Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 10/XXIIIIIII/08 - 14 Desember 1998
   
Ekonomi dan Bisnis

Ramalan Bank Dunia dan George Soros

Bank Dunia dan Soros berpandangan bahwa perekonomian dunia hanya dapat diselamatkan bila arus lalu lintas modal internasional dibuat stabil. Bila tidak, perekonomian dunia akan terancam ambruk.

BAGAIMANA prospek perekonomian dunia dalam waktu dekat ini? Agaknya tidak terlalu menggembirakan. Setidaknya itu yang tergambarkan dari laporan Bank Dunia yang diluncurkan di markas besarnya di Washington D.C., Senin pekan lalu. Pertumbuhan ekonomi dunia tahun 1998 diperkirakan hanya 1,8 persen atau separuh dari prestasi tahun silam. Sumbangan terbesar macetnya pertumbuhan ini datang dari negara berkembang, terutama kawasan Asia.

Brasil, Indonesia, dan Rusia adalah tiga besar di antara 33 negara yang memberi sumbangan pertumbuhan per kapita negatif. Ini berarti seperempat penduduk dunia secara rata-rata lebih miskin dari tahun silam. Suatu gambaran yang cukup suram mengingat tahun lalu hanya sepersepuluh penduduk dunia, yang bermukim di 21 negara, yang bernasib nahas seperti ini.

Celakanya, penderita utama terempasnya ekonomi dunia ini lebih dirasakan oleh kaum miskin. ''Krisis moneter yang terjadi telah menunjukkan bagaimana tidak terlindunginya kaum miskin di Asia Timur ketika ekonomi regional mengalami kesulitan," kata Dipak Dasgupta, penulis utama laporan berjudul Global Economic Prospects and the Developing Countries 1998/99: Beyond Financial Crisis setebal hampir 200 halaman ini.

Itu sebabnya Bank Dunia merekomendasi bantuan perlindungan khusus bagi kaum miskin sebagai salah satu cabang dari strategi ganda untuk mengatasi krisis ekonomi yang ada. Cabang yang lain adalah merestrukturisasi ekonomi, terutama dalam memperkuat sektor perbankan, melalui bantuan internasional jangka panjang.

Hal menarik dari laporan Bank Dunia adalah kritik terselubungnya terhadap kebijakan IMF dalam mengatasi krisis, terutama di Asia Timur. Kebijakan suku bunga tinggi dan penghapusan berbagai bantuan untuk kelompok miskin sebagai syarat menerima kredit IMF dianggap tidak tepat dan memperparah keadaan.

Untuk memperkuat kritik tersebut, para pakar Bank Dunia memberikan sejumlah data empirik yang menunjukkan tidak terdapatnya hubungan langsung antara suku bunga tinggi dan kuatnya nilai mata uang negara yang memberlakukan kebijakan ini. Justru tingginya tingkat suku bunga dalam waktu yang cukup lama dianggap semakin memperburuk keadaan karena membuat kegiatan bisnis jadi macet.

Sebagai contoh, Bank Dunia menunjuk kebijakan yang dijalankan di Thailand, yaitu sewaktu bank sentral Thailand menaikkan suku bunga ketika panik sudah berjalan dengan alasan mempertahankan nilai baht. ''Perusahaan realestat sudah mati karena ambruknya nilai properti, maka devaluasi tidak akan membuat mereka lebih mati," kata Kepala Ekonomi Bank Dunia, Joseph E. Stiglitz.

''Patut dipertanyakan siapa yang dilindungi dengan menaikkan suku bunga itu," kata Stiglitz. ''Yang dilindungi adalah perusahaan yang mengambil risiko bahwa nilai baht akan stabil, tapi yang dirugikan adalah para pekerja yang gajinya tetap dan sebagian lalu kena PHK," tambah Stiglitz. Sayangnya pihak IMF tidak bersedia memberi komentar atas kritik ini.

Perbedaan antara IMF dan Bank Dunia ini dianggap George Soros sebagai pencerminan dari perbedaan kepentingan antara negara berkembang dan negara Barat. ''Karena sistem persahamannya, kebijakan IMF lebih mencerminkan kepentingan Barat sedangkan kebijakan Bank Dunia diwarnai kepentingan negara berkembang," kata pengelola megadana Quantum Fund senilai US$ 12 miliar ini.

George Soros beranggapan, krisis yang dimulai di Asia ini dapat mewabah ke seluruh dunia jika sistem lalu lintas dana internasional tidak segera diperbaiki. Ia menganggap, dalam satu dekade ini telah terbentuk sebuah sistem aliran dana global yang jumlahnya besar dan sangat mempengaruhi perekonomian dunia. ''Bentuknya seperti sistem respirasi, dengan arus modal besar masuk ke pusat, yaitu Barat, dan kemudian disalurkan ke negara-negara berkembang di pinggiran," katanya. Selama arus ini kuat, semua pihak beruntung dan ekonomi dunia berkembang.

Hanya, krisis di Asia menyebabkan arah arus itu berbalik. ''Memang pada awalnya pusat—dalam hal ini negara Barat—mendapatkan keuntungan karena nilai sahamnya naik sementara inflasi rendah akibat masuknya barang impor yang murah," kata Soros. ''Tapi hal ini akan bersifat sementara. Kalau arus tidak berbalik lagi ke pinggir, depresi yang saat ini hanya terjadi pada sepertiga dunia akan mewabah ke mana-mana."

Pendapat tentang perlu dikembalikannya aliran dana ke negara berkembang ini disadari pula oleh Bank Dunia dan IMF. Itu sebabnya Presiden AS Bill Clinton sempat mengusulkan kepada negara maju dalam kelompok G-7 agar menyediakan dana US$150 miliar untuk mengamankan aliran dana ke negara-negara yang mengalami krisis. George Soros juga mengajukan skema yang senada, yaitu perlunya dibentuk semacam International Credit Union untuk menstabilkan arus dana yang saat ini dianggapnya terlalu cepat berpindah tempat sehingga menimbulkan berbagai krisis di daerah yang ditinggalkannya. ''Saya berharap usul ini dapat diterima dan segera dijalankan demi terbentuknya sistem perekonomian bebas yang juga akan membentuk masyarakat terbuka," kata pendukung berbagai gerakan demokratisasi di dunia ini.

Tanpa kehadiran sistem pengaturan arus dana internasional ini, banyak negara akan semakin tertarik melakukan pengaturan masing-masing alias semacam sistem capital control. ''Padahal dengan skema yang saya usulkan pasti lebih efisien dan menguntungkan dibandingkan bila setiap negara melakukan capital control," kata Soros.

Hal lain yang direkomendasikan Bank Dunia adalah perlunya masalah utang swasta diselesaikan segera. Antara lain dengan mengganti sebagian utang tersebut menjadi saham dan dalam hal ini kedua pihak harus rela menanggung kerugian. Kebijakan yang fair dan transparan dalam mendistribusikan kerugian ini merupakan salah satu kunci keberhasilan sebuah negara untuk mengatasi krisis yang dihadapi.

Pada akhirnya, Bank Dunia berpendapat bahwa perekonomian mulai akan pulih tahun depan bahkan akan mulai tumbuh dengan baik pada periode 2001-2007. Hanya, dengan syarat setiap negara mengambil kebijakan ekonomi yang tepat. Ini agaknya yang sulit dicapai.

Jadi, lebih baik siap-siap saja untuk masa sulit yang berkepanjangan.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data