Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 28/XXXIII/06 - 12 September 2004
   
Luar Negeri

Pembantaian di Awal Tahun Ajaran

Kelompok radikal Chechen menyerbu sekolah dan menewaskan sekitar 340 orang, termasuk 155 murid sekolah.

PRESIDEN Vladimir Putin sedang berleha-leha menikmati liburan di Sochi, tempat tetirah kaum elite Rusia di tepi Laut Hitam. Lalu mendadak datang kabar buruk itu: kaum radikal Chechen menyandera murid sekolah di Ossetia Utara. Bergegas kembali ke Moskow, di Bandara Vnukovo ia disongsong Direktur Badan Keamanan Federal, Nikolai Patrushev, dan Menteri Dalam Negeri Rashid Nurgaliyev. Putin pun sadar betapa gentingnya situasi negerinya.

Rabu pagi pekan lalu, begitu ia dilapori, 15-25 lelaki dan perempuan meloncat dari truk dan menyerbu masuk ke sekolah nomor satu di Kota Beslan, Ossetia Utara. Saat itu 1.000 murid—sumber lain menyebut 1.500—orang tua, dan guru menghadiri dimulainya festival tahun ajaran baru. "Mulanya saya kira hanya lelucon. Tapi, ketika mereka mulai menembak ke udara, saya langsung tiarap," tutur Zarubek Tsumartov, remaja yang menyaksikan awal serangan.

Memakai masker, menggenggam granat dan bom melilit pinggang, penyerbu langsung menguasai sekolah. Anak-anak dipaksa berdiri di jendela sekolah yang siap diledakkan jika polisi menyerbu. Mereka menuntut Rusia segera menarik pasukannya dari Chechnya dan melepas gerilyawan yang tertawan. Negosiasi kemudian berlangsung antara penyandera dan pasukan Rusia yang datang mengepung.

Namun dua hari kemudian tiba-tiba sebagian sandera melarikan diri dan ditembaki oleh kelompok penyandera. Tentara Rusia lalu menembak balik, merangsek masuk, dan kekacauan pun meletus. Hingga berita ini diturunkan, lebih dari 340 orang tewas, 155 di antaranya anak-anak. Lebih dari 540 orang, termasuk 336 anak-anak, dirawat di rumah sakit. Sebagian besar terluka atau meninggal karena runtuhnya atap bangunan akibat ledakan beberapa saat sebelum tentara Rusia menyerbu. Lima penyandera juga tewas, termasuk yang menembak dirinya. Beberapa lainnya meloloskan diri.

Awalnya, menurut satu sandera yang dibebaskan, timbul ledakan yang merobohkan dinding sekolah, diikuti tembakan dan ledakan berikutnya. Tim negosiator mengajak penyerbu berunding, tapi penyandera justru mengancam akan membunuh 50 anak untuk tiap satu orang di antara mereka yang terbunuh oleh pasukan federal, dan membunuh 20 anak bagi tiap anggota mereka yang terluka.

Timbul kepanikan di jalan-jalan sekitar gedung. Pada hari Kamis, 26 wanita dan anak dibebaskan. Penyerang mengaku bagian dari "Kelompok Kedua Salakhin Riadus Shakhidi". Ini batalion berani mati yang dibentuk dan dipimpin oleh Shamil Basayev. Kelompok ini berada di balik penyanderaan berdarah di Teater Dubrovka Moskow pada 2002 dan Rumah Sakit Budyonnovsk pada 1995. Sebanyak 129 orang tewas saat pasukan khusus menyerbu Teater Dubrovka.

Pemerintah dan rakyat Rusia kini semakin terteror oleh kelompok radikal Chechnya. Mereka juga mengalami trauma setelah jatuhnya dua pesawat komersial, Ahad 29 Agustus, dan pengeboman di dekat stasiun kereta api sehari sebelumnya. Pada aksi Selasa sore itu, satu perempuan meledakkan diri di luar stasiun kereta Rizhskaya, utara Moskow. Akibatnya, 10 orang tewas dan sekitar 50 orang luka-luka.

Putin, yang marah besar, ngotot menolak berunding dengan ekstremis Chechen. "Pemerintah akan terus menghancurkan gerilyawan dan ekstremis yang menolak meletakkan senjata," katanya. Padahal ia sedang menghadapi dilema. Di satu sisi, Putin mendapat tekanan agar mengalah pada tuntutan dan lebih banyak sandera dilepaskan. Tapi, di sisi lain, konsesi dapat diterjemahkan sebagai kelemahan yang akan terus mendorong aksi penyanderaan Chechnya berikutnya.

Penyanderaan terakhir di Beslan telah mengundang kecaman para pemimpin dunia yang juga menyampaikan ungkapan belasungkawa. Presiden Bush mengatakan, penyanderaan ini adalah bentuk peringatan yang kejam mengenai seberapa jauh teroris bisa berbuat. Uni Eropa yang sedang melakukan pertemuan di Brussel mengirimkan ucapan belasungkawa, tapi tetap meminta pemerintah Rusia menjelaskan mengapa tragedi semacam ini bisa sampai terjadi.

Raihul Fadjri (The Independent, Moscow Times, NY Times)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data