Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 03/XXIIIIIIII/23 - 29 Maret 1999
   
Olahraga

Duit Mengalir dari Balap Mobil

Australia meraup dana senilai Rp 600 miliar dari Grand Prix Formula Satu. Malaysia dan Cina juga mengincar peluang untuk menjadi tuan rumah bagi balapan bergengsi ini.

OLAHRAGA dan uang semakin lama semakin sulit dipisahkan. Golf, tenis, dan tinju tergolong olahraga ''basah". Namun yang paling menyedot uang setiap tahun adalah lomba balap mobil Formula Satu. Tahun ini, misalnya, lomba tersebut diadakan secara berseri di 16 negara—bandingkan dengan grand slam tenis, yang hanya digelar di empat negara. Di arena Grand Prix Formula Satu (GP F-1) inilah berbagai kepentingan bermuara pada satu tujuan: bisnis.

Peluang emas inilah yang disambar Australia saat seri pembuka GP F-1 1999 dimulai di Melbourne, awal Maret lalu. Saat itu, seperti ditulis Autosport, uang yang berputar tak kurang dari $A 100 juta atau sekitar Rp 600 miliar. Dana sebesar itu mengalir melalui usaha penerbangan, pajak fiskal, kasino, serta turis yang memadati hotel dan restoran.

Hebatnya lagi, rezeki jutaan dolar itu menetes ke bawah. Warga Melbourne bergembira karena mereka mendapat uang banyak melalui penjualan cendera mata, penganan ringan, hingga taksi. ''Setiap hari kami mampu menjual 1.000 kaus," kata John, penjual suvenir yang mangkal di belakang tikungan Fangio, kepada TEMPO.

Memang, untuk memancing uang sebesar itu, dibutuhkan umpan yang tidak kecil. Panitia Australian Grand Prix Corporation harus mengeluarkan biaya sekitar Rp 240 miliar untuk pentas dunia ini. Manajer Pemasaran Peter Danks mengatakan bahwa dana tersebut, selain dari sponsor dan usaha komersial, didapat juga dari penjualan tiket.

Dan panitia tidak perlu khawatir soal karcis. Soalnya, penonton GP F-1 umumnya pendukung fanatik tim yang bertanding—tahun ini ada 11 tim. Dari penjualan tiket saja, panitia bisa mengantongi Rp 200 miliar. Sebab, selama empat hari itu, Sirkuit Albert Park dipadati 345 ribu orang yang rata-rata membayar harga karcis $A 100 . Pemasukan ini masih ditambah Rp 18 miliar yang didapat dari penjualan tribun khusus (corporate box) berharga antara $A 750 dan $A 2.590.

Daya tarik uang yang begitu menawan telah menyebabkan GP F-1 diincar oleh banyak negara—, termasuk di Asia. Setelah Jepang, Malaysia akan melakukan debutnya sebagai tuan rumah GP F-1 pada 15 Oktober mendatang (seri ke-15). Sedangkan Cina dan Korea Selatan sudah mendaftarkan diri untuk balapan tahun depan.

Bahwa negara jiran Malaysia berhasil masuk sebagai penyelenggara, itu tak lain karena upaya Perdana Menteri Mahathir Mohamad yang tak kenal lelah. Peluang emas menyedot dolar ini tentu tak boleh disia-siakan pada masa krisis . Minimal ada 3.500 turis mancanegara yang tak pernah absen mengikuti perhelatan F-1 berkeliling dunia.

Untuk memenuhi keinginannya itu, Mahathir tak segan-segan melobi Bernie Ecclestone, Presiden Formula One Constructor Association (FOCA), dengan bertandang ke GP F-1 di Portugal (1996). Pendekatan ini lalu dilanjutkan dengan mengundang Ecclestone ke Malaysia. Begitu Mahathir mendapat lampu hijau, sebuah sirkuit baru yang layak untuk balapan F-1 pun segera dibangun.

Bagi Mahathir, uang sebesar US$ 12 juta atau sekitar Rp 120 miliar sebagai fee yang harus dibayarkan kepada Ecclestone tak ada artinya dibandingkan dengan keuntungan lain yang bisa dipetik lewat Grand Prix Formula 1. Sebagai penyelenggara, negeri jiran ini akan mendapat promosi besar-besaran yang disiarkan secara langsung oleh 50 stasiun televisi dan disaksikan 500 juta pasang mata di seluruh dunia, di samping sekitar 100 stasiun televisi yang menayangkannya secara tunda.

Iming-iming dolar juga menari di benak Yu Bin Ling, Ketua Otorita Zhuhai, daerah khusus di Cina. Zhuhai merupakan kawasan pariwisata elok yang dilengkapi kasino, tapi belum banyak dikenal orang. Agar perolehan devisa meningkat, Ling berpendapat bahwa promosi melalui balapan F-1 paling tepat karena jangkauannya luas dan pangsa pasarnya pun orang berduit.

Berbekal sebuah proposal, Ling mendekati Ecclestone dengan mendampingi orang kaya ini sejak GP F-1 di Barcelona (1996) sampai GP Australia yang baru lalu. Setelah lobi selama empat tahun, barulah Ling dapat merebut kepercayaan Ecclestone, hartawan yang tercatat sebagai orang terkaya di dunia peringkat ke-100. Ambisi Ling cuma satu: bila Grand Prix Formula 1 bisa dibelokkan ke Zhuhai, Cina, dalam waktu singkat wilayah yang dikuasainya itu akan seperti Hong Kong: terkenal dan banyak uang.

Ma'ruf Samudra dan Ali Nur Yasin (Melbourne)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data