Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 22/XXXIII/26 Juli - 01 Agustus 2004
   
Olahraga

Dalam Genggaman Darah Muda

Brasil dan Argentina tak pernah kekurangan bakat besar. Dengan para pemain muda pun, Copa America mereka kuasai.

PESERTA Copa America 2004 yang lain boleh turun dengan para pemain kelas satunya. Brasil dan Argentina cukup diwakili skuad cadangan. Hasilnya, tetap saja kedua tim ini merajalela dan akhirnya mereka mesti membuktikan siapa yang terhebat di partai puncak.

Perjumpaan Brasil dan Argentina di partai final yang digelar pada 25 Juli di Peru menjadi tanda bahwa kejayaan sepak bola dua negeri ini amat susah ditandingi. Di sana pemain muda berbakat selalu lahir setiap saat, tiada habisnya.

Lihatlah Brasil. Setelah era Pele selesai, negeri ini menghasilkan generasi Zico, lantas Romario, dan disusul Ronaldo. Kini generasi Alessandro de Souza alias Alex sudah siap menggantikannya.

Argentina tak kalah suburnya. Pada 1950-an, negeri ini melahirkan pemain berbakat Alfredo di Stefano, kemudian Maradona tiga dasawarsa kemudian, dan belakangan Sebastian Veron dan Pablo Aimar. Sebelum generasi terakhir habis ?masa pakai?-nya, kini telah muncul bintang muda semacam Carlos Tevez.

Di pertandingan babak penyisihan sampai semifinal, tim Argentina telah menyodorkan sebuah bukti. Dengan bakat dan semangat darah muda, mereka bisa menaklukkan tim-tim lain yang dijejali pemain berpengalaman. Terakhir, Carlos Tevez dan kawan-kawan membantai juara bertahan Kolombia dengan skor 3-0.

Dalam kawalan pemain senior macam Kily Gonzalez dan Javier Zanetti, bintang-bintang muda Argentina amat leluasa memamerkan bakatnya. Di depan, Tevez bergantian dengan Luciano Figueroa, Cesar Delgado, dan Javier Saviola. Di tengah, D?Alessandro menjadi pengatur serangan. Sedangkan Gabriel Heinze berduet dengan Fabricio Collocini di jantung pertahanan.

Saat Argentina menaklukkan Kolombia, pelatih Marcelo Bielsa menurunkan formasi alternatif 4-3-3 dengan trio striker Delgado, Figueroa, dan Tevez agak sedikit di belakang. Sebuah media lokal menyebut, ini permainan terbaik Argentina setelah ditinggalkan Maradona.

Distribusi gol Argentina cukup merata. Sebelum partai final, Saviola menjadi pengumpul gol terbanyak, tiga gol. Tevez, Delgado, dan Luis Gonzales masing-masing mencetak dua gol. Semuanya masih berusia muda. Delgado dan Luis Gonzales baru berumur 23 tahun. Tevez malah masih berumur 20 tahun.

Dengan tubuh setinggi 170 sentimeter, Tevez dikenal sebagai pemain yang lincah. Sebelumnya, ia sudah pernah berduet dengan Delgado di klub Boca Juniors. Tahun lalu, Tevez terpilih sebagai pemain terbaik Amerika Selatan setelah mengantar Boca menjuarai Piala Libertadores. Dia ingin sekali menjadi bintang sepak bola dunia. Di ruang tidur pemuda ini selalu tertempel poster Maradona, Ronaldo, dan David Beckham. Demi mewujudkan mimpinya, seperti pemain muda Argentina lainnya, ia bertekad bermain di klub ternama di Eropa.

Gabriel Heinze, pemain muda yang kini menjadi andalan Argentina di jantung pertahanan, malah sudah merasakan nikmatnya bermain di klub Eropa. Bukan saja hidupnya terjamin, namanya juga lebih gampang meroket. Setelah bermain di klub Paris Saint-Germain, pemain berusia 26 tahun ini dibeli raksasa Inggris, Manchester United. Dia dikontrak dengan banderol 6,9 juta poundsterling atau sekitar Rp 93 miliar. Heinze menyusul langkah Walter Samuel dan Zanetti, para defender Argentina yang berhasil menaklukkan Eropa. Sebelumnya, negeri ini lebih dikenal dengan gudang pemain tengah dan penyerang.

Sementara pemain muda Argentina masih didampingi beberapa pemain senior, Brasil lebih revolusioner. Pemain berpengalaman yang mengawal tim ?Samba? hanyalah sekelas Edu atau Kleberson. Di Arsenal, Edu bukan pilihan utama. Kleberson lebih parah, hampir selalu duduk di bangku cadangan klubnya, Manchester United. Hanya, Brasil memiliki seabrek pemain muda yang hebat.

