Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 31/XIIIIIIII/01 - 7 Oktober 1988
   
Kesehatan

Angka-angka di balik helm

Helm cukup ampuh mengurangi angka kematian pada kecelakaan karena berfungsi mendistribusikan beban benturan ke segala arah. kasus ini diseminarkan oleh unpad bandung sebagai peringatan dies natalisnya.

JALAN raya masih saja menjadi pembunuh tingkat tinggi. "Karena
di Indonesia saja seharinya jalan raya mem-betot sekitar 35
nyawa," kata ahli bedah saraf Prof. Iskarno. "Kalau mau
dibandingkan, korban jiwa perang Libanon cuma 2 sampai 3 jiwa
per hari." Angka yang impresif ini dikemukakan Iskarno dalam
seminar sehari "Upaya Menghindari Cedera Kepala Akibat
Kecelakaan Lalu Lintas", di Bandung, pertengahan September lalu.

Seminar yang merupakan mata acara Dies Natalies ke-3 1
Universitas Padjadjaran Bandung, itu mengetengahkan hasil
penelitian ahli bedah saraf dr. Kahdar Wiriadisastra. Kendati
seminar ditekankan pada sisi medis, pembicara dari disiplin ilmu
lain tampil memperkaya pengamatan. Cedera kepala yang dibahas,
pada dasarnya, mempermasalahkan manfaat pemakaian helm, yang
diwajibkan secara nasional sejak Juli 1985.

Manfaat helm memang tak bisa diragukan. Kahdar membuktikan angka
korban cedera kepala menurun dengan nyata setelah wajib helm
itu. Korban di RS Hasan Sadikin, Bandung, setahun sebelum
kewajiban memakai helm mencapai 307 kasus, sementara setahun
setelah helm diwajibkan, angka itu susut menjadi 240. "Tapi
harus diingat penurunan itu disertai meningkatnya jumlah
pengendara sepeda motor," kata Kahdar kepada Hedy Susanto dari
TEMPO. Perkembangan jumlah sepeda motor diBandung sejak tahun
1982 naik sekitar 100% setiap tahunnya.

Sementara itu, angka cedera kepala yang dicatat tadi adalah
gabungan dari mereka yang memakai helm dan yang membandel. "Dan
kesimpulannya jelas, persentase kematian mereka yang membandel
sangat tinggi," ujar Kahdar. Kalaupun tak sampai mati, kualitas
cedera kepala kelompok "antihelm" ini juga lebih berat.

Hasil penelitian Kahdar menunjukkan dari 240 kasus cedera
kepala akibat kecelakaan lalu lintas yang ditelitinya, 132
karena tidak menggunakan helm. Sisanya, yang 108, sudah memakai
helm tapi masih sial juga. Dari 132 kasus cedera karena tidak
berhelm, 13 orang kemudian meninggal, sementara dari 108 korban
yang memakai helm, hanya 5 yang tidak tertolong. Bila
dibandingkan dengan masa sebelum helm diwajibkan, dari 307 kasus
cedera kepala, 23 di antaranya meninggal.

Beratnya cedera kepala akibat tidak memakai helm terbukti pula
pada penelitian Kahdar. Misalnya, pecahnya tulang tengkorak. Di
antara 108 kasus korban yang memakai helm, ditemukan hanya 2
kasus retak tulang tengkorak (1,85%). Dari 132 kasus pembandel,
10 kasus mengalami pecah kepala (9,20%). Sebagai perbandingan,
di masa pemakaian helm belum diwajibkan, dari 307 cedera kepala
19 di antaranya (7,81%) kasus keretakan tengkorak.

"Dilihat dari fungsi helm angka itu tidak aneh," ujar Iskarno.
Helm, menurut Iskarno, fungsinya mendistribusikan beban benturan
ke segala arah. Juga meredam energi benturan. "Akibat tidak
memakai helm bisa juga dilihat dari perbedaan jumlah kasus
operasi," kata Iskarno lagi. Pada penelitian Kahdar terlihat, 20
kasus operasi bedah saraf karena korban tidak memakai helm,
sementara yang memakai helm hanya 8 kasus.

Secara umum, penelitian Kahdar membuktikan manfaat penggunaan
helm. "Tapi harus diingat, angka yang saya kemukakan bukan angka
umum," ujar ahli bedah saraf itu merendah. "Angka itu saya
kumpulkan hanya dari membongkar medical record di lingkungan RS
Hasan Sadikin. Padahal, di Bandung 'kan ada empat rumah sakit
besar."

Toh kesimpulan Kahdar agaknya mendekati kebenaran. Ahli bedah
saraf RS Umum Dr. Soetomo, Surabaya, dr. H.M. Saiid
Dharmadipura, berkomentar, "Kami belum mengkajidata, tapi dari
pengamatan umum terlihat kualitas cedera kepala memang bergeser
setelah ada peraturan helm." Dulu, sebelum helm diwajibkan,
sebagian besar penderita cedera kepala, walau secara fisik bisa
sembuh, secara mental rusak karena otak atau susunan saraf di
kepalanya cedera. "Di masa kini, sebagian besar bisa pulih
kembali," kata Saiid.

Dari Yogyakarta, muncul kesimpulan sama. "Menurut pengamatan
saya, angka kematian memang menunjukkan tendensi menurun," ujar
dr. Guno Samekto, Direktur RS Bethesda, Yogyakarta. Di samping
itu, jenis cedera kepala yang terbesar hanya concussion cerebri
atau gegar otak. "Ini cedera kepala yang tidak terlalu berat dan
kemungkinan sembuhnya besar," ujar Guno.

Namun, Kahdar masih penasaran. "Saya menemukan kasus kematian
yang terjadi karena patahnya tulang leher. Kepalanya sendiri
aman karena pakai helm," katanya. "Jangan-jangan ada pergeseran
penyebab kematian, setelah kewajiban helm diterapkan."

Wah, kalau begitu, memang bisa gawat, polisi bisa repot. 'Kan
belum ada helm untuk leher, Dok?

Jim Supangkat (Jakarta), Slamet Subagyo (Yogyakarta), Herry
Mohamad (Surabaya)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data