Bila tidak tancap gas penuh, Hamzah Haz-Agum Gumelar bakal sulit dalam pemilu 5 Juli.
DUET yang satu ini mendaftar pada saat-saat terakhir. Ketika masa pendaftaran calon presiden-wakil tersisa sehari, barulah Hamzah Haz dan Agum Gumelar bertandang ke Kantor Komisi Pemilihan Umum di Jalan Imam Bonjol, Jakarta. Andaikan ini pertandingan sepak bola, pasangan lain sudah melakukan pemanasan, duet ini baru sibuk memilih kostum yang cocok. "Ibaratnya, ini pasangan injury time," kata Jelly Tobing, penabuh drum kawakan yang bergabung dalam tim sukses Hamzah-Agum.
Injury time adalah istilah sepak bola untuk menit-menit tambahan menjelang akhir pertandingan. Dan pasangan ini memang memerlukan "menit-menit" lebih panjang untuk meyakinkan publik agar memilih mereka. Sebab, setidaknya sementara waktu ini, belum satu pun jajak pendapat yang hasilnya mengunggulkan pasangan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan dan Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia ini. Hamzah-Agum dalam semua polling pemilubaik yang digelar koran, televisi swasta, Lembaga Survei Indonesia (LSI), International Foundation of Election Systems (IFES)masih bergulat di urutan paling belakang.
Agaknya, meminjam istilah sopir taksi, pasangan ini perlu tancap gas untuk mengejar setoran. Suasana mengejar setoran itu, sayangnya, belum terlihat di kantor Dewan Pimpinan Pusat Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di Jalan Diponegoro, Jakarta. Belum tampak kesibukan besar layaknya menghadapi hajatan agung. Ali Abdillah, koordinator harian tim sukses, membenarkan bahwa persiapan timnya kurang mantap. "Koordinasi masih lemah," katanya. Akibatnya, dalam be-berapa acara kampanye bersama lima calon presiden, tim sukses Hamzah-Agum tampak paling tidak siap. Abdillah mengeluhkan kurangnya logistik kampanye seperti bendera, foto calon, stiker, dan brosur.
Di kantor PPP itu tersedia etalase penjualan aneka atribut, mulai dari pin, stiker, dan kaus. Tumpukan kaus Hamzah-Agum teronggok di sana. Selembar kaus dijual Rp 10 ribu. Tapi peminatnya masih sepi. "Sehari belum tentu laku satu," kata Yuda, petugas penjaga penjualan atribut.
Maklum, rakyat biasanya datang ke panggung kampanye untuk kaus gratis, bukan membeli. Kaus bisa jadi daya tarik. Kalau itu tak ada, mungkin janji-janji pemilu bisa menarikwalaupun belum tentu dilaksanakan. Agum Gumelar berjanji menambah anggaran bidang pendidikan. Sedangkan Hamzah, di Banjarmasin, berjanji menghidupkan Departemen Penerangan, lembaga pengontrol pers yang "ampuh" pada masa Soeharto. "Sebaiknya Departemen Penerangan memang dikembalikan. Rakyat perlu penerangan dan media massa juga perlu dikontrol," kata Hamzah. Media massa, katanya, perlu pembinaan mengenai nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa.
Anda boleh setuju, boleh juga "miris". Tapi persoalan Hamzah-Agum yang serius adalah perginya tokoh-tokoh andalan PPP untuk mendukung kandidat yang lain. Alihardi Kiai Demak dan Rusydi Hamka, misalnya, menclok di tim sukses Amien Rais-Siswono Yudho Husodo. Kemudian Mudrick Sangidoe, koordinator PPP Eks-Karesidenan Surakarta, terang-terangan bergabung dengan tim sukses Yudhoyono-Jusuf Kalla. Bagi Mudrick, mendukung Yudhoyono bukan berarti mengkhianati PPP. "Ini semata karena rendahnya daya jual Hamzah," kata Mudrick, yang pernah ngetop dengan gerakan melawan kuningisasi Golkar pada zaman Orde Baru.
Mudrick meragukan keteguhan Hamzah. Dia mengatakan bahwa sejak jauh hari tokoh-tokoh PPP sudah mendorong Hamzah untuk maju sebagai calon presiden. Namun Hamzah lebih suka menunggu pinangan kubu PDI Perjuangan untuk meneruskan duet dengan Megawati Soekarnoputri. Hamzah baru bergegas setelah pinangan yang ditunggu-tunggu ternyata diantar ke tempat yang lain, tempat K.H. Hasyim Muzadi.
Tapi salah prediksi dalam politik itu sering terjadi. Hamzah pernah mengatakan bahwa jika PPP meraih suara 20 persen dalam pemilu legislatif, dia akan maju ke pentas pencalonan presiden. Faktanya, suara PPP hanya 8,32 persen. Hamzah tetap maju akhirnya, dan dia memang berhak karena batas pengajuan calon presiden adalah 3 persen suara. Walaupun orang, seperti Mudrick Sangidu, mencap sikap maju-mundur ini sebagai hal yang tidak konsisten.
Lalu, bagaimana dengan Agum Gu-melar?
Sepintas, banyak kalangan menilai daya jual jenderal purnawirawan ini relatif lebih tinggi dibanding Hamzah Haz. Seabrek jabatan pernah dia genggam. Agum pernah menjabat Komandan Kopassus, Pangdam Wirabuana, Menteri Perhubungan, Ketua Umum PSSI, Ketua Umum KONI, tokoh adat Sunda, sampai pembina Srimulat.
