku pun merestui Hasyim Muzadi mendampingi Mega.

Serangan ke paket Mega-Hasyim juga datang dari sejumlah kiai yang menerbitkan fatwa haram memilih wanita menjadi presiden. Fatwa itu keluar setelah pertemuan tertutup di kediaman Kiai Haji Mas Subadar, pengasuh Pondok Pesantren Raudatul Ulum, Pasuruan, Jawa Timur, awal Juni ini. "Dalam ajaran ahlussunnah waljamaah, pemimpin tidak boleh perempuan, kecuali darurat. Memilih dan mencalonkan perempuan itu haram hukumnya," begitu alasan Kiai Haji Mas Subadar.

Sukowaluyo malah meramalkan, dalam pemilu presiden nanti, sejumlah pendukung Mega bakal pindah kapal jika tim Mega-Hasyim tak serius melakukan penggalangan. Sukowaluyo ada benarnya. Survei LSI dan IFES mencatat bahwa sekitar 20-26 persen pendukung Mega pindah ke Susilo Bambang Yudhoyono, dan dua persen berpindah ke saku Wiranto.

Dari kubu pendukung Mega, Sutjipto tak percaya dengan angka-angka itu. Perolehan suara PDI Perjuangan yang merosot pada pemilu legislatif lalu, menurut dia, karena basis "akar rumput" partainya terkena "serangan fajar" sebelum masuk ke bilik suara. Maksudnya, ada partai lain yang menggelontorkan sejumlah iming-iming sebelum masuk bilik suara. Tapi, dalam pemilu presiden, Sutjipto yakin bahwa semua warga PDI Perjuangan yang tadinya melompat pagar bakal balik kandang.

Bagaimana dengan hasil survei yang kurang menggambarkan analisis Sutjipto? Jangan-jangan surveinya yang keliru, kata sebuah sumber. Sejumlah peneliti juga meragukan hasil jajak pendapat beberapa lembaga survei itu. "Saya meragukan metodologi jajak pendapat itu," kata Syamsuddin Haris, pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Menurut Syamsuddin, dari lima paket presiden yang ada, justru basis politik Mega-Hasyimlah yang paling solid.

Syamsuddin mungkin benar. Tapi, bisa dicatat, hasil jajak pendapat beberapa lembaga survei itu sama persis dengan hasil pemilu legislatif yang dimenangi Partai Golkar. Jelas pemilu presiden 5 Juli nanti akan berbeda karena orang tidak memilih partai, tapi memilih orang. Maka, sudah benarlah kiat para petinggi Partai Moncong Putih yang sekarang kian rajin menjenguk wong-wong cilik di mana saja. Soalnya tinggal adakah kaum pinggiran—di terminal, di pasar, di tanah-tanah gusuran—itu bersedia mendukung kembali presiden yang dulu pernah menjadi tumpuan harapan untuk memperbaiki nasib mereka.





Advance Search


Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

   



Copyright @ tempointeraktif