|
Nasional
Tamsil Linrung Ragukan Keterlibatan Hizbullah Rasyid dan Abdul Hamid dalam Bom Makassar
17 Desember 2002
TEMPO Interaktif, Jakarta:Tamsil Linrung, bekas fungsionaris Partai Amanat Nasional (PAN), meragukan Hizbullah Rasyid dan Agung Abdul Hamid, tersangka peledakan bom di Makassar yang sekarang menjadi DPO polisi, terlibat dalam kasus itu. Sebab, sepengetahuan dirinya, kedua orang itu sudah meninggalkan Makassar, sekitar Ramadhan. Bahkan, pada bulan Ramadhan lalu, Abdul Hamid sempat mengontak dirinya, dan menyatakan tengah berada di Kalimantan. Rencananya, “Ia akan pergi ke Malaysia, tapi tidak jadi,” ujar Tamsil, kepada wartawan, di Mabes Polri, saat menjenguk Amir Majelis Mujahiddin Indonesia, Abu Bakar Ba’asyir, Selasa (17/12).
Disebutkan, kontak terakhir Tamsil dengan Abdul Hamid terjadi pada Hari Raya Idul Fitri. Saat itu, Hamid menyatakan kalau dirinya saat itu berada di Palu, Sulawesi Tengah, dan hendak berangkat ke Surabaya. Dalam perbincangan itu, Tamsil sempat menanyakan apakah Hamid tahu ledakan yang terjadi di Mac Donald Makassar, dan ruang pamer ‘Toyota’ milik Jusuf Kalla. Terhadap pertanyaan itu, Hamid menyatakan dirinya tak tahu-menahu.
“Tidak ada pikiran ke arah itu. Sebab, Jusuf Kalla termasuk orang yang akrab dengan saya,” ujar Tamsil, menirukan ucapan Hamid. Sebab itu, Tamsil meyakini Hamid maupun Hizbullah tidak terlibat dalam kasus bom tersebut, walaupun dalam taraf sebagai otak pelaku peledakan.
Mengenai anggota Laskar Jundullah yang terlibat dalam ledakan, dan kini telah ditahan oleh Polda Sulsel, Tamsil menyatakan tidak semua tersangka adalah anggota Laskar Jundullah. Sementara, mengenai informasi bahwa Agus Dwikarna disebut-sebut sebagai pihak yang mentransfer uang untuk biaya peledakan, ia juga menyanggahnya.
Ketika ditanya mengenai aliran dana dari beberapa anggota DPR ke Laskar Jundullah, Tamsil tidak mengetahui persis. Yang ia dapat hanyalah info dari polisi, dan ia pernah ditanya tentang hal itu. Menurut Tamsil, memang ada pengakuan dari Mochtar Daeng Lau, salah seorang tersangka peledakan bom Makassar yang ditahan oleh Polda Sulsel, yang mengatakan ada aliran dana masuk, tapi tidak tahu darimana asalnya.
Sementara itu, sumber Tempo News Room di Mabes Polri mengakui adanya aliran dana dari 3 anggota DPR berinisial AF, FB dan AS. Namun, sumber itu belum mau merinci jumlah dana yang dialirkan ke Laskar Jundullah. “Sebetulnya, kalau mau dibuka, anggota DPR juga ada, tapi itu masih tunggu perkembangan. Nanti, kalau kita buka, dibilang kita menyudutkan Islam,” ujar dia.
Pada kesempatan yang sama, pengacara Abu Bakar Ba’asyir, Adnan Buyung Nasution, menyatakan kondisi kliennya yang kini ditahan di Mabes Polri dalam keadaan baik, bisa beristirahat, dan memiliki semangat yang tinggi. Berkait dengan pemeriksaan, Ba’asyir tetap pada pendiriannya semula, yakni menolak pemeriksaan dan pembuatan Berita Acara Pemeriksaan (BAP). “Itu merupakan konsekuensi dari sikap dia yang menolak penahanan, dan penangkapan sebagai tindakan sewenang-wenang oleh kekuasaan negara yang didikte oleh kekuasaan asing,” ujar Buyung.
Pengacara Ba’asyir lainnya, Qadhar Faisal, menambahkan polisi baru hari ini menyodorkan berita acara perkara kepada Ba’asyir. Namun, Ba’asyir menolak untuk menandatangani BAP itu. Ia hanya bersedia diambil sidik jarinya yang selama ini selalu ditolak pengasuh Pesantren ‘Al Mukmin’, Ngruki itu. Pengambilan sidik jari sendiri dinilai tidak bersifat pro-justisia. Karea sikapnya tetap menolak diperiksa, sampai hari ini, pemeriksaan terhadap Ba’asyir tidak ada. (Wahyu Mulyono-Tempo News Room)
|