Berburu Bocah-bocah Ajaib Klub-klub sepak bola Eropa berlomba-lomba merekrut bocah berbakat dari seluruh dunia. Investasi jangka panjang. |
DIBANDING anak sebayanya, tubuh bocah ini tidaklah istimewa. Dengan umur sembilan tahun, beratnya hanya 35 kilogram dan tingginya 1,37 meter. Walau begitu, badannya yang mungil ternyata menyimpan bakat luar biasa sebagai seorang pemain sepak bola. Di usianya yang masih muda dia pun sudah jadi incaran klub-klub besar di Eropa.
Itulah Jean Carlos Chera yang lahir Matto Grosso, Brasil. Anak yang biasa dipanggil Anderson ini terbilang sebagai bocah ajaib. "Dia me-mang bocah fenomenal. Mungkin ia akan jadi pemain terbaik yang lahir di Brasil," kata Adilson Batista Prado, Presiden Klub Associacao Desportiva Atletica.
Berada di Campo Mourai, bagian utara Parana, Brasil, Atlecita hanya sebuah kecil. Di sinilah sehari-hari Anderson berlatih dan bermain. Dia bergabung dengan tim yang diperkuat pemain yang rata-rata berusia empat tahun lebih tua. Kendati begitu, penampilan Anderson tetap menonjol dan selalu jadi andalan. Sebagai gelandang, dia mahir mengumpan dan mencetak gol.
Namanya mulai dikenal luas setelah beberapa bulan lalu pengurus Klub Atletica menayangkan cuplikan pertandingan yang diikuti Anderson dalam situs resmi klub, "http://www.adap.com.br/" www.adap.com.br. Rekaman itu antara lain memuat sebuah gol luar biasa yang lahir dari kakinya. Anderson membawa bola dari tengah lapangan, mengecoh beberapa pemain lawan dan akhirnya me-lesakkan sebuah gol cantik.
Rekaman ini membetot perhatian para pencinta sepak bola. Situs itu terus diserbu pengunjung yang penasaran sehingga sering macet karena kelebihan beban. Klub-klub besar Eropa pun tertarik untuk merekrutnya. "Ada enam klub besar Eropa yang secara khusus mengutarakan minatnya terhadap anak ini," kata Batista Prado. Di antara klub yang berminat adalah Man-chester United dan FC Porto. Menurut Prado, ikatan kontrak memang ada. "Tapi saya yakin tak akan lama lagi," katanya.
Lahir pada 12 Mei 1995, Anderson sudah bermain bola sejak mulai bisa berjalan. Di Matto Grosso, kota kelahirannya, yang berpenduduk sekitar 50 ribu jiwa, dia dijuluki Maradona sejak belia. Tahun lalu, pemandu bakat dari Asosiasi Olahraga Parana mengajaknya pindah ke Campo Mourao untuk bergabung dengan Klub Atletica. Tak butuh waktu lama, dia pun segera jadi maskot klub ini.
Di tengah hujan pujian, orang tua Anderson yang juga ikut pindah ke Mourao memilih menutup diri. Dia menjauhkan Anderson dari segala permintaan wawancara. Dia tampaknya khawatir anaknya akan berakhir seperti Erik Lamela, bocah ajaib dari Argentina.
Erik Lamela, 12 tahun, tak kalah moncer dibanding Anderson. Dia juga dijuluki Maradona muda karena bakatnya yang menonjol. Klub raksasa Spanyol Barcelona bahkan sudah tertarik merekrutnya. Dua bulan lalu, mereka menawarkan kontrak lima tahun senilai 120 ribu euro atau sekitar Rp 1,4 miliar per tahun. Erik sangat senang, begitu juga orang tuanya.
Hanya persoalan kemudian muncul. Klub River Plate keberatan terhadap tawaran itu. Klub yang telah membesarkan Erik sejak usia 7 tahun ini merasa dilangkahi karena tak diajak bicara. Mereka mati-matian menentang rencana tersebut. Pro dan kontra lantas meruyak di media massa. Keluarga Erik akhirnya terpojok. Mereka memutuskan menolak tawaran Barcelona dan membiarkan Erik tetap di River Plate.
Ada juga bocah ajaib yang meraih mimpinya dengan mulus. Ini dialami oleh Shervin K'Adeli, 11 tahun. Anak kelahiran Australia ini sekarang sudah bermain bola di Eropa. Sejak tahun lalu Shervin dikontrak klub raksasa Jerman, Eintracht Frankfurt. Menurut pelatihnya, Dusan Purac, bocah yang lahir di Mosman ini mempunyai bakat yang luar biasa. "Dia memiliki bakat campuran dari George Best, Pele, dan Maradona," katanya.
Bakat tersebut terdeteksi oleh klub Eintracht Frankfurt saat Shervin bersama ayahnya berkunjung ke Jerman untuk menengok pamannya. Dia sempat mengikuti tes di klub tersebut. Hasilnya? Para penguji tercengang. Bocah ini mampu melakukan juggling (menendang bola secara terus-menerus agar tak menyentuh tanah) sebanyak 2.000 kali tanpa henti. Shervin lalu mendapat kontrak untuk bermain dan menimba ilmu di klub itu.
Shervin bukan satu-satunya bocah yang mendapat kontrak pada usia yang amat muda. Dua tahun tahun lalu, bocah Inggris bernama Joseph Welch juga telah dikontrak klub Real Madrid, Spanyol. Saat itu Welch masih berusia 10 tahun. Begitu pula Nial Masson, 7 tahun, juga dari Inggris. Tahun lalu, ia telah direkrut oleh klub yang sama untuk berlatih dan bermain di sana.
Selama ini klub-klub besar seperti Real Madrid dan Manchester United rela menghabiskan banyak duit buat melatih bocah-bocah yang berbakat. Selain memiliki sekolah sepak bola, mereka juga mempunyai tim junior yang rutin terjun dalam berbagai kompetisi. Manchester United, misalnya, mampu menghasilkan pemain berkualitas seperti Darren Fletcher, John O'Shea, Ryan Giggs, dan Paul Scholes.
Sayang, bocah-bocah berbakat istimewa tak selalu mudah didapat. Itu sebabnya, kini mereka membuka diri terhadap anak-anak dari berbagai belahan dunia. Dengan merekrut anak dari luar negeri, biaya yang harus dikeluarkan klub itu memang jadi lebih besar. Selain harus membayar kontrak pemain dan membiayai sekolah formalnya, mereka juga mesti memboyong orang tuanya. Tapi segala pengorbanan ini akhirnya akan berbuah keuntungan bila kelak si bocah menjadi bintang.
Nurdin Saleh
|