Otomatis, rentang jabatan ini membuat area pergaulan Agum lumayan luas. Hal ini pula yang membuat Agum menyambangi masyarakat lebih sering ketimbang Hamzah Haz. Dengan semangat khasnya, Agum menjadi wasit pertandingan sepak bola, menyanyikan lagu Semut Merah karya Obbi Messakh. Dia juga memandikan pusaka kuno milik sesepuh Sunda.
Namun lihai jadi wasit dan merdu menyanyikan lagu Semut Merah saja belum cukup. Agum tetap tak bisa terlalu banyak berharap mengail suara dari kalangan tentara. Seperti diungkapkan Putra Astaman, Ketua Persatuan Purnawirawan dan Warakawuri ABRI (Pepabri), keluarga militer sepakat mengarahkan dukungan pada Wiranto dan Yudhoyono. Agum sendiri mengaku tidak cemburu atas sikap Pepabri itu. "Kita serahkan saja semuanya kepada rakyat. Mereka yang memilih," kata Agum.
Ikrar Nusa Bakti, pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), merasa maklum jika Pepabri tidak terlalu melirik kehadiran Agum. Sebab, "Posisinya cuma sebagai calon orang kedua," kata Ikrar. Persoalan akan lain bila Agum sejak awal maju sebagai calon presiden.
Sentimen kedaerahan yang diusung Agum pun tak akan banyak membawa manfaat. Masyarakat Sunda, sumber suara yang dibidik Agum, tidak bakal serta-merta mencoblos nomor 5 hanya karena latar belakang Agum yang kelahiran Tasikmalaya itu. "Ini zaman baru, Bung," kata Ikrar. Masyarakat Sunda sudah tidak lagi homogen dan satu warna. Ada begitu banyak percampuran suku dan tentu saja percampuran interest politik.
Benar, Ikrar mengakui, Agum memiliki karisma dan daya jual. Tapi dalam soal berpasangan dengan Hamzah Haz, nilai jual "kujang Priangan" ini tampaknya tidak banyak membantu. Pada pasangan Mega-Hasyim, Ikrar mencontohkan, masing-masing calon itu memiliki basis massa dan mewakili simbol nasionalis dan santri. Pasangan Yudhoyono-Kalla mewakili figur pemimpin Jawa dan non-Jawa. Nah, kaitan dengan massa semacam ini sama sekali tidak didapatkan pada kasus Hamzah-Agum. "Masing-masing tidak punya faktor komplementer untuk saling melengkapi," kata Ikrar.
Ikrar punya tips. Mengingat sempitnya peluang, sebaiknya Hamzah Haz kembali pada komitmen tak akan maju bila perolehan suara di bawah 20 persen. Lebih baik segala sumber daya, waktu, dan dana kampanye presiden, yang menurut ketua pemenangan pemilu PPP Endin Soefihara sampai Rp 500 miliar, dipusatkan untuk membangun citra PPP yang sangat perlu dipermak dengan menurunnya suara pada pemilu lalu.
Pendapat boleh saja. Boleh saja orang kurang memperhitungkan pasangan ini, seperti boleh juga orang yakin pasangan ini akan melaju. Sukardi Rinakit, Direktur Soegeng Sarjadi Syndicated, lembaga jajak pendapat, termasuk yang kurang memperhitungkan peluang pasangan Hamzah-Agum. "Ah, yang ini sih enggak perlu dibahas," katanya.
Yang tertarik membahas antara lain Mahfud Md., Wakil Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Kebangkitan Bangsa. Dia menilai kehadiran Hamzah bisa memecah suara umat Islam. "Basis suara Hamzah dan Amien sama-sama dari kalangan Islam," kata Mahfud dalam sebuah seminar di Surakarta, Jawa Tengah. Begitu Hamzah masuk bursa calon presiden, suara umat Islam terpecah. Akibatnya, Amien tak akan sanggup menembus pemilu presiden putaran kedua, September 2004 nanti.
Siapa yang untung jika Amien benar dijegal? Mahfud kembali menjelaskan, Hamzah Haz telah menjalin kesepakatan politik dengan kubu PDI Perjuangan. Dalam putaran kedua nanti, Hamzah telah berjanji memberikan suara pendukungnya kepada Megawati. "Jika Mega menang," kata Mahfud, "kubu Hamzah akan diberi kompensasi jabatan di dalam jajaran kabinet baru."
Suara miring Mahfud segera dibantah kubu PDI Perjuangan. Sebagai ketua umum partai dengan perolehan suara yang lumayan, Hamzah berhak maju sebagai calon presiden. "Sikap Pak Hamzah tidak dipengaruhi siapa pun. Tidak ada deal politik apa pun," kata Ketua PDI Perjuangan Gunawan Wirosarojo.
Hamzah Haz pun tak ketinggalan melontarkan bantahan. "Tuduhan Pak Mahfud itu ndak perlu ditanggapi," katanya. Bila tudingan Mahfud benar, Hamzah menambahkan, pihaknya tak perlu lagi repot-repot menggelar kampanye yang ongkosnya memang supermahal. Hamzah bertanya keheranan, "Kalau memang ada main mata, kenapa enggak sedari sekarang saja? Kenapa harus susah payah?"
Namun rumor menyebar secepat kuman yang mengendarai udara. Biarpun bantahan telah dilansir, di Jawa Tengah, di Yogyakarta, hari-hari ini tetap bermunculan guyonan yang berisiko membuat orang kepeleset. "Bersama Hamzah-Agum, Kita Coblos Nomor 2".