Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 21/XXXII/21 - 27 Juli 2003
   
Ilmu dan Teknologi

Membuat Mobil Semakin Aman

Bagaimana perkembangan teknologi pengamanan dari berbagai risiko kecelakaan?

Meliuk-liuk, sebuah mobil melaju dengan lincahnya di sebuah jalan tol di pinggiran Jakarta. Tiba-tiba sopir lepas kontrol. Mobil tergelincir dan memasuki jalur arah berlawanan. Situasi yang mengagetkan. Sebuah mobil dari arah berlawanan berusaha menghindar, tapi justru terguling dan menabrak pohon dan tembok permukiman di pinggir jalan tol itu.

Kecelakaan pada akhir bulan lalu yang menewaskan beberapa calon wisudawan program magister Institut Pertanian Bogor itu bukan yang pertama. Peristiwa serupa masih bisa terjadi kapan saja. Di seluruh dunia, diperkirakan setiap tahun ada 1,17 juta orang tewas dalam kecelakaan lalu lintas, lebih dari 10 juta menderita cacat (Road Safety, The World Bank Group). Sebagian dari penyebabnya adalah konstruksi kendaraan dan peranti pendukung yang tak memadai dari segi keamanan.

Mobil model terbaru terus-menerus dihasilkan dan membanjiri pasar. Teknologi keamanan, termasuk mengantisipasi tabrakan, tiada hentinya berkembang, dan menjadi modal persaingan di antara para produsen.

Pameran otomotif Gaikindo Auto Expo 2003, yang berlangsung di Jakarta pada 19-27 Juli 2003, misalnya, adalah salah satu ajang yang menampilkan kemajuan dan persaingan itu. Berbagai mobil berikut teknologi keamanannya yang mutakhir hadir, di antaranya Volvo XC-90 (mobil terlaris di Amerika Serikat sepanjang tahun lalu, pemenang Traffic Safety Achievement Award 2002), Renault Megane II (peraih European Car of The Year 2003), Mercedes Benz tipe S-Class 350 L (salah satu peraih bintang tertinggi uji tabrakan European New Car Assessment Programme tahun lalu), dan masih banyak lagi.

Seperti apa sebetulnya profil mutakhir teknologi pengamanan mobil? Banyak seginya. Kerangka adalah titik tolaknya. Volvo, misalnya, memanfaatkan boron steel. Ini jenis baja yang, kata Datu Ram Manoppo, National Services Manager Volvo Indonesia, "Kekuatannya sampai lima kali baja biasa, yang memperkukuh kerangka aman mobil (safety cage)." Baja adalah produk penting Swedia, negara asal Volvo.

Produsen lain, Ford, tak mau kalah. Menurut Bagus Susanto, General Marketing Manager Ford Motor Indonesia, mobil Ford mempunyai fasilitas bernama side impact beam. Di bagian depan dan belakang mobil Ford terdapat crumple zone, bahan baja bertekstur. Fungsinya meredam tekanan keras akibat benturan kuat, agar tak ada bagian yang menusuk ruang pengendara dan penumpang. Teknologi yang sama, kata Yosep Swasono Agus, Marketing Department PT Honda Prospect Motor, juga terdapat pada mobil Honda. Namanya G-Con. "G-Con dibuat agar penyaluran daya benturan saat tabrakan terjadi (berlangsung) sempurna.... Penumpang tidak terjepit dan bagian depan mobil saja yang hancur," kata Agus.

Selain kerangka, juga terdapat teknologi keamanan elektronik dan mekanikal, misalnya supplementary restrain system (SRS) berupa kantong udara (airbag), passenger bag, SIPS-bag, inflatable curtain (IC). Cara kerjanya, ketika terjadi tabrakan, sensor penerima getaran menjalankan sistem untuk memfungsikan kantong udara depan, SIPS-bag di sisi samping kursi depan, safety belt (dengan pretensioner, pengikat otomatis), dan IC (membujur di bagian atas dari pintu depan ke belakang).

Secara mekanikal, terdapat whiplash protection system (WHIPS). Bila terjadi benturan dari belakang dan badan penumpang terdorong ke belakang, kursi akan mengikuti gerakan dorongan badan itu. Ini bisa mengurangi peluang celaka patah leher.

