Amien-Siswono berkampanye sangat kreatif. Mereka mesti merebut suara pemilih berayun dan PKS.
DI Pasar Flamboyan, Pontianak, Kalimantan Barat, Kusnasriyati Sri Rahayu cekatan membeli sayur-mayur dan aneka penganan. Suara soprannya yang agak melengking kerap terdengar ketika menawar barang dan menyapa pedagang. "Istri saya ramai sekali, ya?" kata Amien Rais, sambil tersenyum simpul mengomentari Bu Kuspanggilan Kusnasriyati.
Calon Presiden dari Partai Amanat Nasional (PAN) itu sendiri duduk santai bersama pasangannya, Siswono Yudho Husodo, di sebuah kedai kopi. Gerak tubuh mereka alamiah. Keduanya tak canggung menyantap telur rebus dan meneguk kopi dari gelas kumal yang mungkin telah mampir di bibir ribuan orang, sambil berbincang dengan para pedagang.
Berkunjung ke pasar tiba-tiba seperti acara wajib para kandidat presiden menjelang hari pemilihan, 5 Juli mendatang. Namun banyak yang luput mengamati, Amien Rais merupakan calon presiden yang pertama kali menjalankan "tradisi" baru itu di jagat politik Indonesia.
Tak cuma blasak-blusuk di pasar tradisional, duet Amien-Siswono juga rajin melakukan aneka aktivitas menarik selama masa kampanye. Beberapa kali mereka menghadiri acara serius seperti debat calon presiden, menjadi khatib salat Jumat, dan mencangkul sawah bersama para petani.
Di kesempatan lain mereka terlibat kegiatan santai bersama anak-anak muda. Bermain bola dengan awak band Slank, misalnya. Juga menyaksikan acara Akademi Fantasi Indosiar (AFI) yang sangat populer di kalangan remaja. Atau nonton bareng pertandingan sepak bola Piala Eropa bersama pengamen jalanan di Gelanggang Remaja Bulungan, Jakarta Selatan.
Boleh dibilang Amien-Siswono banyak memelopori cara berkampanye baru. Tentu tanpa meninggalkan model lama: berpidato di lapangan terbuka dengan massa meneriakkan yel-yel yang monoton sambil berjoget dangdut. Tak kurang dari pengamat politik Eep Saefulloh Fatah memuji kreativitas kampanye mereka. "Keduanya sadar betul penggunaan multimedia sebagai alat kampanye," katanya.
Berangkat dari basis dukungan politik yang sangat minim ketimbang calon presiden lain, Amien-Siswono agaknya paham mereka harus bekerja keras untuk bisa lolos ke putaran kedua pemilihan presiden. Salah satunya dengan menggelar kampanye atraktif. PAN, yang mengusung mereka, hanya mendulang 7,3 juta suara dalam pemilu legislatif lalu. Bandingkan dengan Golkar yang meraih 24,5 juta dan PDI Perjuangan yang memperoleh 21 juta suara.
Tentu limpahan suara dari beberapa partai kecil yang belakangan mendukung pasangan ini patut diperhitungkan. Namun rezeki nomplok dinikmati pula oleh kandidat lain. Pasangan calon presiden dan wakil presiden yang diajukan Golkar dan PDI Perjuangan, misalnya, bakal menerima limpahan suara dari warga Nahdlatul Ulama (NU).
Ibarat pertempuran, penguasaan wilayah pasangan Amien-Siswono juga masih sangat terbatas. Setelah menjalani kampanye di beberapa daerah, Amien baru optimistis bisa menembus peringkat dua besar di Sumatera. Sayangnya, jumlah pemilih di Sumatera hanya 18 persen dari jumlah pemilih di seluruh Indonesia.
Sebaliknya di Pulau Jawa, "habitat" 62 persen pemilih, Amien mengaku masih keteteran. Ia cuma merasa agak optimistis di Jakarta dan Yogyakarta, yang jumlah pemilihnya tipis. Dalam pemilu lalu PAN menduduki peringkat kedua di Yogya. Adapun di Jakarta, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang menjadi kampiun. Agaknya Amien berharap, pemilih PKS di Jakarta akan menjadi penyokongnya dalam pemilu presiden.
Di Jawa Barat, tempat Golkar mendominasi hasil pemilu legislatif lalu, angin segar memang sedikit bertiup ke arah pasangan itu. Terutama setelah mengalirnya suara dari organisasi Islam yang berbasis di tanah Pasundan, seperti Persatuan Islam (Persis) dan Badan Kerja Sama Pondok Pesantren (BKSPP). "Saya gembira dengan dukungan itu," kata Amien.
Dukungan dari organisasi massa Islam kepada Amien-Siswono merupakan hasil gerilya Dien Syamsudin. Tokoh Muhammadiyah ini memang punya tugas mendekati organisasi massa berbasis Islam. Posisinya sebagai Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), yang berhubungan erat dengan organisasi-organisasi itu, tentu memudahkan pekerjaannya.
