Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Metro

Presiden Minta Transparansi dan Akuntabilitas Bantuan Korban Gempa
Sabtu, 11 Desember 2004 | 20:44 WIB

TEMPO Interaktif, Alor:Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menekankan tujuan kehadirannya ke Alor NTT, untuk melihat secara langsung akibat-akibat yang ditimbulkan gempa bumi beberapa waktu lalu. Selain itu, SBY ingin bertemu langsung dengan para korban gempa dan masyarakat NTT pada umumnya.

Ini dikatakan presiden usai mendengarkan pemaparan singkat dari gubernur NTT, Piet A Tallo mengenai kondisi terkini penanganan gempa bumi Alor. Menurutnya ia akan melihat apa yang telah dilakukan oleh pemerintah, baik dalam tahapan emergency dan yang akan dilakukan pada tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi.

"Saya ingin mendengarkan secara langsung pandangan-pandangan dan saran-saran dari Alor mengenai apa yang akan dilakukan pemerintah di masa yang akan datang," kata Presiden. Presiden lebih jauh mengatakan, dirinya memberikan atensi yang cukup tinggi dan semua masyarakat Indonesia memberikan kepedulian terhadap gempa bumi Alor.

"Saya ingin melihat langsung dan berdialog dengan rakyat untuk memastikan apakah sistem penanganan sudah bekerja dengan baik atau belum. Kalau belum berarti dikoreksi," kata SBY di aula rumah jabatan Bupati Alor, Sabtu (11/12).

Menurutnya, banyak bantuan yang berdatangan baik dari dalam maupun luar negeri, karena itu perlu ada transparansi dan akuntabilitas dalam penggunaannya. "Saya minta semua pihak yang terlibat dalam hal penanganan bantuan bekerja dengan transparan dan akuntabilitasnya dapat dipertangungjawabkan," katanya.

SBY juga menyinggung tentang konstruksi rumah tahan gempa. Menurutnya, yang akan menjadi persoalan adalah nilai ekonomis dari rumah itu. Modelnya harus benar dan kuat. "Rumah yang harus dibangun perlu mempertimbangkan ekonomi golongan lemah dan yang sangat lemah. Dengan demikian masyarakat bisa memilikinya," kata SBY.

Di Jepang dan Filipina, serta beberapa negara yang biasa mengalami gempa memiliki kurikulum pendidikan gempa di sekolah-sekolah. Sehingga kalau ada bencana gempa bumi, masyarakat bisa waspada sehingga korban bisa diminimalisir.

James de Fortuna-Tempo


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Setelah Alor, Presiden Yudhoyono Akan Kunjungi Nabire
Presiden Tiba di Kalabahi Alor
Presiden Kunjungi RS Umum Kupang
Sebelas Kecamatan di Kuningan Rawan Longsor dan Banjir
Jepang Bantu Korban Nabire
Rumah Contoh Tahan Gempa di Alor Dibangun Asal Jadi
Wapres Kunjungi Lokasi Gempa Nabire dan Alor
Masyarakat Diminta Waspada Ancaman Banjir dan Longsor
Jepang Sumbang Korban Gempa Nabire Rp 801 Juta
Akibat Gempa Nabire, PLN Rugi Rp 5 Miliar
> selengkapnya...


Referensi

Keppres RI No. 3 Tahun 2001 Tentang Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi

Website

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional
Badan Meteorologi dan Geofisika
Departemen Sosial
Situs INFORM


Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [1]


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< December,2004>>
MSnSl RK JS
   01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data