Modus baru : tabrak angkut Dua diantara empat korban yang ditabrak suzuki carry di desa japuro
lor,cirebon yang meninggal dunia di buang ke hutan. dua lainnya
disembunyikan. pelakunya umar melapor ke polisi, omon & aceng melarikan diri |
MODUS tabrak lari kini meningkat setingkat menjadi "tabrak angkut". Empat
orang pejalan kaki tiba-tiba disambar sebuah Suzuki Carry di Desa Japuro Lor,
Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Salah seorang dari mereka, Aat (6 tahun), mati
seketika. Sedangkan bibinya, Nyonya Sumirat (38 tahun), terluka parah. Sedang
anak Sumirat, Saroh (6 tahun), dan adik Aat, Darji (2 tahun), terpental.
Tiga penumpang minibus itu segera turun. Mereka buru-buru menaikkan keempat
korban ke mobilnya. "Mereka akan kami bawa ke rumah sakit," kata salah seorang
penabrak. Ternyata sampai dua hari kemudian, Senin dua pekan lalu, keempat
korban hilang. Rupanya di tengah perjalanan, Sumirat, yang juga meninggal,
dibuang bersama mayat Aat di pinggir hutan. Sementara itu, Saroh dan Darji
disembunyikan penabraknya.
Kasus itu baru terungkap setelah salah seorang penumpang mobil penabrak, H.
Umar Sujana, 51 tahun, asal Ciamis, menyerahkan diri ke Polres Cirebon.
Purnawirawan ABRI itu mengaku bersama dua temannya -- juga purnawirawan --
telah melakukan tindakan tak terpuji itu. "Saya merasa berdosa, karena itu
saya melaporkan kejadian ini," kata Umar pada polisi.
Berkat laporan Umar, Kamis petang polisi menemukan mayat Sumirat dan Aat dalam
keadaan membusuk di pinggir hutan di Panjalu, Ciamis. Sehari kemudian, kedua
bocah yang "disandera" penabrak itu ditemukan di Tasikmalaya. Tapi hingga
pekan ini, kedua tersangka lain, Omon dan Aceng asal Tasikmalaya, belum
tertangkap.
Ketiga tersangka itu pecandu SDSB. Untuk mendapatkan nomor jitu, mereka datang
ke dukun di Cirebon. Dengan syarat membawa seekor ayam berbulu hitam, berjari
kaki lima.
Untuk mencari ayam berkaki aneh itulah mereka menyewa mobil Suzuki Carry Rp 50
ribu per hari. Sabtu 8 September, dengan sopir Omon, mereka -- ditambah dengan
tiga orang penunjuk jalan -- pergi. Di Jalan Raya Astanajapura, mobil itu
menyalip dua buah truk. Mungkin karena kendaraan terlalu kencang, Omon tak
bisa menguasai kemudi. Mobil itu menghajar empat orang pejalan kaki -- seorang
ibu dan tiga bocah -- yang baru saja mengikuti selamatan panenan. Korban
terpelanting ke mana-mana.
Ketiga penumpang dengan sigap turun dari mobil dan mengangkati korban ke
kendaraan tersebut dengan alasan akan dibawa ke rumah sakit. Warga di situ
percaya saja, membiarkan korban dibawa. Hanya ketiga penunjuk jalan yang
tinggal dan melapor ke Balai Desa Japura Lor.
Tapi di perjalanan ketiga sahabat itu bertengkar. Umar menyarankan korban
diserahkan ke rumah sakit. Tapi Aceng dan Omon menolak usul itu. "Kalau
diserahkan ke rumah sakit, siapa yang bertanggung jawab? Kita tak punya uang,"
bentak Aceng kepada Umar.
Tak lama kemudian Nyonya Sumirat, yang terluka parah, mengembuskan napas
terakhir. Omon dan Aceng memutuskan membuang kedua korban di hutan Panjalu
tadi. Setelah itu, Umar minta diturunkan dengan alasan mau kencing. Tapi
begitu turun ia kabur ke polisi. Hingga kini, Umar masih diamankan di Polres
Cirebon. "Kalau berada di luar, siapa tahu dibunuh kedua orang yang masih
buron itu," kata sumber TEMPO di Polwil Cirebon.
Berkat bantuan Umar pula Saroh dan Darji ditemukan di rumah istri pertama
Omon, Siti Aisyah, di Tasikmalaya. Pada Sabtu dua pekan lalu, kedua bocah itu
diserahkan kembali pada orangtuanya. "Saya di jalan tak boleh turun. Saya
hanya diberi roti," cerita Saroh kepada ayahnya, Kasdian.
Modus baru penabrak itu diduga hanya salah satu cara agar lepas dari tanggung
jawab. "Tapi, dengan cara begitu, akibatnya bisa fatal. Jika korban meninggal,
mereka bisa dikenai pasal tabrak lari dan pembunuhan," kata sumber TEMPO.
WY, Hasan Syukur, dan Riza Sofyat (Biro Bandung)
|