Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 07/XXXIII/12 - 18 April 2004
   
Olahraga

Hujan Uang di Gurun Bahrain

Raungan Formula Satu di gurun Bahrain mulai menyedot investor asing. Indonesia tak berani berharap.

FORMULA Satu (F1) membuat penduduk Bahrain, negara secuil di Teluk Persia, demam puyuh. Juga orang-orang awam semacam Abdullah Salman, 41 tahun. Sambil menggandeng anaknya, ia bergegas memasuki pelataran tribun utama Sirkuit Shakir. Jubah thoub-nya berkibar dan sesekali tangannya mencengkeram igal?cincin hitam pengikat kain kepala?agar tak dimangsa angin. Warga Manama?ibu kota Bahrain?ini ikut mabuk dalam pusaran hajatan pertama mobil-mobil F1 di kawasan gurun pasir, Minggu pekan lalu.

Rata-rata warga Bahrain memang bukan fans fanatik F1. Salman, misalnya, memilih tim favorit dengan alasan sekenanya. "Mungkin saya akan mendukung tim Williams karena saya punya BMW di rumah," ujarnya sambil terbahak. Dan ia pun enteng saja mengorek dari rekeningnya uang US$ 350 (sekitar Rp 3 juta) untuk dua lembar tiket.

Salman hanya satu dari puluhan ribu penduduk Timur Tengah yang mengumbar uang hanya untuk tontonan adu kebut pesawat jet darat ini. Hari itu, 45 ribu tempat duduk di Sirkuit Shakir dipenuhi manusia. Jumlah visa dari luar Timur Tengah (kebanyakan Eropa) yang tercatat di bandara lebih dari 10 ribu, sementara dari kawasan Tim-Teng sendiri mencapai 20 ribu orang. Ini belum termasuk jutaan pasang mata pemirsa TV dari seluruh dunia.

Pasar ini memang incaran utama pemerintah Bahrain saat menawarkan diri sebagai penyelenggara balapan F1. "Dari jutaan manusia yang menonton TV saja, usai balapan banyak investor akan membanjiri Bahrain," kata Syekh Fawaz bin Muhammad al-Khalifa, Direktur Bahrain International Circuit Company, dengan yakin.

Menurut Fawaz, selain menyedot investor asing, pesta itu juga akan membuka mata dunia tentang negeri gurun pasir itu. Sebelum pesta F1, boleh dikatakan negara yang pendapatan per kapita penduduknya mencapai US$ 13 ribu ini hampir tidak dikenal dunia. Negara di Asia Barat Daya yang sedikit lebih besar dari Kota Jakarta itu tenggelam di antara ketenaran negara-negara tetangganya: Kuwait, Arab Saudi, Abu Dhabi, Iran, dan Irak.

Saat kontrak diteken 14 September 2002 (untuk tahun ke depan, mulai 2004), mereka seperti membangun proyek mercusuar yang tidak masuk akal. Mereka belum memiliki fasilitas apa pun selain tandusnya gurun pasir. Waktu 18 bulan yang tersisa mereka kebut untuk membangun semua fasilitas. "Saya mulai dari memilih bagian gurun mana untuk membuat sirkuit," kata Hermann Tilke, arsitek Shakir yang sebelumnya merancang Sirkuit Sepang di Malaysia, kepada TEMPO.

Gurun pasir itu kini memiliki sirkuit yang diakui paling modern di antara sirkuit F1 lain saat ini. Fasilitas, mulai dari paddock, pit, media center, hingga menara Shakir yang menjadi landmark dengan gaya arsitektur tenda gurun, seakan dibangun dalam semalam. "Hanya uang yang bisa membuat bangunan itu jadi kurang dari sebulan," kata Mohammed Darwish, marshal (petugas pinggir lintasan balap) yang asal Bahrain sendiri.

Kerajaan Bahrain, yang dipimpin Raja Hamad bin Isa al-Khalifa, memang tak tanggung-tanggung membelanjakan simpanan uang minyaknya. Mereka menyulap gurun menjadi telaga bisnis dengan ongkos US$ 150 juta. Benar saja, sirkuit ini seperti lampu yang menyedot laron-laron (baca, baron-baron) berduit.

