Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 51/XXXIII/14 - 20 Februari 2005
   
Ekonomi dan Bisnis

Mengkaji Hoki Berjodoh

Bank BNI bersemangat merger. BTN malah belum menyiapkan kajian.

IBARAT bujang lapuk, Bank Negara Indonesia (Bank BNI) sepertinya tak sabar meminang bakal istrinya. Begitu pemerintah memberikan sinyal agar segera mengkaji kemungkinan merger, sigap sekali BNI menyelesaikan kajian. "Kami sudah menyerahkan kajian itu ke Kementerian BUMN," kata Direktur Utama Bank BNI, Sigit Pramono.

Sigit memang tak buru-buru memastikan, siapa bank pujaan hati itu. "Kami hanya mengkaji, pemerintah yang memutuskan," katanya. Namun ia tak menampik bila disebut-sebut berniat menggabungkan usahanya dengan Bank Tabungan Negara (BTN). "Itu memang masuk kajian kami," katanya.

Maklum, BTN memang kuat di kredit konsumsi. BNI, yang lebih berpengalaman di kredit korporasi, lebih cocok merger dengan BTN ketimbang, misalnya, Bank Ekspor Indonesia (BEI). Apalagi, kata Sigit, BEI sebenarnya bukan bank, tapi export agency. Maka, sepanjang pekan lalu, ramailah digunjingkan "perkawinan" antara BNI dan BTN.

Sebelumnya, Menteri Negara BUMN Sugiharto mengatakan, pemerintah akan menggabungkan usaha BTN dan BEI dengan bank pemerintah yang sudah go public, seperti BNI, BRI, dan Mandiri. Penggabungan ini dilakukan jika kinerja kedua bank itu tidak memenuhi target yang dipatok pada 2004. Nah, dari berbagai kemungkinan itu, BNI diperkirakan akan merger dengan BTN.

Rencana Sugiharto memang klop dengan cita-cita BNI. Ke depan, BNI memang akan mengurangi penyaluran kredit korporasi dan memperbesar kredit konsumsi, sehingga risiko lebih tersebar dan bank lebih aman. Komposisi kredit korporasi BNI saat ini mencapai 48 persen dan 52 persen untuk usaha kecil menengah (UKM) dan konsumsi. "Dari 52 persen itu, komposisi kredit konsumsi BNI masih sedikit sekali," kata Sigit.

Merger dengan BTN akan memperbesar kredit konsumsi bank gabungan, karena 90 persen kredit BTN adalah kredit pemilikan rumah (KPR). Namun, yang lebih penting, kata Sigit, merger dapat mendongkrak nilai perusahaan. Modal BNI yang Rp 13,8 triliun naik menjadi Rp 14,84 triliun setelah ditambah BTN Rp 1,04 triliun. Nilai divestasi atau pelepasan saham pemerintah di BNI, yang masih diagendakan, juga bakal lebih baik. Bukan tidak mungkin nilai divestasi BNI setelah merger dengan BTN bertambah.

Laba bank merger, kata Sigit, juga bisa saja bertambah Rp 200 miliar-Rp 300 miliar akhir tahun ini. "Asal saja merger segera direalisasikan dalam waktu dekat." Sebagai gambaran, ia mengindikasikan laba BNI pada 2004 mencapai Rp 3,1 triliun, sedangkan laba BTN Rp 482 miliar. Hanya, rasio kecukupan modal (CAR) bank gabungan akan turun sedikit karena CAR BTN. "Tapi itu tak masalah, modal bisa ditambah dengan penjualan saham baru (rights issue)," katanya.

Sayangnya, bank yang bakal dipinang BNI itu tak mau banyak bicara. "Saya susah menjawab soal merger," kata Direktur Kredit BTN, Siswanto. BTN memang belum menyiapkan kajian merger. Dalam rapat umum pemegang saham BTN, Januari lalu, pemerintah sebagai pemegang 100 persen saham BTN belum menyampaikan permintaan merger BTN dengan bank lain, apalagi disebut-sebut dengan BNI. "Kami juga belum dipanggil Menteri Negara BUMN terkait dengan soal merger ini," ujar Siswanto.

Bila nanti memang baik bagi BTN, katanya, BTN tidak bisa menolak rencana itu. "Manajemen BTN hanya berusaha meningkatkan kinerja perusahaan," katanya. Beberapa indikator kinerja BTN dari 2003 ke 2004 memang menunjukkan kenaikan lumayan. Laba, misalnya, naik dari Rp 218 miliar menjadi Rp 482 miliar, modal naik dari Rp 903 miliar menjadi Rp 1,04 triliun, dan CAR naik dari 12,19 persen menjadi 16,74 persen. Adapun kredit seret (non-performing loan) turun dari 3,8 persen ke 3,2 persen.

