Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 17/XXXII/23 - 29 Juni 2003
   
Olahraga

Skenario Besar Mister Posh

Akhirnya David Beckham memilih berlabuh di Real Madrid. Rencana ini sebenarnya sudah lama dirancang.

DAVID Beckham seperti berlian palsu. Berkilau-kilau begitu mempesona, tapi begitu dijual ternyata harganya teramat murah. Kepindahannya ke Real Madrid, Selasa pekan silam, cuma dihargai 25 juta poundsterling atau sekitar Rp 362,5 miliar. Sebuah harga yang anjlok dari penawaran yang diajukan Barcelona sebesar 30 juta poundsterling. Biar begitu, si Pengumpan Matang ini bahagia bukan main. ”Bergabung dengan klub besar seperti Real Madrid merupakan kebanggaan besar,” ujarnya sambil menebar senyum.

Senyumnya memang masih maut. Saat Beckham melawat ke Jepang pekan lalu, gadis-gadis di sana terpesona pula. Tapi, bagi pendukung Manchester United, senyuman itu terasa menoreh luka. Bagaimanapun, sosok Beckham telanjur identik dengan klub ini. Kehilangan pemain yang telah banyak menyumbang gelar buat Setan Merah ini tentulah sebuah bencana.

Namun, tak ada kutukan yang bisa dialamatkan kepadanya. Yang bisa mereka persalahkan pasti manajer Sir Alex Ferguson dan direksi klub itu. Gara-gara merekalah bintang sehebat Beckham harus dilepas. Uang hasil penjualan ini diduga akan dipakai untuk belanja pemain baru. Tujuannya agar klubnya kembali menjadi raja di ajang Liga Champions setelah pres-tasinya melorot terus dalam empat tahun terakhir. Namun, dengan angka transfer yang cuma segitu, jauh di bawah rekor dunia yang dipegang Zinedine Zidane dua tahun lalu, banyak orang yang meragukan Fergie bisa membawa pemain-pemain yang bagus ke Old Trafford.

Pertanyaannya, kenapa Beckham dilepas murah. Peter Kenyon, direktur ekse-kutif di Old Trafford, punya jawaban. Harga itu tidak menunjukkan bahwa kualitasnya sudah menurun, tapi karena kondisi industri sepak bola tengah lesu. ”Dalam setahun belakangan, nilai pemain merosot gara-gara banyak klub lagi kesulitan duit,” katanya. Nah, menurut Kenyon, da- lam keadaan seperti itu harga transfer Beckham sudah cukup besar. ”Kami masih untunglah,” ujarnya sambil mesem-mesem.

Skenario menjual Beckham masuk dalam agenda klub ini sejak Mei lalu, sesaat musim kompetisi usai. Ketika itu petinggi Manchester United berembuk untuk melego sejumlah pemainnya. Rupanya, Beckham, yang memiliki masa kontrak dua tahun lagi, masuk dalam ”daftar jual”. ”Karena dia masih bagus harganya. Kalau keburu habis kontraknya, kami enggak bakal dapat duit sepeser pun dong,” kata Kenyon. Buat pemain yang habis masa kontraknya, klub memang harus melepaskannya dengan gratis.

Sinyal yang berkedip di Old Trafford langsung disambar oleh klub-klub besar yang berminat. Barcelona buru-buru menyodorkan angka transfer yang menggiurkan, 30 juta pound. Tapi tak disangka, ternyata Beckham, barang dagangannya, ogah pindah ke sana dan lebih memilih ke Madrid yang sudah bertaburan bintang. ”Dia tersinggung karena cuma jadi bagian kampanye John Laporta, yang kepingin menjadi presiden klub itu,” kata seorang yang dekat dengan Beckham.

Cuma gara-gara itu? Tidak, memang. Menurut orang dalam di Madrid, sebenarnya secara diam-diam David Beckham dan agennya telah lama menjajaki kemungkinan pindah ke Madrid. Kata sumber ini, seperti yang dikutip The Guardian, koran Inggris, ”Pada awal Mei, dia sudah mendapat kepastian besarnya gaji yang diterimanya kalau benar-benar pindah ke Madrid.” Bukan itu saja, sebuah rumah dan sekolah buat si Brooklyn, anaknya, sudah dipersiapkan. Fasilitas itu tampaknya membuat air liur Beckham hampir menetes.

Hengkangnya Beckham juga tidak lepas dari dorongan istrinya, Victoria Adams. Sudah lama sang istri menginginkan agar suaminya cabut dari Manchester United. Victoria, si Posh dalam kelompok Spice Girls, lebih suka keluarganya menetap di kota yang hangat. Milan, kota mode yang juga berudara lebih hangat, merupakan salah satu tempat favoritnya. Keinginan ini semakin kuat setelah ”insiden sepatu” pecah pertengahan Februari lalu, ketika United takluk di tangan Arsenal dalam kejuaraan Piala FA. Dalam pe-ristiwa itu, Beckham—juga sering diolok dengan panggilan ”Mr. Posh”—mengalami luka yang harus dijahit.