Bambang Sudibyo, direktur kampanye Amien-Siswono, juga menyebut ada jaringan Muhammadiyahorganisasi Islam terbesar kedua di Indonesia setelah NU, tempat Amien pernah menjadi ketuayang siap mengusung jagoannya. Dari sini diperkirakan suntikan lima juta suara. Tambahan suara lainnya diharapkan mengalir dari jaringan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) yang dipimpin Siswono. Organisasi massa ini diharapkan menyumbang sedikitnya empat juta suara.
Begitupun, duet Amien-Siswono dinilai masih berada di posisi underdog dibandingkan dengan kandidat lain. Apalagi hitungan matematis yang diajukan Bambang bisa menjebak. Suara warga Muhammadiyah sejak era Orde Baru diketahui tak pernah bisa padu untuk kepentingan politik. Jaringan HKTI juga diragukan efektivitasnya mendulang suara.
Jajak pendapat yang digelar Lembaga Survei Indonesia (LSI) dan Metro TV akhir Mei lalu pun menyebut duet Amien-Siswono cuma menempati peringkat keempat dari semua kandidat. Mereka hanya dipilih oleh 8,6 persen responden yang tersebar di 32 provinsi. Tertinggal jauh dari pasangan SBY-Kalla, yang menduduki urutan pertama dan dipilih oleh 49,3 persen responden.
Dan survei adalah persoalan popularitas. Berbeda dengan pada masa awal reformasi, ketenaran Amien kini agak meredup. Ia tampaknya juga kesulitan melepaskan diri dari stigma buruk yang melekat selama ini. "Amien sering dinilai kurang melindungi minoritas dan plin-plan sebagai pemimpin," ujar Eep.
Jadi, masih adakah harapan bagi duet Amien-Siswono? "Peluang mereka kecil, tapi bukan tak ada," Eep menambahkan. Di luar captive market-nya di organisasi dan kelompok Islam, pasangan ini mesti jeli membidik pasar politik yang lain. Dan pasar itu ternyata masih cukup ramai.
Menurut Eep, survei yang digelar LSI menyebut 70 persen pemilih sudah menentukan sikap sebelum pemilihan presiden digelar. Ibaratnya mereka adalah pelanggan tetap yang sudah tahu siapa pasangan yang bakal dipilih pada 5 Juli mendatang.
Cuma 30 persen responden yang masih menunggu dan menimbang-nimbang pilihannya. Mereka ini disebut sebagai swing voters alias pemilih berayun. Mereka adalah barang kecil yang mahal. Sebagian besar mereka berada di perkotaan, terutama di Jawa. Di segmen inilah duet Amien-Siswono masih punya peluang mengail simpati dan dukungan.
Ibarat bisnis media, segmen pemilih berayun itu adalah pembeli eceran yang mesti dirayu dengan cara khusus yang jitu. Soalnya, mereka ada yang melek politik, bahkan kritis terhadap setiap pasangan calon presiden dan wakil presiden yang beredar sekarang. Ada pula yang justru tak terlalu peduli politik.
Citra pasangan ini sebagai duet sipil yang bersih bisa membantu menyedot suara segmen pemilih itu. Apalagi dengan berkembangnya kekhawatiran bahaya militerisme karena hadirnya calon presiden yang berlatar belakang baju hijau. Namun itu saja belum cukup.
Kepada pemilih berayun yang melek politik, duet Amien-Siswono mesti menjelaskan arah kebijakan ekonomi, politik, dan hukum secara rinci dan meyakinkan. Contohnya kebijakan tentang perburuhan dan pengembangan usaha kecil dan menengah. Di sini Siswono menjadi modal penting. "Siswono punya citra sebagai administrator dan manajer, melengkapi Amien yang solidarity maker," kata Eep.
Di era Soeharto, Siswono pernah dua kali menjadi menteri. Sekali sebagai Menteri Negara Perumahan Rakyat, dan sekali sebagai Menteri Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan. Ketika itu kehadirannya pun lebih mencerminkan sosok teknokratorang yang terampil dan punya keahlianketimbang menteri yang punya dukungan massa dan bargaining politik.
Sebaliknya, kepada pemilih berayun yang tak peduli politik, pendekatan semacam datang ke konser AFI mungkin sudah tepat untuk mendongkrak popularitas. Dan sejauh ini harus diakui, Amien-Siswono adalah pasangan yang paling gencar mendekati segmen pemilih berayun ini.
Kampanye mereka yang bervariasi dan bersifat multimedia adalah buktinya. "Cara berkampanye seperti itu sudah tepat," ujar Eep. Untuk merebut pembeli eceran, Eep menambahkan, bila perlu memang dengan membuat gebrakan yang jorjoran.
Terakhir, tapi tak kalah penting, adalah merebut suara pemilih PKS. Dalam pemilu legislatif lalu partai ini meraih 8,3 juta suara. Setelah tak mengajukan calon presiden sendiri, sampai sekarang partai ini belum memutuskan siapa calon presiden dan wakil presiden yang mereka rekomendasikan.
Di atas kertas, Amien mestinya lebih mudah menyedot suara pemilih PKS ketimbang kandidat lain karena afiliasi Islamnya. Tambahan suara dari PKS boleh jadi akan menjadi roket pendorong yang melontarkan duet Amien-Siswono ke putaran kedua pemilihan presiden. n