|
Konflik Mambi
Warga Mengungsi
Rabu, 27 April 2005 | 22:20 WIB
TEMPO Interaktif, Makassar:Menyusul tewasnya lima warga Mambi, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Selatan, sekitar 100 penduduk Dusun Rano, Kecamatan Mambi mengungsi ke Desa Kirak. Sekitar 30 rumah di kampung itu dikosongkan dan dijaga polisi.
Desa Kirak berjarak sekitar 60 kilometer dari lokasi kejadian. Untuk mencapai lokasi pengungsian warga harus berjalan kaki menyusuri hutan dan naik-turun gunung. Seorang pengungsi, Nataniel, mengaku telah berjalan dua hari satu malam meninggalkan kampung Rano. Namun, hingga kemarin ia belum juga sampai ke tujuan.
Konflik horizontal antar warga itu terjadi setelah keluarnya Undang-undang Nomor 11 Tahun 2002 tentang pemekaran Kabupaten Polmas menjadi Kabupaten Polmas dan Mamasa. Namun sebagian warga di tiga kecamatan yang dimekarkan ke kabupaten Mamasa, yaitu Aralle, Tabulahan dan Mambi, menolak bergabung ke Mamasa. Inilah yang kemudian menimbulkan konflik antara pro dan kontra pemekaran Mamasa.
Konflik ini mulai terjadi sejak tahun 2003 yang menewaskan tiga warga. Pada 2004 kembali terjadi konflik yang menewaskan dua warga. Terakhir dua pekan setelah kantor Kecamatan Mambi terbakar, konflik kembali menewaskan lima warga setempat.
Bupati Mamasa, Said Sagaf, yang dihubungi melalui telepon membantah pemicu peristiwa yang terjadi ini adalah masalah pro kontra pemekaran. Dari senjata yang digunakan sangat berbeda, karena selama ini masyarakat di sana hanya menggunakan tombak dan parang. “Warga setempat tidak punya senjata Bedil (senjata api),” ujarnya.
Oleh karena itu aparat tetap dikerahkan untuk penjagaan agar jangan sampai ada kelompok yang memanfaatkan konflik. Apalagi desa ini berada di perbatasan Mamuju dan Majene.
Kondisi terakhir di lokasi kejadian mulai kondusif. Wakil Kepala Polres Polmas, AKP Muh Gazali BR, mengatakan, aparat kepolisian yang ditugaskan ke wilayah konflik itu terus ditambah.
Menurut Gazali, meski situasi dan kondisi keamanan di Mambi sudah relatif aman dan kondusif, anggota kepolisian dan Brimob masih akan ditambah untuk mengantisipasi kerusuhan susulan. "Hingga hari ini polisi masih terus menyisir dan mengejar di daerah-daerah yang dicurigai sebagai tempat persembunyian para pelaku penyerangan," kata Gazali.
Polisi yang ditugaskan di wilayah konflik itu hingga saat ini sudah mencapai 230 personil dan 13 personil dari anggota satuan reserse mobil Polda Sulsel. 13 personil dari Kodim 1402 Polmas dikirim ke lokasi itu untuk memback up personil kepolisian. irmawati
INDEKS BERITA LAINNYA :
|