Demi Emas dan Wanita Cantik Di Merauke, Irian Jaya, belasan orang kelompok Sigosigo
ditahan, karena mencoba melakukan makar dengan membentuk
negara baru yang disebut Babua Nugumti. Pimpinannya,
Henricus Rumatokoi diperiksa. |
TAK seperti biasanya, lampu masih menyala terang di gereja St.
Michael di Desa Kuda Mati, Merauke, Irian Jaya, 20 Agustus lalu.
Padahal, sudah tengah malam. Belasan orang masih tampak berada
dalam gereja berukuran sekitar 12 x 7 meter tersebut.
Hal itu jelas kelihatan dari luar karena separuh dinding gereja
itu tidak sepenuhnya tertutup. Mendadak sejumlah petugas datang.
Buntutnya, 15 orang yang malam itu ada di gereja dibawa oleh
petugas.
Esoknya, kabar itu pun menyebar ke seantero Merauke: belasan
orang itu -- yang dikenal sebagai kelompok Sigo-Sigo -- ditahan
karena mencoba melakukan makar dengan membentuk negara baru yang
disebut Babua Nugumti.
Negara baru? Hampir semua penduduk Merauke kaget dan
geleng-geleng kepala. Selama ini mereka cuma mengenal Sigo-Sigo
sebagai salah satu kebiasaan orang Muyu -- salah satu suku di
Merauke selain Asmat, Yagai, Maren, atau Mandabo. Sigo-Sigo ini
tak ada hubungannya dengan adat.
Mereka berpangkalan di Kuda Mati, yang terletak di pinggiran
Kota Merauke, dekat dengan lapangan terbang Mopah. Kampung yang
berpenduduk sekitar 600 orang ini terkenal rawan. "Jarang orang
berani masuk di waktu malam," kata seorang sopir taksi.
Penduduk Kuda Mati sebagian besar dari suku Muyu. Rata-rata
hidup mereka lumayan, dengan berkebun dan berburu -- daerah ini
terkenal sebagai penghasil dendeng rusa.
Orang paling berpengaruh di desa itu adalah Henricus Rumatokoi,
yang berasal dari suku Mandabo. Henricus, 37 tahun, ternyata
menganggap dirinya seorang "guru". Ajarannya tergolong aneh.
Dasar pijakannya ajaran Kristen, tapi dicampur aduk dengan
berbagai kepercayaan lokal.
Henricus, yang aktif mulai 1983 itu, antara lain mengajarkan
bahwa Yesus akan menitis kembali pada salah seorang dari
kelompok mereka. Itu sebabnya, mereka pernah menaruh uang di
kuburan anggota yang meninggal, dengan harapan tiga hari
kemudian ia akan hidup kembali.
Ada lagi ajaran lain. "Jika kita sudah 'merdeka' kelak, hanya
dengan mengetuk tanah nanti akan muncul emas," ujar seorang
keponakan Henricus. Selain emas, nanti juga akan muncul
wanita-wanita cantik setiap kali dibutuhkan.
Kepercayaan bahwa Yesus akan menitis malah pernah dilaksanakan
dengan semacam uji-coba. Persis pada 17 April silam -- hari
Paskah -- salah seorang anggota kelompok disalibkan, dengan
harapan ia akan bangkit kembali tiga hari kemudian, seperti
Yesus. Celakanya, "Bukannya bangkit tapi mayatnya malah dimakan
gagak," kata Mesakh, salah seorang penduduk.
Meski hal itu sebenarnya sudah merupakan tindakan kriminal,
pihak yang berwajib tampaknya tak bisa bertindak. "Sulit
mengusut mereka. Solidaritas mereka sangat kuat. Tapi mereka
kami awasi terus," kata seorang sumber TEMPO.
Menurut ajaran Sigo-Sigo, ada suatu saat yang disebut "merdeka".
Entah bagaimana, 20 Agustus lalu dianggap Henricus sebagai "hari
kemerdekaan". Maka, pada tengah malam hari itu, mereka
mengadakan pertemuan di gereja kampung.
Di situlah mereka memproklamasikan negara Babua Nugumti (yang
artinya tidak jelas, bahkan di kalangan suku Muyu sendiri).
Henricus menjadi presiden sedang sang wapres adalah Andreas
Wanewop. Malam itu juga ditentukan susunan kabinet dan bendera
negara. Menurut seorang pejabat setempat, susunan itu kacau.
"Ya, jelas acak-acakan, karena yang bikin orang yang tak tamat
SD," ujarnya. Henricus Rumatokoi, yang masih lajang itu, memang
cuma sekolah sampai kelas III SD.
Hingga pekan lalu sebagian besar dari kelompok itu masih
diperiksa. Kabarnya, pihak yang berwajib sulit memeriksa mereka.
"Jawaban mereka memusingkan dan ngawur," kata sebuah sumber.
Suatu contoh, ketika ditanya akan bikin bendera di mana, mereka
menjawab akan minta dari Pak Harto.
Yopie Hidayat
|