Gertak Murah Mobil Cina Mobil Cina mulai dipasarkan di Indonesia. Harganya memang murah, tapi mutunya biasa saja. Tanpa layanan pascajual yang baik, mobil Cina akan tumbang seperti motor Cina?
|
DI TAHUN kuda air ini bisnis otomotif di Indonesia agaknya akan betul-betul semarak. Pasar tak hanya diserbu mobil-mobil model terbaru buatan Jepang, Eropa, dan Korea. Diam-diam mobil made in Cina juga telah mulai meramaikan persaingan. Menurut data Departemen Perindustrian dan Perdagangan, sejak akhir tahun lalu ada 120 minibus buatan Negeri Tirai Bambu itu yang mulai memasuki pasar Indonesia.
Mobil-mobil merek Changan itu didatangkan oleh PT Asiamotor Industries, yang memiliki izin mengimpor 2.000 mobil jenis minibus dan 6.000 jenis bak terbuka (pick-up). Sesampai di Indonesia, bentuk mobil-mobil itu disulap sesuai dengan kebutuhan, antara lain menjadi mikrolet dan minibus. "Pendeknya, kami membuat mobil itu menjadi semacam multipurpose vehicle," kata Patar Hutahuruk, manajer pemasarannya.
Selain Asiamotor, sebetulnya ada sejumlah importir yang sudah mendapat izin mendatangkan mobil Cina lainnya. Tapi, entah mengapa, mereka belum mengapalkan pesanannya. Ambil contoh PT Sarana Utamamas Motor, yang telah mengantongi izin mengimpor 5.000 mobil merek Fukuda. Juga PT Henintex Java Corporation, yang memiliki izin mendatangkan masing-masing 20 ribu mobil merek Shifeng dari jenis Dedicator dan Challenger. Kisah PT Dayu Bahtara Kurnia bahkan lebih pahit. Perusahaan itu urung meminta izin mengimpor mobil Cina. Padahal, sebelumnya, mereka telah gembar-gembor akan mendatangkan mobil merek Wuling.
Boleh jadi nilai tukar rupiah yang belum stabil membuat importir berpikir panjang se-belum mendatangkan pesanannya. Tapi mungkin juga mereka khawatir lantaran melihat prospek persaingan yang begitu ketat.
Sejauh ini, mobil-mobil Cina yang fisiknya sekilas mirip minibus Daihatsu, Suzuki Carry, dan Mitsubishi Jetstar itu memang hanya mengandalkan harga murah. Changan yang didatangkan Asiamotor tadi, misalnya, cuma dikenai harga Rp 51,5 juta untuk jenis minibus dan Rp 39,5 juta untuk jenis bak terbuka, on the road.
Harga itu jelas sangat miring. Bandingkan saja dengan harga minibus sekelasnya yang kini sudah menyundul langit. Daihatsu Zebra, misalnya, ada yang berharga Rp 86,5 juta, Suzuki Real Van sekitar Rp 80,5 juta, sedangkan Mitsubishi T 120 SS dipatok di angka Rp 80 juta.
Kenapa harga mobil Cina begitu miring? Konon, kemampuan memproduksi secara massallah yang menjadi rahasia murahnya mobil buatan Cina. Cara itu membuat proses manufaktur menjadi efisien. Terlebih upah buruh di negeri berpenduduk 1,5 miliar jiwa itu sangat rendah. Plus, "Pajak di sana tidak berbelit-belit dan tak berlipat ganda," ujar Budiman Sirod, Ketua Asosiasi Importir Kendaraan Bermotor Indonesia (AIKI).
Dengan harga bersaing, mobil-mobil Cina itu kabarnya berambisi membidik segmen pasar menengah-bawah/kelas niaga, terutama di pedesaan. Sampai saat ini, pasar itu boleh di-bilang memang masih terbuka lebar: mencapai 80 persen dari total penjualan mobil di Indonesia. Soalnya, masyarakat Indonesia menggemari kendaraan yang bisa berperan ganda, untuk mengangkut barang dan penumpang sekaligus.
Namun, harga mobil Cina yang miring itu sesungguhnya sepadan pula dengan penampilan dan teknologinya yang sederhana. Terlebih kebanyakan mobil itu tak dilengkapi aksesori standar yang sudah menjadi perlengkapan baku di kendaraan kelas menengah Indonesia. Pernak-pernik itu adalah AC, power steering, central door lock, power window, velg aluminium, ban radial, dan sound system.
Mungkin karena itu, para pemain lama tampak anteng-anteng saja. Di zaman sekarang, pesaing tampaknya tak gentar bila sekadar digertak dengan harga murah. "Mobil buatan Indonesia bahkan masih lebih unggul dari segi kualitas interior ataupun aerodinamikanya," kata sekretaris AIKI, Tommy R. Dwi Ananda. Kelebihan lain yang dimiliki pemain lama adalah pelayanan pascajual yang baik kepada konsumen. Dan, "Hal itu diperoleh lewat proses investasi yang panjang," ujar pejabat Indo-mobil, Gunadhi Sinduwinata.
Pentingnya pelayanan pascajual itu juga diakui Adirizal. Direktur Teknik PT Toyota Astra Motor (TAM) itu mengambil contoh keberhasilan mobil Korea yang mampu menyodok pasar dengan kelebihan kualitasnya. Begitupun, mereka tak bisa langsung menggantikan mobil buatan Jepang, yang sampai sekarang masih menguasai 30 persen pangsa pasar. Karena itu, Adirizal optimistis pasar mobil kelas niaga akan tetap dikuasai mobil Jepang. "Kalaupun mobil Cina masuk, paling-paling mereka hanya bisa mengambil 10 persennya atau cuma 3 persen," ujarnya. Di TAM sendiri, Adirizal mengaku tak melakukan persiapan apa-apa menyambut datangnya mobil Cina.
Tapi mobil Cina tak hanya membidik pasar mobil baru. Mereka juga bisa menggoyang pasar mobil bekas. Soalnya, harga mobil bekas masih terhitung tinggi. Saat ini Toyota Kijang keluaran tahun 1995 atau Isuzu Panther keluaran 1996 masih dihargai Rp 57,5 juta. Maka ada kemungkinan, ketimbang membeli minibus bekas, konsumen akan mencoba mobil Cina baru yang harganya relatif tak jauh berbeda. Atau, daripada membeli Kijang bekas seharga Rp 100 juta, mereka akan lebih memilih membeli dua mobil Cina baru yang harganya Rp 51,5 juta per unit.
Hanya, perkara ketersediaan suku cadang, layanan pascajual, dan harga jual kembali lagi-lagi bisa menjadi sandungan bagi mobil Cina. Konsumen yang kantongnya pas-pasan biasanya belajar dari pengalaman motor Cina yang lemah dalam tiga perkara itu. Akibatnya, "Baru dipakai seminggu pun harganya sudah anjlok 40 persen," kata pemilik sebuah dealer mobil. Nah, kalau importir mobil Cina tak bisa menarik pelajaran, bisa-bisa mereka juga segera gulung tikar seperti nasib yang menimpa banyak importir motor Cina.
Nugroho Dewanto, Purwani Diyah Prabandari, Agus Hidayat, Dewi Rina Cahyani
|