|
Nasional
Tidak Semua Sekolah di Aceh Dibangun Kembali
Minggu, 30 Januari 2005 | 01:53 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Tidak semua sekolah-sekolah yang rusak di Nanggroe Aceh Darussalam akan dibangun kembali oleh pemerintah. "Sebab sebagian penduduk sudah habis" kata Irhamudin, dari Dinas Pendidikan Nasional Aceh kepada Tempo disela-sela lokakarya yang digelar Pasiad di Jakarta, Sabtu (29/1).
Menurut Irham, institusinya mengupayakan penggabungan bagi anak-anak Aceh yang sekolahnya tidak dibangun kembali. Relokasinya, kata Irham, akan disesuaikan dengan kecenderungan pemindahan penduduk nantinya.
Irham menjelaskan, setelah ditetapkannya 26 Januari sebagai hari kembali ke sekolah, ada tiga langkah darurat yang diambil untuk melaksanakannya. Pertama, tempat belajar mengajar akan menggunakan gedung sekolah terdekat.
Dia mencontohkan SMP Negeri 1 Banda Aceh untuk saat ini menumpang belajar di SMP Negeri 3. Selain sekolah terdekat, fasilitas kedua yang bisa ditempati sebagai sekolah adalah fasilitas-fasilitas umum dan pemerintah, seperti serambi mesjid maupun gedung-gedung pemerintahan.
Apabila kedua fasilitas tidak ada, lanjutnya, dengan terpaksa digunakan tenda. "UNICEF telah menyediakan 1.400 tenda, dan mereka bersedia menyediakan hingga 4.000 tenda" katanya.
Irham mengaku tidak hanya fasilitas pendidikan secara fisik yang perlu kembali dibangun di Aceh. Tetapi yang tak kalah penting adalah fasilitas non fisik seperti trauma councelling. Pendekatannya, menurut Irham, bukan hanya dengan pendekatan psikologi tetapi juga pendekatan keagamaan karena masyarakat Aceh sangat religius.
Segala bantuan dibidang pendidikan baik dari LSM maupun negara-negara donor akan dikoordinasikan oleh Departemen Pendidikan Nasional. Depdiknas, kata Irham, akan membuat daftar kebutuhan dalam pendidikan kemudian menawarkan kepada para donatur agar mereka memilih mana yang akan dibantu. "Diharapkan tidak akan terjadi tumpang tindih dalam bantuan" kata Irham.
Pasiad, sebuah LSM dari Turki, sendiri tengah menggelar Lokakarya untuk mencari prioritas bantuan bagi pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan di Aceh. Irham secara pribadi sangat tertarik untuk bekerja sama dengan Pasiad dalam membangun pendidikan kembali di Aceh. Sebab menurutnya disamping memiliki akar budaya yang sama, antara Turki dan Aceh, telah memiliki ikatan emosional sejak dahulu.
Khairunnisa-Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|