|
Tembok Waduk Pacal Dikhawatirkan Pecah
Rabu, 27 Agustus 2008 | 18:20 WIB
TEMPO Interaktif, BOJONEGOROa:Memasuki puncak kemarau, tembok waduk Pacal di Kecamatan Temayang, Bojonegoro, dikhawatirkan retak dan pecah. Jika hal ini terjadi, akan mengancam stok air pada musim kemarau dan menimbulkan banjir jika musim hujan.
Menurut data Balai Pengelolaan Sumber Daya Air (BPSDA) Bengawan Solo, saat ini stok air di waduk hanya tersisa 100 meterkubik. Jika normal, waduk yang dibangun pada Zaman Belanda tahun 1933 ini mencapai 23,7 juta meterkubik.
Menurut Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bojonegoro, Andi Candra, sekarang ini, waduk Pacal harus ditutup agar airnya tidak mengalir keluar. Air yang ada di waduk difungsikan untuk membasahi dinding tembok agar tidak pecah. “Ini sangat berbahaya,” katanya kepada Tempo, Rabu (27/8).
Menurutnya, pintu air di waduk Pacal harus dijaga ketat. Selama ini air waduk digunakan untuk irigasi di persawahan sejumlah desa di Kecamatan Temayang, Kedungadem, Sumberejo, Balen, dan daerag lainnya.
Moeljono, Koordinator Pengamanan, dan Pengendalian BPSDA Wilayah Sungai Bengawan Solo di Bojonegoro, mengatakan air waduk Pacal tinggal tersisa sebanyak 100 meter kubik, yang berarti di bawah ambang batas tampungan air. Sebab seharusnya air yang tersisa sekitar 270.330 meter kubik sebagai tampungan mati untuk menjaga bangunan waduk.
Di sisi lain, mengeringnya waduk Pacal, membuat tanaman palawija terutama yang berada di bawah irigasi yakni, Kecamatan Temayang seluas 1.000 hektar akan mengalami penurunan produksi panen sekitar 30 persen. Apalagi hujan yang diharapkan ratusan petani palawija, seperti kedelai, semenjak tanam hingga kini hanya terjadi dua kali.
Areal 1.000 hektar tersebut, di antaranya berada dalam wilayah irigasi waduk pacal. Selebihnya, yang berada disepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo, tertolong dengan adanya air dari Bengawan Solo. SUJATMIKO
INDEKS BERITA LAINNYA :
|