Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 08/XXIIIIIII/24 - 30 November 1998
   
Monitor

Amien dan Mega

Pasangan Amien Rais-Megawati dianggap ideal menjadi presiden dan wakil presiden Indonesia mendatang. Keduanya wujud dari kompromi politik di Indonesia.

Sidang Istimewa Majelis Permusyawaratan Rakyat, yang baru usai, memutuskan pemilihan umum akan dilakukan Mei atau Juni tahun depan. Itu artinya sudah saatnya "mengelus-elus jago". Lantas, siapa sajakah "jago" yang layak dibawa ke bursa calon presiden dan wakil presiden Indonesia mendatang? Responden jajak pendapat TEMPO punya jawabnya. Menurut mereka, yang paling pas mengisi posisi presiden dan wakil presiden Indonesia adalah Amien Rais dan Megawati. Keduanya dinilai telah membuktikan diri mendukung demokrasi selain memiliki massa yang besar.

Jika jajak pendapat ini bisa menjadi kenyataan, itu berarti pascapemilu tahun depan berakhir sudah politisi sisa-sisa Orde Baru yang ingin menjadi presiden. Soalnya, nama-nama seperti Habibie, Edi Sudradjat, Jenderal Wiranto, Akbar Tandjung, atau A.M. Saefuddin hanya sedikit dilirik oleh responden. Menurut mereka, Indonesia masa depan haruslah dipimpin oleh tokoh-tokoh yang bebas sama sekali dari "aroma" Orba, tidak peduli apakah tokoh itu secara riil memiliki pengalaman yang cukup di lapangan politik atau tidak.

Kriteria presiden dan wakil presiden yang disusun responden memang mengutamakan komitmen terhadap demokrasi. Bahkan, terhadap pertanyaan apakah calon presiden dan wakilnya harus merupakan representasi dari partai politik atau organisasi sosial politik besar, tidak semua responden sepakat. Artinya, kalaupun Amien dan Mega dijagokan, itu tidak disebabkan oleh kebesaran organisasi yang mereka pimpin, tapi karena tingginya kepercayaan responden terhadap keduanya.

Lalu, kenapa Amien presiden dan kenapa Mega wakilnya? Tidak ada jawaban yang pasti. Namun, jika ditilik lebih jauh--dengan mempertimbangkan kriteria yang diajukan responden--Amien dinilai punya track pengalaman yang lebih panjang ketimbang Mega. Pengalaman--salah satunya kemampuan mengelola konflik dan kemauan berkompromi--inilah yang nantinya dipakai untuk menjalankan roda pemerintahan. Harap maklum, dalam jagat politik, kompromi merupakan sesuatu yang hampir tidak bisa dihindari.

Tentu saja kedua tokoh ini bukan figur tunggal yang muncul dalam jajak pendapat kali ini. Masih ada nama lain seperti Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) Abdurrahman Wahid, Sri Sultan Hamengku Buwono X, serta Edi Sudradjat, Wiranto, Akbar Tandjung, dan Habibie (dalam porsi yang lebih kecil)--baik untuk jabatan presiden maupun wakil presiden. Namun, jika variabel presiden dan wakil presiden ini disilangkan, pilihan terbanyak masih pada paket Amien-Mega. Selain itu, di bawahnya ada paket Megawati-Sri Sultan atau Mega-Amien.

Gambaran ideal responden tersebut ternyata tidak banyak berubah ketika kepada mereka ditanyakan pasangan presiden dan wakil presiden yang paling mungkin direalisasikan. Meskipun responden menyadari ada peluang-peluang intervensi birokrasi/militer atau permainan uang (money politic) dalam penyusunan paket pemimpin negara itu, dalam persentase yang tidak jauh berbeda nama Amien-Mega kembali muncul.

Selain itu, ada "tokoh lama" seperti Akbar Tandjung, Wiranto, atau Habibie, tapi mereka hanya dipilih oleh kurang dari 10 persen responden. Artinya, ada semacam keyakinan bahwa Amien dan Mega punya posisi tawar yang tinggi dalam membidik kursi pemimpin negara.

Lebih dari separo responden percaya bahwa pasangan ini dapat diterima segala kelompok, meski tidak sedikit pula yang meragukannya.

Cukup realistiskah pandangan itu? Jawaban pastinya, tentu, kita tunggu sampai pemilu tahun depan.

Arif Zulkifli



INFO GRAFIS


Kriteria presiden dan wakil presiden Indonesia mendatang

 PresidenWakil Presiden

Terbukti memiliki sikap demokratis
97%98%

Memiliki pendukung yang besar
92%89%

Memiliki pengalaman politik
90%89%

Tidak pernah menjadi pejabat tinggi Orba
78%77%

Wakil partai politik
57%56%

Datang dari orsospol yang besar
46%47%


Calon presiden ideal


Amien Rais
:31%

Megawati
:30%

Sri Sultan HB X
: 18%

Gus Dur
:7%

Habibie
:7%


Calon wakil presiden ideal


Megawati
:35%

Sri Sultan HB X
: 26%

Amien Rais
:20%

Gus Dur
:5%

Edi Sudradjat
: 5%


Calon presiden yang paling mungkin terwujud


Amien Rais
:26%

Megawati
:20%

Sri Sultan HB X
: 20%

Habibie
:12%

Wiranto
:9%


Alasan tidak terpilihnya calon ideal


Ada intervensi militer dan birokrasi
: 53%

Ada kompromi antarcalon
: 18%

Tidak memiliki banyak pendukung
: 13%

Ada permainan uang
: 13%


Pasangan presiden dan wakil presiden yang paling mungkin terwujud


Amien Rais - Megawati
: 15%

Sri Sultan HB X - Megawati
: 9%

Megawati - Sri Sultan HB X
: 9%

Amien Rais - Sri Sultan HB X
: 8%

Megawati - Amien Rais
: 7%


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data