Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 05/XXIIIIIIII/06 - 12 April 1999
   
Olahraga

Bejo dan Jabrik Diuji di Belanda

Dua pemain bola nasional, Nuralim dan Sugiantoro, dilamar Vitesse, klub elite di Belanda, untuk menjalani tes. Bila gagal, akibatnya bisa fatal

FINAL Liga Indonesia V akhirnya dipindahkan dari Jakarta ke Manado. Belum jelas siapa juaranya, tapi Nuralim dari Persija Jakarta dan Sugiantoro, pemain belakang Persebaya Surabaya, adalah pemain yang beruntung. Pertengahan April ini, dua pemain nasional tersebut akan mengikuti tes di klub Vitesse, tim papan atas Divisi I Belanda yang bermarkas di Arnhem.

Bila mereka lolos seleksi, tak cuma bayaran antara US$ 5.000 dan US$ 10.000 plus fasilitas rumah dan kendaraan yang membayang di depan pelupuk mata. Nuralim dan Sugiantoro akan mencetak rekor sebagai pemain Indonesia pertama yang merumput di negeri orang. Sebab, sudah lama PSSI mengirimkan duta ke luar negeri, tapi mereka selalu pulang dengan kecewa. Sebelum ini, Bambang Pamungkas dinyatakan gagal mengikuti seleksi di klub Roda di Belanda. Sedangkan Italia pernah menolak Kurniawan, dan Kurnia Sandy tak lulus di Prancis.

Bagi Sugiantoro, 22 tahun, yang juga kapten kesebelasan PSSI Praolimpiade Sydney 2000, kesempatan ini jelas tak disia-siakan. Apalagi SEA Games Brunei Darussalam tinggal empat bulan lagi. Pentingnya bermain di Belanda juga dirasakan Nuralim, 26 tahun. Selain menjadi sarana memupuk keterampilan, kesempatan itu membuat mimpinya menjadi pemain internasional terbuka lebar. Cita-cita Nuralim memang bermain sepak bola di mancanegara. "Sesial-sialnya, saya akan main di Malaysia atau Singapura," katanya.

Sugiantoro dan Nuralim dikenal sebagai pemain yang ulet dan hasrat berkembangnya sangat besar. Nuralim, misalnya, berprinsip ogah menjadi jago kandang. Pangkalnya jelas: kehidupannya tak akan lebih baik bila bertahan sebagai pemain nasional. Untuk mengubah nasib itulah Nuralim selalu menendang bola keras-keras.

Hal itu dilakukan sejak ia menjadi pemain kampung. Kendati tanpa alas kaki, itu tak menyuruti semangat si Jabrik?nama panggilan pemain kelahiran Jakarta itu?untuk menjaga gawang dari serbuan musuh. Semangat itu semakin menyala ketika ia bergabung di klub Bandung Raya. Di tangan pelatih Herry Kiswanto, bakatnya sebagai pemain belakang semakin menonjol. Berkat kaki si Jabrik, Bandung Raya menggondol gelar juara Liga Indonesia II. Herry Kiswanto pula yang kini menjadi pelatih Nuralim di Persija. Keakraban itu menimbulkan idiom baru: di mana ada Nuralim, di situ ada Herry.

Bukan karena sama-sama produk kampung bila Sugiantoro memiliki karakter yang sama "keras"-nya dengan Nuralim. Bersama pelatih Andi Teguh, keseriusan pria kelahiran Surabaya itu untuk menggeluti bola dibuktikannya dengan membawa tim PSSI Pelajar Asia sebagai juara pertama, dengan mengungguli Korea 4-0 dan Cina 5-1. Sugiantoro yang biasa dipanggil Bejo juga memberikan andil yang besar atas keberhasilan Persebaya menggondol gelar Liga Indonesia III.

Perannya juga besar ketika mengikuti pertandingan persahabatan di Uzbekistan, Yaman, dan Singapura, beberapa waktu lalu. Ia menyadari, bermain di kandang lawan menyisakan tekanan psikologis--terutama dari suporter. Apa pun kondisinya, bagi Bejo, tak ada alasan untuk menendang bola seenaknya. "Kalau lawan bermain baik, ada perasaan untuk tidak berbuat salah," ujarnya.

Prinsip hidup Sugiantoro juga tak kalah keras. Apa yang dimaui, ya, harus tercapai. Sikap itu pernah dilampiaskannya kepada PSSI. Pemain yang mengaku mengoleksi tiga rumah dan sebuah kendaraan dari hasil bermain sepak bola itu pernah meninggalkan Italia pada 1995 saat pertandingan Bareti. Sugiantoro memilih pulang ke Tanah Air dan beralasan penempatannya tak sesuai dengan perjanjian. Ia diundang PSSI ke Italia untuk bermain di Piala Primavera yang bergengsi, bukan pertandingan junior Bareti.

Penggemar Franco Baresi ini juga pernah menolak ajakan PSSI untuk mengikuti pelatihan nasional (pelatnas) di Jakarta?sebuah preseden yang memaksa PSSI membuat peraturan baru berupa sanksi bagi pemain yang mangkir. Alasan penolakan itu, pelatnas tak akan membawa perubahan apa-apa bila komposisi pelatihnya itu-itu saja. "Jadi, buat apa saya datang?" ujar pemain yang juga pernah mengancam mundur dari Persebaya bila tuntutan gaji Rp 15 juta tak dipenuhi itu.

Terlepas dari sikap dua pemain yang keras itu, kesempatan bermain di Belanda, bagi Ronny Pattinasarani, patut disyukuri. Menurut mantan pemain nasional itu, selain dapat mengembangkan keterampilan dan karir, masa depan pemain lebih terbuka. Hanya saja, ia mewanti-wanti, bila kedua pemain itu gagal mengikuti seleksi, akibatnya bisa fatal. Kasus Kurniawan bisa menjadi contoh. Sepulang dari Italia, prestasi pemain Pelita Bakrie itu malah anjlok drastis. "Harusnya gagal di luar negeri tak berarti gagal di dalam negeri," kata Ronny.

Masalahnya, menurut Ronny, pemain nasional itu gampang geer. Padahal mereka masih punya problem dalam mentalitas, juga kemandirian dan disiplin. Nuralim, misalnya, masih sangat bergantung pada pelatih Herry Kiswanto. Sedangkan Sugiantoro dianggap belum dewasa. Kasus kaburnya Sugiantoro dari pertandingan Bareti dan menolak ajakan PSSI untuk mengikuti pelatnas, menurut Ronny, karena fobia dan belum bisa meninggalkan keluarga.

Ma'ruf Samudra, Andari Karina Anom, dan Hani Pudjiarti


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data