|
TAK semua orang tua bocah ajaib gampang tergiur oleh segepok duit. Paling tidak, ini terjadi pada kisah Freddy Adu, 15 tahun, seorang warga negara Amerika Serikat. Sebagai pemain sepak bola berbakat, ia sudah lama menjadi incaran klub-klub besar di Eropa. Klub Inter Milan, Italia, bahkan sempat menawarinya kontrak senilai US$ 750 ribu atau sekitar Rp 6,7 miliar. Namun, iming-iming ini sia-sia saja karena Emilia, ibu Adu, menolak.
Bermain di klub DC United, Freddy Adu sekarang menjadi pemain termuda yang berlaga di Major League Soccer, liga utama di Amerika. Dia sebenarnya bukan pemain asli Amerika. Adu lahir di Ghana, Afrika, pada 2 Juni 1989. Dia lalu pindah ke Amerika mengikuti ibunya yang mendapat izin tinggal (green card) di negeri ini.
Karena bakatnya yang menonjol, Adu bisa masuk Program Pengembangan Olahraga Amerika Serikat pada 1998. "Kemampuannya begitu alami sehingga kita tak perlu melatihnya sama sekali," kata Peter Mellor yang menanganinya. Jangan heran jika karier Adu langsung melesat bak meteor. Pada 2003, saat masih berusia 13 tahun, dia sudah memperkuat tim Amerika untuk usia di bawah 17 tahun yang berlaga pada kualifikasi Piala Dunia. Dia menjadi pemain termuda di tim. Di sinilah kemampuannya banyak dipuji pengamat sepak bola di Eropa.
Kini uang dan ketenaran sudah dalam pelukan. Musim ini Adu mengantongi US$ 500 ribu atau sekitar Rp 4,5 miliar dari gajinya di DC United. Dia juga mendapatkan duit US$ 1 juta (Rp 9 miliar) dari hasil kontrak dengan perusahaan sepatu Nike. Semua ini belum memuaskan Adu. Seperti pemain sepak bola lain, dia pun berhasrat menguji kehebatannya di Eropa. "Saya berharap suatu saat bisa berlaga di Inggris bersama Manchester United," katanya.
Nurdin Saleh
|