|
Yogyakarta
Hidayat: PKS Tidak Akan Masuk Kabinet
26 April 2004
TEMPO Interaktif, Yogyakarta:Kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tidak akan masuk dalam kabinet maupun dicalonkan sebagai presiden atau wakil presiden. PKS hanya akan berada di parlemen untuk mengritisi pemerintah.
Hal ini disampaikan Presiden PKS Hidayat Nur Wahid menjawab pertanyaan wartawan di kompleks Candi Prambanan, Yogyakarta, Senin (26/4). Langkah ini, kata Hidayat, diambil sebagai konsekuensi keputusan PKS untuk mengambil posisi sebagai oposisi kritis.
Hidayat sendiri hadir di Prambanan untuk memberi ceramah umum di depan ribuan anggota Gerakan Pemuda Anshor yang sedang merayakan hari jadinya ke-70.
Menjawab pertanyaan wartawan tentang kemungkinan kader PKS dicalonkan partai lain sebagai presiden atau wakil presiden, Hidayat Nur Wahid menegaskan hal itu tidak akan diizinkan.
"Kalau ada partai lain yang mencalonkan kader PKS sebagai presiden atau wakil presiden, akan kami tolak. Kalau selama ini ada yang mencalonkan kami sebagai wakil presiden, saya ucapkan terima kasih. Namun kami tetap akan tunduk pada keputusan Majelis Syuro untuk tidak masuk dalam bursa pencalonan presiden dan wakil presiden maupun terlibat dalam power sharing di kabinet," tegasnya.
Tentang oposisi kritis yang diambil PKS, Hidayat menerangkan bahwa loyalitas PKS akan dicurahkan kepada bangsa, negara, dan rakyat, bukan kepada rezim. "Kami akan memberikan loyalitas setinggi-tinginya pada bangsa, pada rakyat, dan pada umat agar mereka bisa mendapatkan sebuah pemerintah yang sungguh-sungguh melaksanakan hukum, jauh dari praktek KKN dan apapaun yang membawa bangsa ini terjebak dalam krisis. Jadi oposisi ini bukan sekadar anti kepada penguasa atau sekadar anti pada rezim," tegasnya.
Menurut Hidayat, oposisi kritis yang ditempuh PKS itu dibenarkan dalam konteks demokrasi. "Dan kami sebenarnya sudah memerankannya sejak beberapa tahun kemarin, dan ke depan kami akan makin mengokohkannya," tegasnya.
PKS, lanjut Hidayat, juga akan mengkritisi calon presiden dan calon wakil presiden agar mereka sungguh-sungguh komit pada agenda reformasi dan agenda bernegara. "Dengan cara ini kita berharap agar pemimpin ke depan lebih berkualitas lagi," ujarnya.
Heru CN - Tempo News Room
|