|
Jusuf-Singh Bicarakan Peningkatan Hubungan Ekonomi
Selasa, 30 Januari 2007 | 20:46 WIB
TEMPO Interaktif, Delhi:Wakil Presiden Jusuf Kalla Selasa (30/1) bertemu dengan Perdana Menteri India Manmohan Singh. "Kami lebih banyak membicarakan kemungkinan peningkatan hubungan bilateral, terutama di bidang ekonomi," kata Kalla di kantor Kedutaan Besar RI di Delhi.
Kalla menjelaskan, sebagai negara berpenduduk satu miliar lebih, India adalah pasar besar dan amat potensial bagi produk-produk Indonesia. "Apalagi pertumbuhan ekonomi mereka saat ini berkisar delapan persen."
Di samping itu, katanya, kemungkinan peningkatan investasi pun masih terbuka luas. "Baik oleh para investor India ke Indonesia atau sebaliknya.
Karena investasi pengusaha kita India cukup besar juga."
Dalam catatan Tempo, beberapa investor Indonesia yang baru-baru ini mulai melirik India antara lain Ciputra dan Salim Group yang akan mengembangkan properti dan kawasan baru di daerah West Bengal. Sebaliknya,
India mulai mengembangkan industri otomotif melalui produksi kendaraan roda dua TVS dan Bajaj di Indonesia.
Peningkatan hubungan ekonomi Indonesia-India bisa dilihat dari kenaikan volume perdagangan kedua negara. Dalam lima tahun terakhir mengalami pertumbuhan rata-rata hingga 27,45 persen. Pada 2005 senilai sekitar 3,63 miliar dolar. Sedangkan surplus yang didapatkan naik rata-rata 23,87 persen dalam kurun itu.
Dalam pertemuan itu, Kalla menjelaskan, ada beberapa sektor yang dianggap paling berpeluang untuk dikembangkan bersama dan menarik para investor India ke Indonesia. Salah satunya antara lain industri listrik dengan
bahan bakar gas.
"Sudah kami tawarkan dan mereka siap bersaing secara terbuka dengan kompetitor dari negara lain," kata Kalla. Tawaran investasi ini pula yang ditawarkan Kalla dalam pertemuannya bersama para pengusaha yang tergabung dalam CII (Confederation of Indian Industry) di Hotel Taj Palace, malam sebelumnya.
Dalam pertemuan itu para pengusaha India antara lain menyatakan minatnya untuk menjajagi kemungkinan investasi di bidang pembangkit listrik, minyak kelapa sawit,
dan pertambangan.
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, M. Lutfi, yang turut memberi penjelasan mendampingi Kalla, mengatakan bahwa sudah ada satu perusahaan yang langsung menindaklanjuti hasil pertemuan itu dengan meminta pertemuan lanjutan dalam waktu dekat di Jakarta.
"Nama perusahaannya Centros, dan bergerak dalam industri permesinan berat."
Lutfi belum bisa menyebutkan besaran investasi yang mungkin mereka bawa. Tapi, katanya, "Satu pabrik mereka yang terkecil sana di sini nilainya sekitar 80 juta dolar." Ia menambahkan bahwa investasi India ini bukanlah
hal baru, karena sejak 30-35 tahun lalu, banyak pengusaha mereka yang telah lebih dulu mengembangkan bisnisnya di Indonesia.
"Seperti Indorama dalam bidang tekstil dan baja oleh Mital Steel di Sidoarjo. Di bidang farmasi, petrokimia, dan listrik pun "
Mengenai kemungkinan pengembangan industri baja yang baru oleh Mital Steel di Kalimantan Selatan, Lutfi menjelaskan bahwa dalam pertengahan tahun ini kemungkinan sudah akan mencapai tahap finalisasi. Saat ini mereka masih dalam tahap penghitungan menyangkut ketersediaan pasokan listrik, batu bara, dan pasarnya.
"Masalahnya, banyak mereka masih segan masuk kalau
tidak ada insentif fiskal dari kita. Itu yang sekarang kami usahakan."
Selain membicarakan masalah ekonomi, pertemuan antara Kalla dan Manmohan Singh juga menyinggung hubungan bilateral di bidang pertahanan. "Tapi kami
tidak banyak bicara soal itu," katanya. "Mereka memang minta agar kita membeli beberapa peralatan dari India. Tapi di sisi lain kita pun punya komitmen untuk mengembangkan sendiri industri pertahanan kita."
Y. Tomi Aryanto
INDEKS BERITA LAINNYA :
|