Menteri Negara BUMN Sugiharto pun ikut-ikutan mingkem. Dia menolak memberikan penjelasan mengenai evaluasi kinerja kedua bank sepanjang 2004. Ia juga enggan menjelaskan soal kemajuan rencana merger itu. Rencana ini diserahkan ke manajemen bank, karena semua bergantung pada rencana bisnis masing-masing. "Jadi, tanya saja ke mereka, saya ini hanya pemegang saham," katanya.

Sumber Tempo di BTN menilai, dengan membaiknya kinerja, seharusnya BTN tak perlu dimerger. Apalagi BTN sudah menjadi bank yang fokus di sektor properti, seperti diharapkan dalam arsitektur perbankan Indonesia. Lagi pula, pada akhirnya merger menuntut efisiensi yang ujung-ujungnya rasionalisasi karyawan. "Ini sudah menjadi buah bibir di kalangan karyawan BTN," kata sumber itu.

Ketua Umum Real Estate Indonesia, Lukman Purnomosidi, juga tak setuju rencana merger. Dengan penggabungan itu, dikhawatirkan tidak ada lagi bank yang fokus di properti, padahal pengembang tetap butuh bank yang konsisten menyalurkan KPR, terutama untuk masyarakat bawah. "Jadi, masalahnya bukan soal ukuran besarnya bank hasil merger," kata Lukman.

Sigit tak menampik kemungkinan rasionalisasi karyawan itu. Namun, katanya, setelah aspek legal diselesaikan, BTN masih bisa beroperasi seperti biasa, sehingga tidak perlu ada kantor cabang yang ditutup dan rasionalisasi karyawan. Sebagian direksi juga akan masuk di tim manajemen unit eks BTN dalam bank gabungan, dan mendapat fasilitas yang sama ketika masih di BTN. "Integrasi merger baru akan selesai sekitar dua tahun," katanya.

Soal kekhawatiran pengembang, Sigit meyakinkan, bank hasil merger justru akan memberikan kesempatan kepada pengembang mengakses kredit properti hingga 10 kali lipat dari yang diberikan BTN saat ini. Dengan modal BTN Rp 1 triliun, sesuai dengan ketentuan batas maksimum penyaluran kredit (BMPK) Bank Indonesia sebesar 20 persen, BTN hanya bisa menyalurkan kredit Rp 200 miliar. Namun, jika bergabung dengan BNI, yang modalnya Rp 13,8 triliun, penyaluran kredit bank hasil merger bisa mencapai Rp 2 triliun lebih. "Itu juga berarti penyaluran KPR bisa lebih besar," kata Sigit.

Merger juga akan menurunkan tingkat suku bunga KPR BTN yang kini masih cukup mahal dibanding bank lain. Sebab, biaya dana (cost of fund) BTN yang lebih tinggi dari BNI akan turun ketika bergabung dengan BNI, yang biaya dananya lebih murah. Semakin banyaknya jaringan kantor cabang bank hasil merger akan makin mengefisienkan biaya. BNI sendiri memiliki 920 cabang, sementara BTN 44 cabang. "Ibarat memasang jaring, makin banyak yang disebar makin banyak ikan yang didapat," Sigit beramsal.

Analis Supra Surya Danawan Hendra Bujang menilai, kekhawatiran kalangan pengembang bahwa bank hasil merger akan kehilangan fokus di kredit properti terlalu berlebihan. BNI menginginkan merger dengan BTN justru untuk memanfaatkan jaringan BTN yang sudah kuat di kredit properti. "Bila BNI tidak mengembangkan kredit di sektor ini, buat apa BNI membeli BTN?" katanya. Akan sia-sia bagi BNI merger dengan BTN bila tidak memanfaatkan kekuatan BTN itu.

Hendra memperkirakan merger kedua bank ini memiliki prospek bagus. Namun prospek itu tidak dilihat dari besarnya aset bank hasil merger, tapi dari kesempatan BNI mengembangkan kredit konsumsi. "Tapi itu butuh waktu," katanya. Bank merger juga belum tentu dapat mendongkrak tambahan nilai divestasi, karena mengelola kredit properti di tengah kepungan bank lain yang juga menyalurkan kredit yang sama tidaklah mudah.

Karena itulah, agar perkawinan sama-sama enak bagi keduanya, BTN agaknya perlu membuat kajian sendiri. Dengan begitu, untung dan ruginya bisa ditimbang dan dilihat bersama-sama. Siapa tahu, BTN memang hoki berjodoh dengan BNI.

Taufik Kamil


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data