|
Jawa Timur
Ayah Amrozi Meninggal Tanpa Pesan
Sabtu, 08 Mei 2004 | 19:30 WIB
TEMPO Interaktif, Lamongan:Haji Nurhasyim, 80, ayah kandung tiga bersaudara narapidana (napi) kasus bom Bali, Amrozi, Ghufron alias Mukhlas, dan Ali Imron, meninggal dunia pada Jumat (7/5) pukul 18.00 WIB akibat penyakit stroke yang telah menyerangnya selama lebih dari empat tahun.
Jenazah almarhum dikebumikan di makam umum Dusun Tenggulun, Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro, Lamongan, Sabtu (8/5) pukul 07.00 WIB.
"Sejak terserang stroke, Bapak memang lumpuh total. Syarafnya terganggu sehingga ingatannya hanya ada sekian persen,” papar HM Khozin, salah seorang kakak Amrozi, saat dijumpai Tempo di Tenggulun, Sabtu (8/5) siang.
Dari 13 anak Nurhasyim dari dua isteri, Khozin merupakan anak ketiga atau anak lelaki tertua, sedangkan Ghufron anak kelima, Amrozi keenam, dan Ali Imron kedelapan. Khozin menambahkan, menjelang akhir hayatnya, sang ayah tidak berpesan apapun, baik kepada dirinya, maupun kepada sang isteri Hajjah Tariyem, 71.
“Beliau memang sulit berkomunikasi,” kata kakek dua cucu yang terakhir mengunjungi Amrozi di LP Kerobokan, Denpasar, seusai Idul Fitri tahun lalu itu. Meski begitu, Khozin berkisah, setiap kali anggota keluarganya bercerita tentang adik-adik mereka yang dipenjara di Bali, sang ayah menangkap pembicaraan itu dan meneteskan air mata.
Khozin menyatakan, berita kematian ayahnya telah disampaikan kepada tiga orang saudaranya yang kini ditahan akibat kasus bom Bali. “Berita meninggalnya Bapak kami sampaikan kepada Imron kemarin (7/5) malam,” ceritanya.
Ia menuturkan, di antara tiga saudaranya itu, Imron paling sering berkomunikasi dengan keluarga, karena sebagai napi ia mendapatkan fasilitas telepon genggam khusus. Bahkan, saat dihubungi Khozin, Imron mengaku sedang berada di Jakarta. “Imron kemudian berpesan agar jenazah Bapak dirawat dengan baik. Ia juga berharap kami sekeluarga tetap tabah menghadapi berbagai ujian hidup sepeninggal Bapak,” urainya.
Suasana di rumah keluarga Amrozi cukup ramai selepas pemakaman. Beberapa tamu dan kerabat yang datang dari luar kota menyampaikan rasa dukanya kepada Tariyem, yang siang itu tampak sibuk melayani tamu dengan mengenakan kerudung hitam. Beberapa tanaman jagung berusia 55 hari tumbuh di pelataran rumah kayu bercat putih itu. “Sesuai kepercayaan yang kami anut, kami memang tidak mengadakan acara doa tahlilan selepas meninggalnya bapak,” tambah Khozin.
Agus Raharjo - Tempo News Room
INDEKS BERITA LAINNYA :
|