Mantan Di jepang ada majalah bernama "saudari" yang diterbitkan khusus untuk para mantan sebuah perusahaan asuransi: yasuda fire and marine insurance, co. agar mereka tertarik untuk bekerja kembali. |
PARA mantan kini tak perlu merasa tersisih. Di Jepang ada
sebuah majalah baru, namanya Saudari. Majalah ini diterbitkan
khusus uatuk para mantan sebuah perusahaan asuransi Y d.. Fire
and Marine Insurance, Co. Yasuda adalah perusahaan suransi
kedua terbesar di Jepang.
Majalah Saudari, yang terbit dua kali setahun itu, berpenampilan
mewah. Sekilas ia tampak seperti majalah wanita umum. Ada resep
masakan. Ada kolom kewanitaan. Ada laporan tentang mode.
Semuanya dengan gambar-gambar yang menarik. Di sela-sela gambar
dan artikel menarik itu, diselipkan juga berbagai cerita tentang
perkembangan bisnis Yasuda, dan bisnis asuransi pada umumnya.
Majalah yang dimodali. senilai Rp 4 milyar itu didistribusikan
secara cuma-cuma kepada 2.000 mantan pegawai wanita Yasuda.
Saudari memang bukan majalah pertama untuk para mantan karyawan.
Sebelumnya di Jepang telah ada Warta Alumni Sankokai, yang
diterbitkan Mitsui Bank. Tapi Saudari adalah majalah yang paling
serius - dari segi profesionalisme penerbitan dan permodalannya.
Lalu, apa gunanya perusahaan menanam modal yang begitu besar
hanya untuk berkomunikasi dengan mantan karyawannya? "Karena
kami menganggap itu adalah cara yang paling efektif bagi
Perusahaan
untuk berkomunikasi dengan mantan karyawan." Gunanya? "Karena
kami ingin mereka tertarik untuk kembali bekerja pada kami,"
kata Kunio Ozaki, manajer personalia Yasuda.
Nah, ini lalu terdengar makin aneh. Sekalipun begitu, di Jepang,
di mana perusahaan setia kepada karyawan sebagaimana karyawan
juga setia kepada perusahaan, ihwal itu tak perlu dianggap aneh.
Di sana semakin banyak saja program re-employmenf dilakukan oleh
perusahaan, antara lain karena biaya pelatihan yang semakin
tinggi untuk melatih karyawan baru.
Ozaki menggambarkan bahwa dari 3.800 karyawan wanita Yasuda,
rata-rata 500 orang berhenti bekerja setiap tahunnya. Alasan
terbanyak adalah: pernikahan dan kelahiran bayi. "Padahal,
mereka itu adalah karyawan yang sudah terlatih. dan mampu
melakukan pekerjaan dengan baik."
Pernikahan dan kelahiran bayi biasanya memang merupakan alasan
yang bersifat sementara. Beberapa tahun sesudah menikah dan
melahirkan bayi, wanita sudah mulai merasakan kebutuhan untuk
bekerja kembali - baik untuk alasan keuangan maupun untuk alasan
yang berhubungan dengan self esteem. "Pada saat itulah kami
mengharapkan mereka kembali bekerja pada kami," kata Ozaki.
Seibu Department Storeslah yang pada tahun 1980 mulai secara
sistematis melakukan program re-hiring atau re-employment.
Semula, kebanyakan perusahaan lepang hanya mempekerjakan mantan
karyawannya dalam kapasitas paro-waktu (part-time), dan dengan
cara yang sangat ad hoc. Sukses Seibu menerapkan pola yang
struktural mtuk mempekerjakan kembali mantan karyawan itu
kemudian diikuti oleh banyak perusahaan.
Kriteria yang dipakai Seibu dalam program re-hiring adalah.
mantan karyawan yang bersangkutan harus sekurang-kurangnya
pernah bekerja selama tiga tahun sebelum mengundurkan diri.
tidak lebih dari sepuluh tahun menganggur, dan berusia
setinggi-tingginya 40 tahun ketika melamar kembali. Beberapa
perusahaan membuat svarat tambahan. misalnya: alasan pengunduran
diri harus disebabkan oleh pernikahan dan kelahiran bayi.
Program itu memang sesuai dengan imbauan Pemerintah Jepang,
untuk menyediakan peluang kerja pada posisiposisi yang lebih
baik bagi kaum wanita, - sesuatu yang di dunia Barat dikenal
dengan istilah Equal Employment Opportunity. Pengelolaan mantan
karyawan wanita itu terutama dilakukan oleh Bagian Personalia
dengan cara keanggotaan. Dengan mendirikan semacam klub alumni
yang bisa diisi berbagai acara kegiatan--seperti tenis dan
piknik statistik para mantan selalu dipelihara dan di-update.
Surat-surat berkala juga merupakan salah satu cara untuk
menjalin jalur komunikasi antara perusahaan dan mantan
karyawannya.
Yasuda memilih majalah glossy untuk berkomunikasi dengan para OG
(old girls = sebutan di Jepang untuk para mantan karyawan
wanita), karena, menurut Ozaki, "Ini cara terbaik untuk mengikat
keanggotaan karena mereka memperoleh sesuatu yang berguna dan
betul-betul baik. Kedua, dengan majalah ini kami bisa
mempersiapkan mereka dengan pengetahuanpengetahuan baru, yang
diperlukan bila mereka memutuskan untuk kembali bekerja. Ketiga,
dengan majalah ini pula kami bisa memberitahukan lowongan kerja
yang tersedia ."
Apa yang dilakukan Yasuda adalah sebuah investasi jangka
panjang. Upaya memanusiakan manusia - secara jangka panjang ini
- tentulah bisa dipetik buahnya.
Bondan Winarno
|