Artikel KlinikNet

Aspartam Si Manis yang Bukan Gula

Aspartam adalah pemanis nutritif yang terbuat dari asam amino yang juga terdapat pada bahan makanan pada umumnya.


Mobilitas kehidupan penduduk di kota-kota besar yang kian meningkat, menuntut segala sesuatu berjalan dengan cepat dan praktis. Ditunjang dengan semakin membaiknya kesejahteraan serta arus modernisasi, tanpa disadari berpengaruh terhadap gaya hidup termasuk kebiasaan makan. Pola makan masyarakat, khususnya kalangan pekerja di perkotaan yang sedikit memiliki waktu luang, berubah dari pola makan tradisional yang kaya serat ke pola makan modern yang banyak mengandung lemak dan gula. Menjamurnya beragam restauran siap saji turut menunjang kondisi tersebut. Dengan alasan kepraktisan orang-orang lebih suka membeli makanan semacam ini ketimbang memasak makanan sendiri.

Konsumsi lemak dan gula yang berlebihan tanpa diimbangi olah raga yang cukup tersebut berefek negatif terhadap kualitas kesehatan masyarakat. Hal ini tercermin pada pola penyakit penduduk dimana penyakit-penyakit degeneratif seperti obesitas, diabetes militus, darah tinggi, hingga jantung koroner makin meningkat. Bahkan menurut dokter Lanny Lestiani dari bagian Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, penyakit jantung koroner kini telah menempati urutan teratas penyebab kematian. “Bahkan usia mereka yang terkena penyakit jantung koroner ini kian muda yaitu dibawah 40 tahun,” jelasnya saat acara diskusi mengenai pemanis buatan Aspartam di Hotel Mulia Jakarta, Kamis (12/9).

Untuk mencegah kemungkinan terkena penyakit tersebut, Lanny menganjurkan agar konsumsi kalori, khususnya yang berasal dari makanan-makanan manis dikurangi. Salah satu caranya adalah dengan mengganti gula dengan pemanis buatan yang mengandung kadar kalori rendah. Nah, salah satu pemanis pengganti gula buatan yang bisa dipilih adalah aspartme, pemanis alternatif dengan tingkat kemanisan 200 kali terhadap sukrosa. Sebenarnya di jajaran pemanis sintetik, selain aspartam, dikenal pula sakarin, dan siklamat. Namun hasil penelitian US Food and Drug Adminstration (FDA), aspartam relatif lebih aman dikonsumsi bagi kesehatan.

Menurut ahli teknologi pangan dari Institut Pertanian Bogor Prof. Dr. Ir. Made Astawan aspartam adalah pemanis nutritif yang terbuat dari asam amino yang juga terdapat pada bahan makanan pada umumnya. “Aspartam memberikan rasa manis seperti gula dengan kalori yang rendah,” jelas Made tentang pemanis yang ditemukan pada Desember 1965 oleh James Schlatter, seorang ahli kimia pada perusahaan G.D Searle & Co itu.

Lebih lanjut Made mengungkapkan, aspartam terbentuk dari kombinasi asam amino (penyusun protein), yaitu asam aspartat, fenilalanin, dan methanol. Semua bahan ini terkandung dalam daging, susu, buah, dan sayuran. Untuk perbandingan, lanjut Made, satu gelas susu mengandung enam kali lebih banyak fenilalanin dan 13 kali lebih banyak asam aspartat dari satu gelas minuman dengan pemanis aspartam. “Tubuh kita mencerna asam amino dari aspartam sama seperti mencerna asam amino dari makanan yang kita konsumsi sehari-hari,” tutur Made.

Aspartam juga merupakan pemanis berpotensi tinggi yang dapat digunakan dalam pembuatan puding, agar-agar, penganan pencuci mulut, yogurt, minuman coklat, minuman serbuk, minuman berkarbonisasi, teh, permen penyegar nafas, permen karet, tablet vitamin dan obat-obatan. Namun demikian, kata Made, perlu diperhatikan bahwa bila aspartam pada suhu tinggi dan dalam jangka waktu lama, maka rasa manisnya akan berkurang. “Karena itu, paling baik adalah jika pemanis ini ditambahkan setelah makanan matang,” tambahnya.

Keuntungan lain aspartam, menurut Lanny, aman dikonsumsi berbagai kalangan. Mulai dari anak-anak, wanita hamil, wanita menyusui, hingga penderita diabetes militus. “Aspartam bermanfaat khususnya bagi penderita diabetes karena memungkinkan mereka untuk mengkonsumsi makanan manis tanpa khawatir mempengaruhi kadar gula darah mereka,” paparnya. Bahkan untuk mereka ingin tampil oke, penggunaan aspartam sebagai pengganti gula biasa jika diimbangi dengan olahraga yang teratur mampu membantu mengendalikan berat badan.

Namun demikian, tutur Lanny, karena mengandung fenilalanin, aspartam tidak boleh dikonsumsi oleh penderita fenilketonuria, yaitu suatu kelainan genetik dimana seseorang tidak memilliki enzim fenilalanin hidroksilase (enzim untuk mencerna fenilalanin). Kelebihan fenilalanin dalam darah, dapat menyebabkan gangguan di otak yang menyebabkan hiperaktif. Karenanya di kemasan aspartam biasanya disebutkan bahwa pemanis ini menngandung fenilalanin. “Namun tak perlu khawatir, karena penyakit ini tergolong langka, hasil penelitian di Amerika Serikat terungkap bahwa penyakit ini hanya menimpa satu dari 15 ribu kelahiran,” jelasnya.

Lalu, adakah batasan jumlah asupan harian aspartam yang diperbolehkan (ADI)? Menurut Made, FDA telah menetapkan sebesar 50 miligram per kilo gram berat badan. Jumlah ini bisa dibilang sangat kecil dicapai seseorang. Sebagai contoh, menurut Made, untuk mencapai ADI, seseorang dengan berat badan 60 kilogram harus mengkonsumsi kira-kira lima liter minuman yang mengandung pemanis aspartam atau mengkonsumsi 70 kantong pemanis meja dalam satu hari! (Nunuy Nurhayati-Tempo News Room)