Ada Pelobi dan Juru Kunci |
NAMA Michael Villareal kembali jadi buah bibir. Bukan karena kepergiannya ke Amerika setelah bertunangan dengan aktris Sophia Latjuba, medio Desember lalu. Kali ini, mantan Wakil Presiden Harvest International Indonesia itu disebut-sebut ada urusan dengan kasus suap Monsanto Company terhadap sejumlah pejabat Indonesia.
Mantan Menteri Lingkungan Hidup, Nabiel Makarim, mengaku pernah dilobi utusan Monsanto, di antaranya Michael Villareal, konsultan perusahaan rekayasa genetik itu. ?Saya sudah kenal Michael lama,? kata Nabiel seusai pemeriksaan di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), pekan lalu. Konon, Villareal melobi sejumlah pejabat sehingga bisnis kapas transgenik Monsanto di Sulawesi Selatan mendapat izin pemerintah.
Monsanto menguasai 90 persen pasar bibit transgenik di Amerika Serikat. Namun penjualan terbesarnya masih dari herbisida roundup/glyphosate. Di hampir 50 negara, Monsanto mempunyai puluhan anak perusahaan. Pada 1996 perusahaan ini melebarkan sayap bisnisnya ke Indonesia, dan sejak itu memasarkan produk herbisidanya di sini.
Bisnisnya di Indonesia dijalankan melalui Monagro Kimia, perusahaan yang dibentuk bersama mitra lokal dengan 15 persen saham, PT Mitra Kreasidharma. Urusan dengan petani kapas di Sulawesi Selatan, menurut Tejo Wahyu Jatmiko, Direktur Eksekutif Konsorsium Nasional untuk Pelestarian Hutan dan Alam Indonesia, dilakukan melalui anak perusahaan Branita Sandini.
Branita melakukan penjualan benih dan pembelian hasil dari petani, secara monopoli. Tejo mengatakan, hubungan antara petani dan Branita diikat surat perjanjian. Branita membiayai seluruh sarana produksi petani dalam satu paket, dan petani hanya bisa menjual hasil panennya kepada Branita dengan harga yang ditentukan sepihak.
Petani juga hanya boleh menggunakan benih sekali tanam. Artinya, tidak boleh menanam benih dari biji kapas yang dihasilkan sendiri. ?Kalau menanam sendiri, akan diseret ke pengadilan karena melanggar hak intelektual Monagro,? kata Tejo.
Tadinya, petani bersemangat menanam kapas transgenik itu. Dengan menanam 4-5 kali, menurut rekaan di atas kertas, petani dipastikan bisa naik haji. Kenyataannya, baru sekali tanam sudah gagal. Hanya sekitar dua persen lahan yang bisa menghasilkan panen empat ton kapas tiap hektarenya. Pada 2003, petani kembali menanam kapas biasa.
Sepanjang 2001-2003, perusahaan itu rugi terus. Pada 2001, Monagro merugi US$ 7 juta, tahun berikutnya rugi US$ 1 juta. Pada 2003, kerugian melonjak jadi US$ 15 juta. Pil pahit ini mengganjal ambisi perusahaan: menyebar benih jagung dan kedelai yang sudah siap dipasarkan. Kedua komoditas ini diangan-angankan mengeruk banyak duit karena ada jutaan hektare lahan yang bisa digarap.
Tak ada informasi yang bisa didapat dari petinggi Monsanto serta Monagro tentang bisnis mereka di Indonesia. Setelah kasus suap merebak, mereka kompak melakukan gerakan tutup mulut. Kepala Bagian Humas Monagro, Edwin Saragih, mengatakan tak bisa memberikan keterangan. Begitu pula Sahala Sianipar dari Golin Haris, yang ditunjuk menjadi juru bicara Monsanto di Indonesia.
Tejo Wahyu Jatmiko, yang menggugat Monagro sampai Mahkamah Agung, mengatakan bahwa ada dua orang penting yang menjadi ujung tombak perusahaan ini hingga mendapat izin menanam kapas transgenik. Satu di antaranya Michael Villareal. Seorang lagi dosen di sebuah perguruan tinggi pertanian di Bogor. ?Michael jadi pelobi, dia yang pegang kunci,? kata Tejo.
Villareal, yang sangat fasih berbahasa Indonesia, tak bisa dikonfirmasi karena sedang berada di Amerika. Setelah berpacaran dengan Sophia, dia selalu membawa janda satu anak itu jika melobi pejabat negara. Lalu tiba-tiba Sophia lincah berbicara tentang lingkungan hidup, dan pada Mei 2004 oleh Nabiel Makarim ia diminta jadi juru bicara Kementerian Lingkungan Hidup untuk program Bank Pohon. Boleh juga.
Leanika Tanjung
|