Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Pasukan Filipina Terus Kejar Penyandera Tiga WNI
Kamis, 26 Mei 2005 | 15:11 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Panglima Komando Selatan Mindanao Letnan Jenderal Alberto Fernando Braganza, Kamis (26/5), menyatakan, pasukannya terus mengintensifkan upaya pencarian tiga warga negara Indonesia yang disandera di wilayahnya.

"Kami juga meningkatkan patroli di sekitar lokasi untuk membatasi mobilitas penyandera," kata Braganza saat menerima delegasi DPR di Markas Komando Selatan Mindanao, Kota Zamboanga, Filipina.

Menurut Braganza, seperti dilaporkan wartawan Tempo Wahyudi Marhaen, lokasi para penyandera kemungkinan besar di Pulau Sulu. Pasukan Filipina terus memantau posisi korban yang selalu dipindah-pindah oleh kelompok penyandera.

Berdasarkan laporan intelijen, kata dia, penyandera telah memindahkan ketiga korban sedikitnya enam kali, di pulau-pulau sekitar Sulu dan Tawitawi. Dia menyebutkan, pada 5 April sandera dipindahkan ke Pulau Tumindao, kemudian dibawa ke Pulau Pandami (14 April), Pulau Manumbul (15 April).

Pada 3 Mei, sandera dibawa kembali ke Pulau Pandami, kemudian muncul informasi akan dibawa ke Pulau Sulu. Namun, ternyata sandera dipindahkan ke Pulau Lugus pada 19 Mei, dan baru dibawa ke Sulu, 22 Mei.

Braganza yakin, para penyandera berasal dari kelompok Abu Sayyaf dan motifnya untuk mendapatkan tebusan. Tiga warga Indonesia yang disandera di Filipina Selatan sejak 30 April adalah Ahmad Resmiadi, Erikson Hutagaul, dan Yamin Labuso.

Resmiadi adalah kapten kapal Bunggaya 91 milik perusahaan Malaysia, sedang Erikson dan Yamin anak buah kapal. Ketiganya dicegat kelompok bersenjata saat berlayar dari Tarakan ke Sandakan, Kalimantan Timur, 30 Maret, lalu dibawa ke daerah Tawitawi, Filipina Selatan.

Kelompok penyandera menyebut diri sebagai Jami Al Islami Southern Minadanao, kemudian menuntut tebusan sebesar 3 juta ringgit (Rp 7,5 miliar) kepada pemilik kapal dan pemerintah Malaysia. Wahyudi M Pratopo

Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
         
Presiden Soeharto saat menerima kunjungan presiden Filipina Fidel Ramos, Jakarta, 1993. [Setneg; 18D/190/1993; 20020521]. Presiden Soeharto saat menerima kunjungan presiden Filipina Fidel Ramos, Jakarta, 1993. [Setneg; 18D/190/1993; 20020521].
Presiden Soeharto saat menerima kunjungan presiden Filipina
Presiden Soeharto saat menerima kunjungan presiden Filipina
>>selengkapnya ::

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Pemerintah Minta Malaysia Ikut Bebaskan Sandera
WNI Sandera di Filipina Sakit
Tim Pembebasan Sandera Berangkat ke Filipina
Pemerintah Berhasil Kontak WNI Yang Disandera
Yudhoyono Hubungi Arroyo Soal Sandera
DPR Bentuk Tim Pembebasan Sandera di Filipina
Tiga WNI Diculik di Filipina Selatan
Ponpes Ngruki Berharap Para Undangan Datang
Dari 10 Kedutaan, Belum Ada Yang Bersedia Datang Ke Ngruki
Kedutaan Jepang Telah Terima Undangan dari Ngruki
> selengkapnya...


Website

Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC)
The ASEAN Secretariat
Kepolisian Republik Indonesia
Departemen Luar Negeri


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< May,2005>>
MSnSl RK JS
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data