|
Jawa Barat
Kidang Pananjung Rawan Longsor Susulan
23 April 2004
TEMPO Interaktif, Bandung: Menurut Kepala Sub Direktoriat Mitigasi dan Bencana Geologi Surono, kemungkinan longsor susulan di kawasan Desa Kindang Pananjung Kecamatan Cililin Kabupaten Bandung masih sangat tinggi. Karena kondisi kawasan itu yang termasuk zona gerakan tanah tinggi. "Apalagi di kawasan itu ada lapisan tanah yang sudah jenuh air dan curah hujan di kawasan itu tinggi," ujarnya kepada wartawan di Bandung, Jumat (23/4).
Kondisi seperti itulah yang menyebabkan datangnya longsor di kawasan itu pada Rabu (21/4) malam.
Masih menurut Surono, masyarakat di kawasan tersebut memang memiliki cadangan air melimpah, tapi sekaligus dalam bahaya, karena tanah yang rawan longsor.
Administratur / Kepala Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH)
Bandung Selatan Perum Perhutani Unit III Jawa Barat
dan Banten Hari Priyanto mengatakan pihaknya telah
membentuk Tim Pengukuran untuk memetakan luas wilayah
longsor secara akurat. "Perkiraan sementara wilayah
yang terkena longsor seluas satu hektar. Tapi untuk
mengetahui angka akuratnya harus menunggu hasil
pemetaan," ujar Hari.
Menurut Hari, titik longsor yang ada di kawasan itu
menyebar di berbagai tempat. Salah satunya berbatasan
langsung dengan kawasan hutan di Petak 23b RPH Cililin
BPKH Cililin KPH Bandung Selatan. Di wilayah KPH
Bandung Selatan, tidak kurang dari 84 daerah rawan
longsor, dua puluh tiga di antaranya masuk kategori
Sangat Berbahaya.
Hari mengatakan, sebelum longsor terjadi, kawasan
Kidang Pananjung diguyur hujan sekitar tujuh jam,
sejak pukul 14.00 WIB, dan mencapai puncaknya antara pukul 18.00 sampai 21.00. "Menurut keterangan masyarakat
setempat, hujan dengan intensitas sebesar itu belum
pernah terjadi sebelumnya," kata Hari.
Selain curah hujan yang tinggi, perambah hutan selama ini juga menjadi faktor yang mendukung timbulnya longsor di kawasan itu. "Saat ini masih ada sekitar 3.400 perambah yang beroperasi dikawasan seluas 1.322 hektar," katanya.
Hujan Buatan
Menurut sumber Tempo News Room di Direktoriat Mitigasi dan Bencana Geologi mengatakan, tingginya curah hujan saat itu tidak terlepas dari adanya hujan buatan yang diprogramkan Pemprov Jawa Barat.
Hal ini diakui Kepala Biro Bina Produksi Pemprov
Jawa Barat, Darso Suhanda. Pemprov Jawa Barat, kata
Darso, menyetujui program hujan buatan yang
pelaksanaannya dilakukan Dinas Pengelolaan Sumber
Daya Air dengan BPPT selama April ini. Namun Darso membantah kalau hujan buatan itu menjadi penyebab timbulnya longsor di Desa Kindang Pananjung. "Longsor itu kan disebabkan oleh banyak faktor. Selain hujan, kondisi di kawasan itu memang sudah kritis," kata Darso.
Selain itu, kata Darso, program hujan buatan pada
tanggal 21-23 April kemarin dilaksanakan di kawasan
Cianjur. "Jadi hujan itu jatuhnya di Cianjur dan
sekitarnya," katanya. Hal ini kata Darso, seusai
dengan prioritas wilayah yang diberi program hujan
buatan yaitu di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS)
Citarum dan di sekitar huku Sungai Cimanuk Garut.
Darso mengatakan, hujan buatan yang dananya diambil
dari APBN dan APBD masing-masing sebesar Rp 1,9 miliar
itu dilaksanakan mulai 2 sampai 30 April 2004.
Program ini, kata Darso, ditujukan untuk membantu
mengisi air di tiga waduk besar di Jawa Barat:
Jatiluhur, Cirata dan Saguling. "Kekurangan debit air
di Jatiluhur saja mencapai 1,3 miliar kubik," katanya.
Walaupun Pemprov memprogramkan pembuatan hujan buatan
ini, kata Darso, pihaknya sudah menginstruksikan
kepada pelaksana teknis untuk menghentikan kegiatan
ini jika hujan alami turun dengan curah tinggi. "Jadi
sesuai dengan instruksi gubernur, kalau ada hujan
dengan curah tinggi, program ini harus dihentikan,"
kata Darso.
Rana Akbari Fitriawan - Tempo News Room
|