|
Enam Perguruan Tinggi Swasta di Yogyakarta Tutup
Selasa, 05 Agustus 2008 | 15:17 WIB
TEMPO Interaktif, Yogyakarta:Sebanyak enam perguruan tinggi swasta di Yogyakarta tutup karena kekurangan mahasiswa. Sementara itu, sejak tiga tahun terakhir jumlah mahasiswa swasta yang kuliah di Yogyakarta makin menurun.
"Mereka sudah empat semester tidak melakukan laporan per semester yang artinya akan ditutup," kata Ketua Koodinasi Perguruan Tinggi Swasta V Yogyakarta, Budi Wignyosukato kepada Tempo, Selasa, (5/8). Namun, Budi enggan menjelaskan perguruan tinggi mana saja yang statusnya ditutup.
Berdasarkan penelusuran Tempo di evaluasi.or.id, kampus yang sudah empat semester tidak membuat laporan per semester adalah ADA (Akademi Desain Yogyakarta) di Jalan Taman Siswa, STIE Kerjasama (karena sengketa yang tak kunjung selesai), Akademi Akuntansi Sapta Widya Tama di Lingkar Barat Nogotirto, STMIK Proactiv di Prawirotaman III, Akademi Telekomunikasi Indonesia di Mlati, Sleman, Politeknik PPKP Kampus Barek Jalan Kaliurang 4.5 Gg Kinanti.
Alasan perguruan tinggi tidak membuat laporan per semester kegiatannya kepada Kopertis, kata Budi, karena mahasiswa tidak memenuhi jumlah kuota yang disyaratkan, yakni 30 mahasiswa per angkatan untuk program D3 dan 120 mahasiswa untuk program S1.
Budi mengakui jumlah mahasiswa swasta di Yogyakarta cenderung menurun dalam empat tahun terakhir yang menyebar di 125 perguruan tinggi swasta dan 529 program studi.
Pada tahun 2004, jumlah mahasiswa swasta yang mengenyam studi di Kota Yogyakarta mencapai angka puncak, sebayak 40.000 mahasiswa. Setahun kemudian, jumlahnya turun menjadi 36.000, yang sama dengan 2006. "Pada tahun 2007, jumlah mahasiswa PTS hanya 30.000 mahasiswa," kata Budi.
Mantan Rektor Universitas Gadjah Mada Sofian Effendi mengatakan menurunnya jumlah mahasiswa swasta di Yogyakarta karena daerah-daerah membuka kampus di wilayahnya masing-masing. "Kampus dibuka bahkan hingga tingkat kabupaten dan kecamatan," kata Sofian.
Dia menyarankan agar PTS cerdas membaca peluang yang diperlukan masyarakat. "80 persen perusahaan membutuhkan karyawan siap pakai, sementara mahasiswa melanjutkan ke pendidikan akademis 75-80 persen. Ini kan terbolak-balik," kata dia.
Ketua Forum Rektor Indonesia Edy Suandi Hamid mengatakan agar jumlah mahasiswa swasta merata, perguruan tinggi negeri sebaiknya hanya memfokuskan mahasiswa yang melanjutkan pendidikan S1 dan S2. "Jadi sebaiknya PTN tidak membuka program D3 atau kelas sore," ujar Edy yang juga Rektor Universitas Islam Indonesia ini.
Dia sendiri menyebutkan pendaftar di kampus Universitas Islam Indonesia tahun ini meningkat 10 persen dari tahun sebelumnya. "Sekarang sudah ada 9.000 pendaftar, padahal kuota mahasiswa yang diterima 3.000 mahasiswa," ujarnya. Edy setuju kampus-kampus yang tidak kompeten ditutup saja.
Bernarda Rurit
INDEKS BERITA LAINNYA :
|