|
Soal Sekolah Rusak, Pemerintah Jabar Pilih Jemput Bola
Minggu, 17 Agustus 2008 | 19:49 WIB
TEMPO Interaktif, BANDUNG:Pemerintah Jawa Barat punya jurus baru menuntaskan program perbaikan sekolah-sekolah yang rusak. Selain melibatkan swasta, pemerintah juga akan menyediakan data kondisi sekolah, mulai dari yang terbaik hingga yang terburuk.
”Data itu akan di-publish supaya masyarakat tahu dimana aja sekolah yang rusak,” kata Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan saat melongok SMP Kemah Indonesia di Sadang Serang, Bandung, Senin (18/8).
Menurut Heryawan, jurus ”jemput bola” yang dilakukan pemerintahannya ini untuk mempermudah keberpihakan swasta yang hendak memberi bantuan. Bahkan tim bentukannya ini tengah memetakan kondisi infrastruktur fisik sekolah di Jawa Barat. Ia menargetkan, pemetaan itu bisa rampung akhir tahun ini.
Selanjutnya, kata Heryawan, data itu akan disosialisasikan ke sejumlah perusahaan besar yang hendak menjalankan program Corporate Social Reponsibility di bidang mereka. Data ini, akan memudahkan mengetahui ranking kebutuhan tiap-tiap sekolah yang ada.
Heryawan menilai, selama ini krisis data membuat bantuan CSR dari perusahaan swasta salah sasaran. Banyak bantuan jatuh ke sekolah yang ternyata masih kuat. Malah, sekolah yang rawan ambruk tidak tersentuh.
Setidaknya, ada dua jenis data yang tengah disusun. Selain pemetaan bidang pendidikan, juga ada pemetaan bidang kesehatan. ”Ini yang sedang kami bahas dengan pihak swasta.Data ini akan disosialisasikan sekaligus memperkuat komitmen bersama soal pembenahan infrastruktur di dua sektor itu,” ujarnya.
Kehadiran Gubernur Heryawan sendiri ke sekolah itu untuk menemani Direktur Utama PT Telkom Rinaldi Firmansyah ke sekolah itu untuk menyalurkan program CSR perusahaan itu. Pada Maret lalu, tiga ruangan sekolah itu ambruk akibat dinding pembatas sekolah dengan rumah warga yang berada di atasnya longsor.
Di sekolah itu Pemerintah Jawa Barat menggelontorkan dana rolesharing sebesar Rp 100 juta untuk dua ruang kelas yang ambruk. PT Telkom akan membantu sisa dana yang dibutuhkan untuk membenahi sekolah yang didirikan oleh yayasan bentukan aktivis HMI tahun 60-an. Rencananya PT Telkom akan membangun 2 ruang kelas tambahan serta gedung olahraga multifungsi di sekolah itu.
Direktur Utama PT Telkom Tbk. Rinaldi Firmansyah mengatakan, program CSR bekerja sama dengan pemerintah daerah sudah sering dikerjakan perusahaannya. Untuk tahun ini, paparnya, program CSR perusahaan itu porsi terbesarnya di bidang pendidikan. ”Kita ada beberapa CSR-nya yang kebetulan pas,” katanya.
Tahun ini, anggaran CSR perusahaan itu mencapai Rp 129 miliar. Jumlah itu setara 1 persen laba bersih yang diraup perusahaan itu tahun lalu, yakni Rp 12,9 triliun. Dana CSR perusahaan itu yang tersalurkan sudah mencapai 70 persen. Total dana yang dibutuhkan untuk merehab sekolah itu sendiri masih dihitung. ”Dengan ini mungkin akan tercapai 90 persen,” katanya.
Ahmad Fikri
INDEKS BERITA LAINNYA :
|