TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah Singapura belum melayangkan komplain kepada Indonesia kendati wilayah negara tetangga tersebut mengalami serangan asap tebal akibat kebakaran hutan di sejumlah kawasan Sumatera dan Kalimantan
Kepastian itu dilontarkan Duta Besar Indonesia untuk Singapura, Johan Syahpery, ketika ditemui wartawan di Surabaya, Kamis (12/7). "Pemerintah Singapura belum melakukan komplian. Itu yang sejauh ini dialami KBRI di Singapura," ujar Johan di Gedung Grahadi usai bertemu Gubernur Jawa Timur, Imam Utomo, untuk menjelaskan rencana investasi pengusaha Singapura, Cina, dan Taiwan.
Menurut Johan, kendati tidak ada komplain namun suara-suara yang berkembang diantara warga Singapura memang mengeluhkan gangguan asap tersebut. "Ada bisik-bisik mengapa setiap musim kemarau datang, selalu saja muncul peristiwa ini? Mengapa sejak awal tidak dicegah?" ujarnya.
Johan sendiri mengaku tidak bisa menjelaskan secara tuntas terhadap pertanyaan-pertanyaan itu. Pasalnya, untuk mengatasi bencana asap tersebut tidak bisa dilakukan satu lembaga saja. Meskipun belum ada komplain, Johan menegaskan bahwa masalah asap tersebut belum sampai mengusik hubungan diplomatik Indonesia dengan negara-negara tetangga.
"Hubungan diplomatik antara Indonesia dan Singapura tidak terganggu. Kita berharap tetap normal meski ada gangguan asap. Sejauh ini, kalau ada masalah selalu dibicarakan secara bersama," ujarnya.
Yang pasti, jelas Johan, pemerintah Indonesia segera melakukan koordinasi dengan pemerintah negara-negara tetangga untuk mengatasi serangan asap tersebut. Koordinasi itu berlangsung dalam dua tingkat, yakni regional ASEAN dan nasional. "Masalahnya sekarang, tergantung bagaimana kecepatan kita mengatasi masalah asap itu. Pokoknya jangan terlalu pesimis!" tegas Johan.
Serangan asap kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan bukanlah masalah baru. Bukan hanya warga di dua pulau besar itu yang tersiksa, tapi juga merambah ke negeri tetangga. Singapura dan Malaysia senantiasa menjadi langganan. Johan menjelaskan, sejauh ini telah ada mekanisme baku untuk menangani persoalan tersebut. Lagipula, juga terdapat bantuan dari Uni Eropa dan Australia untuk dipakai pembiayaan regional. Namun, pihaknya tidak merinci lebih detil perihal besar pendanaan tersebut dan pengoperasiannya. (Adi Sutarwijono)