Terbukti, sebelum hari H, satu atau dua investor telah berdatangan. BMW, misalnya, menandatangani kontrak untuk membuka sekolah balap tak jauh dari Sirkuit Shakir. Menggandeng seorang pengusaha Timur Tengah sendiri, Rayan Kazerooni, pemerintah Bahrain juga berencana membangun kota satelit di sekitar sirkuit. Dengan nilai investasi US$ 1,86 juta, kota ini mulai tahun depan akan mengakomodasi lebih dari 1.500 penonton F1. Mulanya, fasilitas ini akan dibangun sebelum balapan awal April lalu. Selain Gulf Air sebagai sponsor utama, Shakir juga berhasil menggandeng Batelco, Toyota-Capital Union, dan Bahrain Petroleum Company.

Tidak hanya pemerintah Bahrain yang diuntungkan. Bagi Bernie Ecclestone, bos Formula One Management (FOM), alasan utama membuka sirkuit di Timur Tengah tak lain adalah untuk mengembangkan pasar. Dan Shakir adalah kunci awal sukses membuka jaringan sirkuit di luar Eropa. "Membuka sirkuit di sini sangat bagus peluangnya untuk membuka pasar baru bagi F1," kata Bernie kepada TEMPO.

Saat balapan berlangsung, Bernie menjadi orang paling sibuk di paddock. Dia harus melayani dari para raja dan sultan Timur Tengah hingga pengusaha sponsor. Meski Sirkuit Shakir sempat dikaitkan dengan isu rawannya keamanan, toh balapan selesai dengan aman. Menurut dia, dibukanya Sirkuit Shakir dan di Cina tahun ini, juga beberapa lainnya di Asia (termasuk India) nantinya, memungkinkan pasar F1 akan terbagi rata. "Komposisi sirkuit F1 akan sama antara Asia dan Eropa," ia menambahkan.

Dari segi finansial, ini sangat penting karena dari tahun ke tahun pembiayaan balapan terus meningkat. Tahun 2003 saja, jika ongkos balapan dari semua tim digabung, dari biaya pembuatan mobil hingga katering, biaya mencapai US$ 2,5 miliar. Dan semua ongkos ini diupayakan bisa ditutup dari reklame para sponsor?yang tentu menginginkan iklan produknya tidak tersiar di satu kawasan saja.

Yang pasti, yang langsung merasakan cipratan rezeki Shakir termasuk tim Jordan-Cosworth. Di mobil EJ14-nya, mereka kebagian iklan emblem pemerintah Bahrain dalam kampanye anti-senjata nuklir. Eddie Jordan tampak bungah ketika emblem itu resmi ditempel dan terpasang sepanjang seri balapan tahun ini. "Ini ide Syekh Hamad dan saya," katanya.

Semua memuji fasilitas modern di sirkuit ini. Lay out lintasannya unik, terutama di tikungan pertama. Kondisi sirkuit yang dikitari gurun justru dianggap suatu tantangan. "Kalau di Sepang, kita hanya dapat panas lintasan," kata Kimi Raikonen (di Bahrain, ia mengalami kerusakan mesin), membandingkan. Lebih-kurang sama panasnya (suhu Sirkuit Sepang mencapai 55 derajat Celsius, Shakir 54 derajat), tapi di Shakir angin kencang juga menerbangkan debu dan pasir gurun ke lintasan. Di Malaysia, mana ada tantangan ini? Itu tantangan baru bagi para pembalap.

Pembalap Indonesia yang beruntung menjajal Sirkuit Shakir adalah Moreno Soeprapto (lihat Anak Kebayoran di Lintasan Shakir). Moreno, yang tergabung dalam tim Minardi Asia, mengikuti seri balap Formula BMW Asia, juga merasakan hal yang sama. "Gabungan antara lintasan panjang dan tikungan-tikungan tajamnya memberi peluang bagi para pembalap untuk saling salip," tutur Moreno, yang ditemui bersama sang ayah, mantan pembalap Tinton Soeprapto.

Saat Tinton ditanya apakah mungkin Indonesia kecipratan rezeki F1 di Sirkuit Sentul, ia tak mau berharap banyak. Obsesinya minimal tahun depan Sentul bisa menjadi host Formula BMW Asia. Menjawab pertanyaan TEMPO yang sama, Bernie Ecclestone berkata, "Mengapa tidak? Siapa yang tahu masa depan? Segalanya mungkin bagi saya."

Tapi kapan?

Endah W.S. (Shakir, Bahrain)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data