Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 47/XXXIII/17 - 23 Januari 2005
   
Laporan Khusus

Risiko Sepiring Frankenfood

Mau durian tanpa biji? Atau biji kopi rendah kafein? Atau beras yang banyak mengandung vitamin A? Tenang, tenang? semua tanaman yang di masa lalu musykil ada itu kini bisa lahir. Ini semua berkat teknologi transfer gen atau transgenik.

Teknologi utak-atik gen (sifat pembawa keturunan) itu memang bisa membuat banyak orang tercengang. Dua ratus tahun lalu, Gregor Mendel, peletak teori dasar genetika, cuma bisa melahirkan kacang polong dengan warna dan ukuran tertentu. Kini, orang bisa menciptakan tanaman sesuai dengan selera perut dan matanya: lebih nyam-nyam, dengan jumlah produksi berlipat-lipat. Sifat unggulnya juga bisa dipilih. Mau tahan hama penyakit? Ada. Mau kebal perubahan cuaca? Tinggal pilih.

Namun, kehadirannya?dibidani perusahaan-perusahaan Amerika Serikat seperti Monsanto, Pioneer, Aventis?ditentang masyarakat Eropa yang menolak habis-habisan. Di Indonesia, teknologi ini juga mengundang kontroversi. Uji tanam kapas transgenik yang dilakukan Monsanto pada 2000 di Sulawesi Selatan juga ditentang.

Lho, jika tanaman itu lebih unggul, mengapa harus ditolak? Benih transgenik memang berbeda dengan benih unggul hasil perkawinan silang biasa. Benih ini didapat dengan rekayasa genetik. Gen yang buruk dibuang. Lalu, mereka menyisipkan gen unggul dari makhluk hidup lain. Semua itu dilakukan melalui teknologi molekuler yang rumit. ?Dari seribu tanaman yang akan dijadikan bibit transgenik, diperkirakan hanya 5 persen yang jadi,? ujar Dr. Agus Purwito, ahli bioteknologi Institut Pertanian Bogor.

Yang paling populer dilakukan adalah menyisipkan gen dari bakteri Baccilus thuringiensis. Bakteri tanah ini memang punya kristal protein (bernama Cry) yang bila dimakan oleh larva serangga bisa berakibat toksik. Cry inilah yang disisipkan pada benih, kentang, jagung, kedelai dan kapas agar mereka kebal ulat.

Itu teorinya. Tapi saat bibit baru tadi ditanam, fakta berbicara lain. Pada kapas transgenik, contohnya, berdasarkan penelitian empat tahun di Australia oleh Gary Fitt dan Wilson, bukan hanya ulat penggerek buah yang tewas, tapi juga serangga ?baik-baik? seperti kelompok lalat dan kumbang yang selama ini membunuh ulat, ikut mati.

Di Sulawesi Selatan lain lagi. Kapas di daerah itu hancur oleh wereng dan kekeringan. ?Kapas impor itu manja, tak tahan kering dan tak tahan wereng yang justru menjadi hama utama di daerah itu,? kata pakar perlindungan hama terpadu dari Universitas Gadjah Mada Prof. Dr. Untung Kasumbogo. Alhasil, petani Sulawesi Selatan pun kembali ke kapas lokal, Kanesia 7, yang tahan kering dan tahan wereng.

Menurut Untung, selain karena tak cocok, kapas transgenik ini dikhawatirkan mengganggu keseimbangan ekosistem. ?Lebih baik Indonesia hati-hati dengan meneliti risiko lebih dulu daripada nanti menyesal,? ujarnya waswas.

Sejumlah penelitian memang melansir adanya efek samping tanaman transgenik. Penelitian dua mahasiswa pascasarjana IPB, Marhamah Nadir dan Reza Indriadi, menunjukkan bahwa tanaman itu mengkontaminasi kapas lokal di sekitarnya. Transfer gen itu terjadi saat penyerbukan. Akibatnya, kapas lokal kini sebagian mengandung Bt. Bagi petani, biji-biji kapas yang mengandung racun akan sulit diekspor ke negara-negara yang melarang produk untuk bahan minyak itu. Kontaminasi gen ini, berdasarkan penelitian Dr. John. Losey dari Universitas Cornell di AS, terbukti juga bisa memunculkan gulma-gulma perkasa yang tak terkendali karena kebal ulat.

Ancaman racun buat manusia juga dipersoalkan para aktivis lingkungan. Tabloid-tabloid Inggris menjuluki jagung, kedelai, kentang transgenik bikinan Amerika sebagai Frankenfood?plesetan dari kata ?Frankenstein?, si mayat hidup yang legendaris, dan food. Alasan mereka, ?Jika ulat saja bisa mati, maka itu juga bisa berbahaya buat manusia.?

Agus Pakpahan, mantan Dirjen Perkebunan Departemen Pertanian meminta masyarakat tak antiproduk transgenik. Soalnya, produk ini telah berkembang luas di banyak negara, Amerika, Kanada, Cina, Paraguay, dan Brasil. Setidaknya, kini ada lebih dari 80 juta hektare tanaman transgenik berupa kedelai, jagung, dan kapas. ?Jadi, kita juga tak tahu tempe yang kita makan itu berasal dari kedelai transgenik atau bukan?? tanya Agus. Wah, repot.

Burhan Sholihin, Deffan Purnama, Thomas Hadiwinata


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data