Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 07/XXIIIIIIII/20 - 26 April 1999
   
Monitor

Cap Buruk Polisi Belum Luntur

Pelepasan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dari ABRI mendapat sambutan baik. Namun, agar polisi bisa menjadi penegak hukum yang andal, masalah suap harus segera dibereskan.

POLISI akhirnya disapih. Setelah 35 tahun menyusu pada ABRI, sejak awal April lalu Polri diminta berdiri sendiri, dengan induk semang Departemen Pertahanan, selama dua tahun masa transisi. Langkah bersejarah ini tentu menjadi ujian bagi polisi untuk bisa mandiri sekaligus menegakkan jati dirinya. Masalahnya, selama sekian tahun bergabung dengan ABRI, polisi yang sejatinya adalah hamba hukum itu telanjur identik dengan tentara, yang punya tugas pokok sebagai aparat keamanan.

Meskipun demikian, masyarakat rupanya tetap berharap aparat hukum ini kembali ke jalurnya. Karena itu, mereka amat mendukung pemisahan ini. Hasil jajak pendapat TEMPO menunjukkan 78 persen responden menyatakan setuju dengan penyapihan ini. Dengan dilepasnya Polri dari payung lamanya, mereka yakin itu akan berdampak pada kemandirian polisi. Cuma, dengan menjadi mandiri, apakah otomatis polisi akan mengubah pola lama dalam pendekatan di lapangan yang sangat militeristik—yang mengedepankan kekuatan fisik—dan menggantinya dengan pendekatan hukum? Pendapat responden segera terbelah. Sebagian yakin polisi akan melakukannya, tapi dalam porsi yang hampir sama besarnya, sedangkan responden lain menunjukkan keragu-raguannya.

Sekian lama bersatu dalam kubah yang sama dengan tentara rupanya mencetak citra buruk polisi sebagai garda terdepan dalam penanganan masalah kerusuhan yang kini merebak di mana-mana. Lebih dari setengah jumlah responden menganggap polisi bakal keok bila tak dibantu tentara dalam aksi-aksi tersebut. Sepertiganya meragukan kemampuan polisi dan hanya 17 persen yang percaya bahwa polisi bisa digdaya. Tentu saja ini sebuah jawaban yang menyesakkan bagi polisi. Namun, bila kita melihat penanganan aksi kerusuhan belakangan ini, pendapat sebagian besar responden itu tak bisa disalahkan. Bahkan, seusai tragedi Trisakti bulan Mei tahun lalu, boro-boro polisi bisa menghentikan demo yang berlangsung. Mereka sendiri seperti menghilang dari jalan-jalan di Jakarta karena menjadi sasaran kemarahan massa.

Menghilangnya aparat polisi dari tempat umum ketika dibutuhkan sudah tentu merupakan cermin ketidakprofesionalan mereka. Hal itu juga yang ditangkap oleh responden TEMPO sebagai salah satu citra polisi yang menonjol. Yang lebih gawat, ternyata ada citra lain dari polisi yang lebih melekat: aparat yang suka memeras dan menerima suap. Pengalaman bertahun-tahun telah membuktikannya. Di sudut-sudut jalan, lazim ditemukan polisi lalu lintas yang awalnya begitu garang menegakkan aturan bagi pelanggar tapi berubah dalam sekejap setelah ''salam tempel" diangsurkan.

Akibat ''keluwesan" petugas ini, sikap pengguna jalan pun sebetulnya menjadi makin keterlaluan. Mereka terang-terangan merendahkan petugas. Para sopir truk di jalur pantai utara Pulau Jawa hampir selalu melempar kotak korek api berisi beberapa lembar uang ribuan setiap melewati pos polisi. Ironisnya, tak pernah terdengar cerita polisi yang dilempari lantas merasa tersinggung dan mengajukan tuntutan hukum atas tindakan kurang ajar tersebut.

Untuk itu, sebagai pihak yang berkepentingan langsung dengan polisi, masyarakat berharap agar masalah besar itu dibereskan. Kikis suap hingga ke akarnya. Ini sebuah kebiasaan mendarah daging yang sungguh sulit diberantas, terlebih untuk polisi yang gajinya teramat minim.

Yusi A. Pareanom




INFO GRAFIS
Apakah Anda setuju Polri dipisahkan dari ABRI?
Ya78%
Tidak13%
Ragu-tagu9%
 
Apa yang harus diperbaiki dari kinerja Polri?
Masalah suap49%
Ketidakmandirian12%
Gaya militeristis6%
Ketidakprofesionalan30%
Tidak tahu2%
 
Apa citra Polri yang tepat saat ini?
Penegak hukum15%
Pengayom dan abdi masyarakat20%
Aparat yang tidak profesional28%
Aparat yang suka memeras dan menerima suap33%
Tidak tahu4%
 
Apakah Polri mampu mengatasi kerusuhan tanpa bantuan tentara?
Ya17%
Tidak51%
Ragu-ragu31%
 

Apa pengaruhnya setelah Polri dipisahkan dari ABRI?
 SetujuTidakRagu-ragu
Polri mandiri dan lepas dari garis komando ABRI43%25%31%
Pendekatan hukum akan lebih banyak dipakai Polri daripada pendekatan kekerasan41%19%40%



Metodologi jajak pendapat ini:

Penelitian ini dilakukan oleh Majalah TEMPO bekerja sama dengan Insight. Pengumpulan data dilakukan terhadap 507 responden di lima wilayah DKI pada 7-12 April 1999. Dengan jumlah responden tersebut, tingkat kesalahan penarikan sampel (sampling error) diperkirakan 5 persen.

Penarikan sampel dilakukan dengan metode random bertingkat (multistages sampling) dengan unit kelurahan, RT, dan kepala keluarga. Pengumpulan data dilakukan dengan kombinasi antara wawancara tatap muka dan melalui telepon.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data