Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 16/XXX/18 - 24 Juni 2001
   
Ilmu dan Teknologi

Ascolli Bogor Menjelang Pensiun

Seorang peneliti di Bogor menemukan metode terbaru untuk menguji penyakit antraks. Biayanya hanya Rp 4.000 dan hasilnya lebih cepat.

PENYAKIT antraks bisa tak lagi menjadi momok bagi peternak. Seorang ahli peneliti utama di Balai Penelitian Veteriner (Balitvet) Bogor, Jawa Barat, Suprodjo Hardjoutomo, baru-baru ini menemukan metode terbaru untuk menguji penyakit antraks. Metode ini lebih cepat dan lebih murah ketimbang metode konvensional. Dengan demikian, diharapkan wabah antraks yang menimpa ternak kambing ataupun sapi bisa dideteksi secara dini.

Memang, antraks tergolong penyakit menyeramkan karena bisa menewaskan sapi dan kambing. Sudah lebih dari seratus tahun penyakit yang disebabkan oleh Bacillus anthracis itu diketahui berjangkit di Indonesia. Antraks bisa mengakibatkan radang limpa atau menimbulkan luka-luka serius di kulit ternak. Pada Februari 2001, menjelang Lebaran Haji, antraks pernah melanda beberapa wilayah di Bogor. Sejumlah orang meninggal setelah mengonsumsi daging kambing ataupun sapi yang tercemar antraks.

Meski Indonesia termasuk salah satu negara di dunia yang memiliki banyak daerah endemik antraks, sayangnya tak banyak penelitian dilakukan untuk meredam bencana antraks. Suprodjo, 64 tahun, terhitung satu dari sedikit peneliti yang secara intensif menggeluti antraks.

Sejak 1967, empat tahun setelah lulus dari Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor, Suprodjo sudah menekuni masalah antraks. Sampai 1998, ia bersama beberapa koleganya di Balitvet meneliti penyakit antraks di sela-sela tugas rutinnya sebagai pegawai negeri. Ternyata, ketekunannya membuahkan hasil.

Dalam proses penelitiannya, Suprodjo mengambil contoh dari bagian tubuh hewan yang diduga terjangkit antraks. Contoh itu bisa berupa daging, bulu, atau tulang. Contoh bisa dari bagian tubuh hewan hidup, bisa juga dari hewan mati, bahkan dari dendeng daging hewan yang siap dikonsumsi manusia.

Di laboratorium, sisa-sisa kulit, daging, atau tulang itu dipotong kecil-kecil, kemudian dihancurkan dan dibuat ekstraknya. Untuk memperoleh bagian yang bersih, ekstrak dijernihkan dengan norit. Bagian bersih inilah yang digunakan untuk ekstrak pengujian.

Untuk bahan pengujinya, Suprodjo menggunakan serum Ascolli?nama ilmuwan Eropa Timur yang menemukan metode pengujian penyakit semacam antraks, 90 tahun lalu. Serum ini diambil dari kelinci yang sebelumnya disuntik dengan kuman antraks. Bila kualitas serum Ascolli sudah bagus, barulah serum itu dipanen untuk bahan penguji.

Setelah itu, dilakukan pengujian ada-tidaknya penyakit antraks. Caranya, 0,1 sampai 0,2 milimeter serum Ascolli dimasukkan ke dalam tabung reaksi berdiameter tiga hingga empat milimeter. Serum dimasukkan dengan pipet melalui dinding tabung. Lantas, ekstrak di atas juga dimasukkan dengan pipet lewat dinding tabung.

Lima menit kemudian, bila muncul cincin putih di antara serum dan cairan ekstrak, itu berarti sampel hewan ternak tadi positif mengandung antraks. Begitu pula sebaliknya.

Dari tahap penerimaan contoh untuk ekstrak sampai hasil pengujian, menurut Suprodjo, diperkirakan, hanya dibutuhkan waktu dua jam, tentu dengan tingkat akurasi pengujian yang tinggi. "Kami sudah membuktikannya dengan contoh yang dikirim dari berbagai daerah ke sini," kata Suprodjo, yang setahun lagi pensiun.

Itu berarti pengujian dengan Ascolli ala Suprodjo ini memangkas waktu. Bandingkan dengan pengujian konvensional selama ini yang memakan waktu sedikitnya tiga hari. Waktu selama itu digunakan di antaranya untuk pendeteksian dengan mikroskop di laboratorium, pemupukan bakteri, pembiakan, pencocokan morfologi bakteri, dan pengujian hasil ke tubuh marmot.

Sebenarnya, pada 1980-an, Suprodjo pernah mencoba pengujian antraks dengan metode lama Ascolli. Namun, akurasi hasilnya kurang memuaskan. Itu sebabnya ia mengubah cara Ascolli. Sementara Ascolli memperoleh serum berkualitas bagus dari kelinci dengan menambahkan antigen kokto, Suprodjo mendapatkan serum dengan menyuntikkan kuman antraks ke tubuh kelinci dengan dosis bertingkat atau sedikit demi sedikit.

Jelas, keberhasilan Suprodjo amat menggembirakan. Tak aneh bila Kepala Balitvet, Darminto, berharap teknik deteksi dini antraks itu bisa dikembangkan ke daerah-daerah endemik antraks di Indonesia. Selain metodenya gampang diterapkan, biayanya sangat murah. Untuk sekali uji, "Biayanya hanya Rp 4.000," ujar Darminto.

Dwi Wiyana


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data