Tumpukan Batu di Ujung Jembatan Ada usaha sabotase terhadap KA nomor 35 senja utama
di ujung jembatan antara stasiun Jatibarang dan Tegalsari,
Indramayu. 12 batu digundukkan di tengah rel, tapi KA
selamat. Diduga bermotif politis. |
MASINIS kereta api "Senja Utama" Solo-Jakarta itu
membelalakkan matanya. Dinihari, 27 Oktober lalu, sorot lampu
lokomotif KA nomor 35 yang dikemudikannya menerpa gundukan batu
besar di ujung jembatan antara stasiun Jatibarang dan Tegalsari,
Indramayu.
Dengan gemetar, ia mengurangi kecepatan dan mengerem secara
bertahap. Toh benturan tidak bisa dihindari. Kereta api itu
tetap saja menghajar 12 batu yang digundukkan di tengah rel.
Beberapa batu besar, rata-rata 20 kg lebih, terpental atau pecah
tergilas.
Setelah lewat beberapa meter, kereta api baru bisa dihentikan di
atas jembatan. Hati semua orang kecut. Di bawah rangkaian
gerbong itu menganga jurang yang dalam dengan sungai kering
berbatu-batu. Jembatan itu tidak dilengkapi dengan pagar. "Ada
usaha untuk menggulingkan kereta 'Senja Utama' itu," kata
Sutardja, kepala stasiun Jatibarang yang memimpm petugas
peneliti.
Jika masinis kaget dan mengerem mendadak untuk menghindari
gundukan batu, "Itu sama halnya dengan bunuh diri karena kereta
akan terbalik," kata Koptu Pol. Rasika yang memimpin tim polisi.
Hal yang sama juga terjadi apabila masinis tidak melihat batu.
Jika kereta api menabrak gundukan batu dalam kecepatan tinggi,
menurut perhitungan para petugas, rangkaian gerbong akan
terpental keluar rel. Keduanya berakibat fatal. Gerbong akan
terempas dan mencebur ke dasar sungai setelah membentur bibir
jurang yang terjal.
Kuat dugaan, kejadian malam itu adalah "kesengajaan" atau
sabotase. Gundukan batu sengaja dipasang pada jalur rel yang
akan dilewati kereta menuju Jakarta. "Pemasangan batu itu jelas
mengandung unsur kesengajaan," kata Rasika.
Menurut H. Margana, kepala desa yang membawahkan tempat
kejadian, penumpukan batu dilakukan di daerah yang jauh dari
tempat permukiman. "Jika terjadi kecelakaan, mungkin baru
beberapa jam ketahuan," katanya kepada TEMPO.
Belum jelas siapa yang ingin menjaili kereta yang sarat
penumpang itu. Ada yang menduga itu dilakukan oleh karyawan PJKA
yang dirumahkan karena terlibat G-30-S/ PKI. Ada pula yang
menduga motif sabotase itu politis.
|