Sebuah tabloid (konon terbitan kelompok Golkar) memprovokasi dengan headline-nya yang mencolok, "Awas Tiran Baru", dengan latar belakang Amien Rais. Teman saya yang merasa risi dengan tulisan tersebut mengatakan bahwa tulisan tersebut adalah upaya provokasi dan konspirasi untuk menjatuhkan Mas Amien dan perjuangannya.
Pendapat tersebut dapat saya maklumi, mengingat kemungkinan respons negatif masyarakat kepada Amien Rais. Kebetulan saya dan beberapa teman memiliki kelompok diskusi yang mengkaji kebijakan dan platform partai-partai dalam mempersiapkan tatanan masyarakt Indonesia baru, yang mayoritas anggotanya adalah mantan "simpatisan terpaksa" Golkar yang berasal dari beberapa simpatisan partai politik yang ada. Sebenarnya tulisan di tabloid tersebut tidak terlalu istimewa kecuali headline-nya saja yang terkesan bombastis. Opini pembaca lebih banyak digiring pada paradigma berpikir bahwa penolakan terhadap hasil pemilu apabila Golkar menang seperti yang diteriakkan mahasiswa dan menurut Slamet Effendy Yusuf digaungkan oleh Amien Rais (Detak, no. 034) adalah sikap yang tidak demokratis dan berpotensi membentuk tiran baru.
Saya lantas teringat diskusi dengan Amien Rais di Fashion Café, dan hal ini pernah ditanyakan. "Bagaimana sikap Pak Amien jika dalam pemilu mendatang Golkar yang menang?" Mas Amien waktu itu dengan lugas menjawab "Saya seorang demokrat, kalau kemudian ternyata Golkar yang menang, ya, mau apa lagi, itu sudah pilihan rakyat, kok."
Jawaban itu jelas memperlihatkan sikap demokrat seorang Amien Rais. Namun, kalau kemudian sikap Mas Amien berubah, saya pun dapat memahami. Sebab, kenyataannya hingga detik ini Golkar dan jajarannya tidak pernah berubah dalam menjalankan praktek-praktek politik yang tak bersih. Dalam kondisi seperti ini tentu saya mendukung tesis "kalau Golkar menang, pemilu curang". Dalam diskusi di Fashion Cafe saya memang sedikit berbeda dengan Mas Amien dalam menyikapi kemungkinan kemenangan Golkar. Saya jelas tidak dapat menerima kemenangan Golkar saat ini. Bagi saya, kemenangan Golkar harus merupakan harapan dan kemungkinan yang dinihilkan.
Dari awal terbentuknya Partai Golkar hingga saat ini Golkar tidak menampakkan sikap untuk mereformasi diri. Dari permintaan maaf yang terkesan ogah-ogahan dan tampak terpaksa hingga arogansi dalam bentuk pemanfaatan jabatan dan kekuasaan terus terlihat. Contohnya, diskriminasi terhadap partai reformasi saat umbul-umbul dan spanduk partai sepanjang Jalan Thamrin-Sudirman dicopoti oleh Pemda DKI dengan alasan melanggar peraturan. Namun kita saksikan bertebarannya spanduk Golkar menjelang deklarasi partai tersebut tanpa gangguan dari siapa pun. Belum lagi kemarahan Mar?ie Muhammad di televisi akibat Golkar mendompleng acara penyaluran JPS.
Menyikapi hal di atas dan keinginan untuk segera membentuk Indonesia baru yang lebih demokratis, berkeadilan, dan berkemakmuran, sudah saatnya kita tega mengamputasi borok dan luka yang diciptakan oleh Orde Baru, sebagai faktor utama penyebab krisisi moneter dan krisisi politik nasional.
Memilih kembali Golkar yang telah menciptakan keterpurukan ekonomi dan kemunduran peradaban berarti juga mengulang kesalahan yang sama. Hanya keledailah yang jatuh pada lubang yang sama. Karena itu kita harus waspada.
SATYA WIJAYANTARA
Divisi Korporasi Bank BTN
Gedung Menara BTN Lt. 12
Jalan Gajah Mada 1
Jakarta Pusat