Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 17/XXXII/23 - 29 Juni 2003
   
Peristiwa

Nasib Stasiun Semut

DULU berjaya, kini merana. Begitu nasib Stasiun Semut, stasiun kereta api tua di Kota Surabaya, Jawa Timur. Lebih dari seabad setelah dibangun pemerintah kolonial Belanda, stasiun di tepi jalan besar itu jadi tak terurus. Bangunannya kian melapuk. Atap peronnya hilang, sebagian temboknya hancur.

Tapi kehancuran Stasiun Semut bukan semata karena usia tua. PT Senopati Perkasa, investor yang ditunjuk PT Kereta Api Indonesia, membongkarnya sejak 3 Mei lalu. Sebagai gantinya, sesuai dengan nota kesepakatan di antara kedua pihak, di atasnya akan dibangun pertokoan yang dikelola Senopati Perkasa selama 30 tahun. "Pembongkaran Stasiun Semut sudah direncanakan sejak 1989 antara Menteri Keuangan dan PT KAI pusat," kata Kepala Seksi Tanah dan Bangunan Daerah Operasi VIII KAI, Tarmuji Djais.

Persoalan rupanya tak sederhana. Pemerintah Kota Surabaya meradang. Maklum, selain tak ada koordinasi sebelumnya, menurut Kepala Badan Pembangunan Kota Surabaya, Tondojekti, Stasiun Semut termasuk bangunan cagar budaya yang dilindungi.

Tondojekti bahkan melaporkan kasus ini ke polisi. Pekan lalu, Kepolisian Wilayah Kota Besar Surabaya sudah meminta keterangan dari Kepala Stasiun Semut, Bambang Moeljono, Tarmuji Djais, dan Kepala Daerah Operasi VIII KAI, Djusman Manurung. "Bila ditemukan unsur pidana, kami akan menjeratnya dengan Undang-Undang No. 5/1992 tentang perusakan cagar budaya," kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polwiltabes Surabaya, AKBP R. Sigit T.H.

Pihak PT KAI dan PT Senopati sendiri memilih tiarap. Kegiatan pembongkaran dihentikan sejak 3 Juni. Menurut juru bicara PT KAI Daerah Operasi VIII, Sudarsono, pihaknya akan menunggu dahulu hasil pemeriksaan polisi.

Tomi Lebang, Deddy Sinaga (Tempo News Room), Kukuh S. Wibowo (Surabaya), Mahbub Djunaidy (Lumajang), Fadilasari (Lampung)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data