|
Grup Sinar Mas boleh memperdaya, tapi pasar tidak mudah teperdaya. Sepintar-pintar manajemen Sinar Mas menyiasati kondisi keuangannya yang rawan, toh ketahuan juga dan langsung direspons pasar. Tak ayal lagi, harga semua saham milik konglomerat Eka Tjipta ini langsung anjlok sampai 73 persen dan beberapa di antaranya, seperti saham Asia Pulp & Paper (APP), yang tercatat di New York Stock Exchange (NYSE), dan Bank Internasional Indonesia (BII) di Bursa Efek Jakarta (BEJ), terancam delisting.
Menurut analis SocGen Securities, Lin Che Wei, notification dari NYSE sewaktu-waktu bisa turun dalam waktu dekat ini. Namun, komisaris Sinar Mas, Sulistiyanto, mengatakan sampai kemarin belum menerima surat apa pun dari NYSE mengenai nasib APP. Saham BII juga masih bisa selamat dari ancaman , karena 16 Januari lalu BEJ menunda pemberlakuan peraturan delisting No. Kep-316/BEJ/062000.
Di tengah tekanan keuangan yang berat, manajemen Grup Sinar Mas memang tidak mempunyai banyak pilihan untuk menyelamatkan APP. Rapat umum pemegang saham segera harus mengambil tindakan drastis dengan menjual aset dan mengurangi beban utang. NYSE sendiri memberi batas waktu enam bulan kepada APP untuk menaikkan harga saham di atas satu dolar.
Kalau dilihat dari kondisi keuangannya, pekerjaan menaikkan harga saham tentu sangat berat. Bond exchange offer yang ditawarkan kelompok Sinar Mas untuk memperpanjang masa jatuh tempo obligasinya belum juga disetujui oleh US Securities Commission (semacam Bapepam di Amerika Serikat). Sementara itu, ada US$ 870 juta obligasi yang segera jatuh tempo jika APP di-delisted dari NYSE karena menggunakan sistem put option. Total seluruh utang luar negeri Kelompok Sinar Mas mencapai US$ 12 miliar. Selain itu, ada pula utang di dalam negeri US$ 1,4 miliar.
|