Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 50/XXXIII/07 - 13 Februari 2005
   
Kriminalitas

Gara-gara Tunjangan Ditunda

Perkelahian berdarah terjadi antara sesama politisi Golkar Lampung Tengah.

SERANGAN itu datang ketika rapat di kantor Partai Golkar yang berada di Jalan Negara Gunung Sugih, Lampung Tengah, baru saja usai. Belum sempat Robinson, 39 tahun, beranjak dari kursinya, tiba-tiba ia didorong hingga terjengkang. "Jangan macam-macam kamu!" bentak si penyerang. Meski kaget, pengurus Golkar dari Kecamatan Padangratu ini tidak langsung ciut. Dia segera bangkit dan melawan.

Duel antara sesama politisi Golkar pun tak terelakkan. Soalnya, si penyerang, Nopen Ahdariyanto, yang seumur Robinson, juga orang Golkar. Sehari-hari ia dikenal sebagai anggota Fraksi Partai Golkar di DPRD Lampung Tengah. Perkelahian jadi tidak seimbang setelah keponakan Nopen, Fadri Monsi Anshori alias Andi, ikut membantu sang paman. Lelaki 30 tahun ini langsung mengeluarkan badik dari pinggangnya.

Melihat si keponakan lebih berani, Nopen mengeluarkan pisau dari balik bajunya. Karena diancam oleh dua orang, Robinson tak mau jadi sasaran empuk. Dia pun buru-buru menghunus pisau. Namun, aksi Andi tidak terbendung. Sebuah tusukan yang sulit ditangkis terhunjam di punggung Robinson. Korban semakin tak berdaya setelah badik juga menusuk dadanya hingga tembus ke jantung. Darah muncrat ke mana-mana, membasahi tembok, meja, kursi, dan lantai. Ayah empat anak ini akhirnya terkapar.

Orang-orang Golkar yang melihat kejadian pada Kamis sore, dua pekan lalu itu, berusaha menolong Robinson. Ketua Golkar Lampung Tengah, I Made Bagiase, pun turun tangan. Namun akhirnya Robinson meninggal di rumah sakit.

Gegerlah khalayak Lampung Tengah. Kendati masyarakat di sana terbiasa membawa badik ke mana-mana, menghabisi nyawa orang lain tetaplah sebagai pembunuhan. Hanya setengah jam berselang, Kepolisian Resort Lampung Tengah langsung menangkap Andi yang selama ini dikenal sebagai anggota Angkatan Muda Partai Golkar. Kepada polisi, ia mengaku penusukan itu dilakukan spontan. "Saya lihat Robin marah pada paman saya. Saya tegur, dia marah-marah, makanya saya tikam," katanya.

Nopen sendiri sempat menghilang. Setelah lima hari aparat memburunya, tiba-tiba ia muncul di Markas Polres Lampung Tengah dengan didampingi Hadri Abunawar, pengacaranya. Nopen membantah dirinya melarikan diri. "Kami butuh waktu untuk kompromi sebelum menyerahkan diri," ujar Hadri.

Ketika diperiksa, Nopen selalu berkelit. Kendati begitu, polisi tetap menjerat dia dan keponakannya dengan pasal pembunuhan dan kepemilikan senjata tajam. Lagi pula, menurut Kapolres Lampung Tengah, Ajun Komisaris Besar M. Juni, penahanan terhadap anggota DPRD itu telah mendapat izin dari Gubernur Lampung Sjachroeddin Z.P. Hal ini dibenarkan pula oleh Gubernur. "Silakan polisi memeriksa Nopen karena perbuatan kriminalnya," katanya.

Perkelahian yang berakhir dengan pembunuhan itu bermula dari perdebatan yang memanas di ruang rapat Partai Golkar Lampung Tengah. Saat itu, Nopen mengusulkan agar pembayaran tunjangan kesejahteraan untuk pengurus kecamatan Partai Golkar pada tahun ini dibayarkan setiap tiga bulan sekali saja. Tunjangan sebesar Rp 250 ribu per bulan untuk masing-masing pengurus kecamatan ini akan diambil dari gaji para anggota DPRD dari Partai Golkar. Masing-masing anggota dipungut Rp 1 juta setiap bulan. Mengikuti usulan Nopen, berarti tunjangan buat pengurus kecamatan pada Januari dan Februari akan dibayar sekaligus pada Maret nanti.

Rupanya Robinson kurang setuju, lalu menimpalinya dengan sinis. "Mau dibayar Maretkah, tahun 2006-kah, terserah Tuan-Tuan di sini. Kami tak akan mati karena honor itu," kata sang Pengurus Kecamatan.

Ucapan itu membuat Nopen tersinggung. "Kamu enggak usah cari gara-gara," ujarnya. Robin dan Nopen yang duduk berdekatan, hanya terpisah satu kursi, lantas saling memaki. Mereka hampir saja berkelahi di ruang rapat seandainya tidak dilerai oleh kawan-kawannya.

Setelah rapat ditutup, ternyata amarah Nopen belum padam. Sempat keluar sebentar selama kira-kira 15 menit, ia masuk lagi ke ruang rapat untuk menyerang Robinson. Maka, terjadilah perkelahian maut itu.

Eni Saeni, Fadilasari (Lampung)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data