Sebut saja Adriano, 22 tahun, yang kini bermain untuk Inter Milan. Di Copa America, ia telah mengoleksi enam gol. Bahkan Adriano membuat hat-trick ketika mengempaskan Kosta Rika 4-1.

Nama lain yang harus disebut adalah Diego Ribas da Cunha, yang baru berusia 19 tahun. Memang dia belum pernah main sebagai starter. Soalnya, pada posisi playmaker, dia harus bersaing dengan seniornya, Alessandro ?Alex? de Souza. Tapi Diego selalu main meski sebagai pengganti

Musim lalu, Diego menjadi aktor utama kebangkitan klub Santos. Setelah lewat 20 tahun tak pernah menjadi juara, klub yang membesarkan Pele ini merajai Liga Brasil lagi. Bersama pasangannya, Rubinho, ia digadang-gadang menjadi penerus tradisi kehebatan pemain Brasil. Real Madrid dan FC Porto pun tengah berebut mendapatkannya.

Untuk mendapatkan tempat utama di tim Brasil, Diego tak hanya bersaing dengan Alex. Pemuda berpostur gempal ini harus pula berhadapan dengan Kaka dari AC Milan, yang pada Copa America kali ini tidak dipanggil.

Dengan pemain-pemain mudanya, Brasil bisa melangkah ke final setelah menang adu penalti melawan Uruguay. Mereka mesti menghadapi Argentina, yang juga dijejali pemain berbakat. Siapa juaranya jadi kurang penting. Yang jelas, Copa America bakal digenggam para pemain muda. Kini orang hanya menanti-nanti, siapa di antara mereka yang kelak akan menjadi pemain sekelas Pele dan Maradona.

Andy Marhaendra (dari berbagai sumber)



Jogo Bonito dari Jalanan Kumuh

Sepak bola adalah olahraga rakyat Amerika Selatan. Karena sebagian besar masyarakat di sana miskin, bola kaki pun identik sebagai permainan orang miskin. Dengan bola, anak mudanya bermimpi mengubah nasib. Sebagian di antaranya berhasil.

Diego Maradona adalah contoh yang gampang. Ia lahir di daerah miskin, pinggiran Buenos Aires, Argentina. Maradona kecil biasa bermain bola di jalanan ibu kota Argentina itu. Dengan bakatnya, ?si Bogel? lalu menangguk prestasi dan uang.

Begitu pula Pele, legenda sepak bola dari Brasil. Ia pun muncul dari perkampungan miskin, seperti kebanyakan penduduk negeri itu. Pele biasa memainkan futebol de salao di jalan-jalan kumuh dan pantai. Futebol de salao adalah istilah Brasil untuk menyebut permainan si kulit bundar yang dilakukan di tempat sempit.

Permainan bola di jalanan itulah yang menghasilkan jogo bonito, permainan sepak bola indah ala Brasil. Ada yang menyebut ini gaya samba, merujuk tarian khas negeri itu. Dari generasi ke generasi, ciri ini bertahan. Bahkan, kendati ditangani pelatih berkarakter keras, Luiz Felipe Scolari, Brasil tetap bermain indah untuk merebut Piala Dunia 2002.

Dari jalanan di Argentina dan Brasil, pemain muda berbakat terus-menerus muncul. Padahal kedua negara itu hanya memerlukan 11 pemain atau 22 pemain termasuk cadangan. Maka sebagian di antara mereka memilih pindah kewarganegaraan agar dapat bermain di tim nasional negara lain. Ini dilakukan oleh Mauro Camoranesi, sayap kanan kelahiran Argentina yang kemudian memilih menjadi warga negara Italia. Kebetulan, kakek-buyutnya ada yang berdarah Italia. Camoranesi dikecam rekan sesama Argentina, tapi dipuja masyarakat Italia.

Peluang semacam itu tak dapat dimanfaatkan Ailton, Dede, dan Leandro. Tiga pemain asal Brasil itu saat ini merumput di Liga Jerman. Lima bulan lalu, mereka berniat menjadi warga negara Qatar, agar punya kesempatan bermain bersama tim nasional. Selain itu, kepada ketiganya dijanjikan imbalan besar, sekitar Rp 9 miliar, plus berbagai fasilitas. Hanya, rencana ini kandas karena Federasi Sepak bola Internasional (FIFA) melarangnya. Soalnya, mereka tidak memiliki hubungan darah dengan warga Qatar.

Kegagalan tersebut tak membuat Ailton dan rekannya frustrasi. Soalnya, hidup mereka di Jerman sekarang sudah makmur, jauh lebih makmur dibandingkan dengan kawan-kawan mereka yang masih berada di kampung kumuh di Brasil.

AM


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data