Selama ini telah dikenal pula teknologi seperti pengereman antiterkunci (antilock brake system atau ABS). Belakangan ABS berkembang menjadi accelerated skid control (ASC), yang mengatur penyesuaian kinerja rem dan mesin untuk mengendalikan gaya roda terhadap permukaan jalan. Selain pada saat pengereman, sistem ini juga bekerja pada saat akselerasi. Pengembangan pun diteruskan dan lahirlah electronic stability program (ESP) atau traction control. Program ini mengontrol kekuatan rem pada roda depan-belakang untuk mengurangi risiko skidding (mengerem) dan membantu pengemudi menguasai situasi kritis.

Pada Volvo, teknologi itu berkembang menjadi dynamic stability and traction control (DSTC). Secara elektronik, program ini akan memblokir torsi ketika mobil memasuki jalan licin. Dengan begitu, sedalam apa pun pedal gas ditekan, mobil tidak akan melaju kencang. Sistem ini juga dikembangkan bersama dengan teknologi roll stability control (RSC) atau roll over protection system (ROPS). Ketika mobil tergelincir di jalan tikungan akibat laju kencang (di atas 60 kilometer per jam) dan gaya sentrifugal, program ini akan menghilangkan terjadinya understeering dan oversteering. "DSTC ini kemudian dikombinasikan lagi dengan automatic wheel drive (AWD), empat roda bisa bergerak," kata Datuk. XC-90 hadir dengan teknologi ini.

Sistem tidak lepas dari pekerjaan sensor. Data dari sensor kecepatan putaran roda, akselerasi, sudut belok, tekanan rem, digunakan oleh sistem untuk melakukan intervensi yang tepat. Maksudnya, biar mobil dapat dikendalikan dengan baik dan aman meskipun melewati medan sulit dan berbahaya. "Ada sekitar 200 sensor dan 150 unit pengontrol yang bekerja sama, memandu, dan terintegrasi, mulai dari ABS sampai ESP," ujar Anto Nurdiyanto, Deputy Director Marketing and Product Management Daimler Chrysler.

Sebagai teknologi mutakhir pada awal tahun ini, Mercedes pun mengenalkan Pre-Safe. "Konsep ini lahir dari riset. Dari dua pertiga kecelakaan, terdapat celah antara mengenali potensi kecelakaan dan terjadinya kecelakaan itu sendiri. Pre-Safe memanfaatkan celah waktu itu untuk memicu sistem pengamanan preventif, sehingga risiko cedera penumpang semakin kecil," kata Anto lagi.

Walau tujuannya sama, BMW pun menghadirkan perbedaan nama untuk teknologi itu, yaitu automatic stability control plus traction (ASC+T).

Semua itu memang harus dibayar mahal. Bayangkan, Volvo harus menyediakan Rp 100 juta untuk teknologi keamanannya. Untuk satu airbag saja, harganya Rp 10 juta-12 juta. Padahal, untuk sebuah Volvo XC-90 seharga Rp 810 juta, harus disediakan banyak airbag.

Namun, pada akhirnya, menurut Soehari Sargo, pengamat otomotif dari Institut Teknologi Indonesia, keamanan berkendara sangat tergantung pengemudi. "Kalau safety belt tidak dipakai, semua teknologi itu tidak ada gunanya," katanya.

Levi Silalahi, Priandono Kusumo (Tempo News Room)



Benteng di Atas Roda

Pelindung tabrakan dari depan (frontal impact):

  • konstruksi crumple zone di kap mesin
  • dua kantong udara di bagian depan, pengendara dan penumpang depan
  • sabuk pengaman (lengkap dengan sistem tensioner, pengencang otomatis) di semua kursi depan dan belakang

Pelindung tabrakan dari samping (side impact):

  • SIPS-bag (side impact protection system) di kursi depan bagian samping
  • di bagian pintu kiri-kanan dan konsul utama kabin penumpang terdapat boron steel
  • IC (inflatable curtain)

Pelindung tabrakan dari belakang:

  • crumple zone
  • kursi dengan whiplash protection system
  • sandaran kepala (head restraints)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data