Ketika Menjadi Tokoh OPM Bekas tokoh opm, 46, menjelaskan ketika dia menjadi tokoh
opm.(nas) |
TANPA berewok dan kumis lebat, ia memang tidak tampak angker
lagi. Eusebius Martin Tabu, 46, yang dulu dikenal sebagai
jenderal Pasukan Pembebasan Nasional merangkap Presiden Republik
Papua Barat, sekarang kelihatan biasa dengan gigi depannya yang
sudah ompong.
Menyerah April 1980, Martin Tabu kini tinggal di mess Kodam
Cenderawasih Jalan Bonang, Jakarta Pusat. Dia telah menikah lagi
dengan Nining Yuningsih, 26. Dari perkawinannya dengan wanita
Priangan itu Martin, yang kini menjadi petugas keamanan sebuah
perusahaan real estate PT Alfita Utama di Jakarta, sudah
dikaruniai seorang putri berusia tiga bulan, Eda Emilda.
Sebelum tersesat masuk hutan, Martin Tabu adalah seorang bon.
"Saya ini bon, yang menguasai lebih dari satu suku. Bon
mempunyai tanggung jawab besar dan macam-macam. Setelah Ayah
meninggal, saya menjadi bon di Yamas, Jayapura. Kalau dihitung,
di Yamas dan sekitarnya saja ada 700 keluarga. Di bawah saya,
ada beberapa camat. Kekuasaan saya mencakup tanah milik saya.
Seluruh Jayapura, Kabupaten Jayapura dan termasuk perbatasan itu
milik saya. Itu dari nenek moyang saya. Jadi, Obahorok dan saya
kira-kira sama. Saya di Jayapura dan Obahorok di Wamena,"
katanya.
Bertelanjang dada, mengenakan celana pendek, tokoh Organisasi
Papua Merdeka (OPM) yang kini mendapat gaji Rp 100.000 sebulan
itu menawab pertanyaan TEMPO minggu lalu.
Mengapa menjadi OPM?
Saya menjadi OPM sejak 1969. Anggota saya tidak sampai 30 orang.
Senjatanya cuma satu Mauser dan senjata rakyat berupa panah.
Saya masuk OPM karena tidak ingin harta kami dirampas. Kami
dikasih tahu orang, rencana adanya transmigrasi yang akan
mengambil tanah kami. Saya sudah tulis surat ke berbagai pihak.
Boleh ambil, tapi saya minta ganti rugi buat beli rokok. Jawaban
tidak ada.
Tujuan mendirikan OPM.
Saya memang pendiri OPM. Tapi saya tidak aktif. Saya membentuk
OPM karena mendengar isu islamisasi dan perampasan tanah,
penyerobotan kayu. Itu diberitahukan oleh Jacob Pray dan Zeth
Rumkorem. Kami ingin, pemerintah itu adil, menghormati hak
setlap orang. Saya ingin mendirikan pemerintahan yang adil itu.
Mengapa berbalik dan meninggalkan OPM?
Saya berkeinginan besar untuk membantu pemerintah. Izaac Hindom,
gubernur, itu mempunyai kesulitan menyelesaikan perbatasan. Saya
bisa.bantu. Dia dari Fak-Fak dan tidak tahu soal perbatasan.
Sayang, saya tidak diizinkan membantunya. Dan saya berhubungan
dengan pemerintah karena, bagi saya, semua adalah teman. Saya
pernah membebaskan tiga pejabat yang ditahan OPM pimpinan
Rumkorem. Jaminannya, nyawa saya sendiri.
Ketika itu (April 1980), saya menghubungi Kapten Zacky Anwar
dari Kopassandha. Saya datang sendiri Kemudian saya diamankan di
Kodam selama setahun. Tapi bukan dipenjarakan, Iho. Dan di
Jayapura, saya diberi rumah untuk tinggal bersama istri dan lima
anak. Agustus 1981, saya dipindahkan ke Jakarta.
Semua orang pasti ingin kembali ke desanya. Dari seorang kepala
suku yang datang ke Jakarta tahun lalu, saya tahu desa saya
dijadikan daerah transmigrasi. Pernah juga Pak C.I. Santosa
sebelum berakhir masa jabatannya sebagai panglima Cenderawasih
menanyakan, "Martin, sebelum saya berhenti, kamu mau apa? Apa
mau pulang?" Saya jawab, "Nanti dulu, Pak. Saya ingin setahun
dua tahun dahulu mengenal Jakarta."
|