Michael Crick, penulis biografi Ferguson, yakin betul pada cerita yang beredar bahwa Alex Ferguson sendirilah yang melempar sepatu itu ke wajah suami Posh. Namun, para pemain dan orang-orang di Old Trafford sepakat membuat cerita bahwa pelemparan sepatu itu dilakukan salah seorang pemain dan terjadi secara tidak sengaja. Publik pun segera tahu bahwa keduanya telah saling memaafkan.

Ternyata itu cuma sandiwara. Buktinya, setelah kejadian itu Beckham langsung mengontak agennya, Tony Stephen dari SFX Management. ”Aku tak betah lagi. Bawa aku keluar,” katanya kala itu. Agensi paling kaya di London yang juga memegang Michael Owen dan Allan Shearer ini cepat bergerak. Klub yang di-hubunginya adalah Real Madrid dan AC Milan. Semua itu dilakukan dengan diam-diam dan rapi. Dan ketika tercium pers, Presiden Real Madrid, Florentino Perez, pun ikut menutup-nutupinya.

Hanya, pekan silam Jaume Llaurado, salah satu kandidat Presiden Barcelona yang kalah dalam pemilihan itu, membuka rahasia penting. Ini berkaitan dengan janji John Laporta yang sesumbar akan membawa Beckham ke Barca. ”Bagaimana bisa Laporta membawa Beckham ke Catalonia? Madrid dan Beckham sesungguhnya sudah teken perjanjian awal pada 12 Mei lalu,” katanya.

Proses perpindahan Beckham memang dibalut selimut. Namun, menurut Chris Britcher, redaktur Sportbusiness.com, hengkangnya Beckham sudah masuk dalam agenda besar agensinya. ”Tony Stephens telah menetapkan rancangan karier untuk Beckham dalam sepuluh tahun. Itu dimulai pada 1994,” katanya. Mula-mula menjadikannya sebagai pemain inti di United, menjadi kapten Inggris, dan menjadi produk global. ”Terakhir, dia harus bisa bermain di klub glamor di luar Inggris,” tutur Britcher.

Semua itu bisa berjalan dengan lancar karena Beckham memiliki orang-orang yang pas dalam posisinya. Mereka punya tim lobi ke media untuk menyuguhkan sosok Beckham yang family man dan bisa jadi panutan kebanyakan orang Inggris, termasuk dalam soal dandanan dan cukuran rambutnya. Untuk soal ini, sang istrilah jagonya. Victoria yang memberikan masukan soal gaya rambut dan tato di tubuhnya.

Meski begitu, Beckham membantah bila dikatakan tatonya itu salah bagian promosi dirinya. Dalam bukunya, My World, keputusannya merajah tubuhnya diilhami oleh Ted, ayahnya, yang katanya memiliki beberapa gambar di kulitnya. Begitu besarnya pengaruh Victoria membuat Ferguson muak. Beberapa hari lalu, dia menyebutnya Victoria yang mengubah gaya hidup Beckham yang menjadi selebriti.

Hubungan buruk antara Fergie dan Beckham pun dimanfaatkan, lagi-lagi untuk menampilkan image sang bintang. Ted Beckham, sang ayah, termasuk satu wadyabala yang berperan dalam soal ini. ”Sudah sebulan ini Fergie tak pernah berteguran dengan David,” katanya pekan lalu. Ini merupakan kata pemungkas yang sudah lebih dari cukup untuk menggulirkan opini: Fergie-lah yang membuat Beckham hengkang.

Kini impian Victoria terbayar sudah. Kendati tidak jadi ke Milan, keluarganya bisa tinggal di Madrid yang juga berudara hangat. Kota ini juga sesuai dengan selera hidupnya. Di sana berbagai butik desainer terkemuka berderet. Lagi pula, di klub itu hadir perempuan-perempuan yang punya latar belakang nyaris sama. Ada Mamen Sanchez, 23 tahun, bini Raul Gonzales, yang seorang model. Juga Helene Swedin, sang nyonya Luis Figo. Dilihat dari kedoyanannya dan gaya hidupnya, Victoria tampaknya bisa betah di sana.

Persoalan apakah Beckham bisa menjadi raja di Madrid jadi tak penting lagi. Lagi pula Madrid sejatinya tak memerlukan tambahan kekuatan di lini tengah. Yang dibutuhkan justru menambal lini belakang karena Fernando Hierro semakin lamban. Beckham dihadirkan di sana hanya untuk memperterang gemerlap bintang di sana. Dari hitungan bisnis, ini memang bisa mengundang keuntungan. Bukan cuma dari para sponsor, duit juga bisa mengalir dari penjualan hak siar dan merchandise.

Orang-orang di sekeliling Mr. Posh pun paham betul jalan pikiran para petinggi di industri sepak bola. Dan dengan ciamik pula, mereka mampu mengemas Beckham menjadi bintang pop sepak bola yang menarik, penuh sensasional, tapi tetap innocent.

Irfan Budiman


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data