Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Keluarga Raja Dikremasi, Turis Penuhi Ubud
Minggu, 13 Juli 2008 | 12:05 WIB

TEMPO Interaktif, UBUD:Ribuan turis mancanegara terus mengalir memadati kawasan Ubud, Bali, menyaksikan serangkaian ritual kolosal Kremasi Keluarga Kerajaan (Palebon) Puri Ubud. Prosesi itu ditujukan untuk jenazah Kepala Keluarga Tjokorda Gde Agung Suyasa (Tjok Suyasa) dan dua kerabat terdekatnya Tjokorda Gde Raka, dan Gung Niang Raka.

’’Semua hotel di Ubud sudah penuh dan kita pastikan
pada puncak acara, Ubud akan dipenuhi turis,’’ Dirjen
Pemasaran Departemen Kebudayaan Dan Pariwisata, Sapta Nirwandar, Minggu (13/7).

Untuk mensukseskan acara ini Departemen Kebudayaan Dan Pariwisata membantu mengelola media centre, yang
mengkoordinasikan akses media untuk meliput acara ini.
Pihaknya juga telah mempromosikan acara ini jauh hari
sebelumnya. ‘’Kami melihat acara ini bagian dari
kekayaan budaya bangsa,’’ katanya.

Persiapan untuk upacara itu, menurut juru bicara Puri
Ubud Tjokorda Kertiyasa, telah dimulai sejak 3 bulan
lalu dengan melibatkan 67 desa adat di Bali. Persiapan
juga meliputi pembuatan bade (pengangkut mayat)
setinggi 28,5 meter dengan berat 6 ton, serta 71
patung-patung binatang yang mensimbolkan pengiring
arwah.

Bade akan diusung oleh 8.000 orang secara estafet. Satu regu pengusung sedikitnya berjumlah minimal 150 orang. Arak-arakan pada puncak acara Selasa (15/7) akan berjalan dari Puri menuju setra (komplek pekuburan), sekitar 2 km.

Seremonial semacam ini terhitung sangat langka. Apalagi tokoh Tjok Suyasa yang telah meninggal pada 28 Maret 2008, sudah menjadi kepala keluarga kerajaan sejak tahun
1967. Ia yang lahir pada 14 Juli 1941, menggantikan peran kakeknya, Tjokorda Gde Sukawati, raja Ubud yang terakhir.

Kerajaan Ubud sudah eksis sejak abad ke 17 sebagai bagian dari Kerajaan Klungkung dan Sukawati. ‘’Di masa kemerdekaan , kerajaan bukan lagi sebagai penguasa tetapi hanya berperan di bidang sosial budaya,’’ ujar Kertiyasa. Hal itu diwujudkan oleh Tjok Suyasa dengan kesediaan untuk menjadi Bandesa (pengurus desa adapt) Ubud, penasehat utama dalam hal pengembangan adat dan budaya Bali, serta berbagai organisasi sosial budaya lainnya.

Terkait dengan rangkaian upacara, ruas jalan di Ubud akan ditutup untuk kendaraan umum dan pribadi, kecuali yang ada hubungannya dengan kepentingan upacara. Rofiqi Hasan



INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk128082 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< July,2008>>
MSnSl RK JS
  01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data