Ramai-Ramai Tertimpa Palapa Santunan asuransi palapa b-2 diminta agar di bulan ini
(maret '84). reasuransi di luar negeri kini memasang tarif
premi dua kali lipat. |
INDUSTRI jasa asuransi kerugian kini dalam keadaan
memprihatinkan. Para reasuradur di luar negeri mengkritik
tajam kerugian-kerugian pertanggungan kebakaran yang
bertubi-tubi selama ini. Apalagi setelah Palapa B-2 yang hanyut
di angkasa belum lama ini juga harus mereka tanggung. Direktur
Jenderal Moneter Dalam Negeri, Oskar Surjaatmadia, menyatakan
hal itu pada pembukaan rapat kerja badan usaha milik negara
(BJMN) PT Asuransi Jasa Indonesia, pekan lalu. Beberapa hari
sebelumnya, perusahaan itu telah diminta Menteri Pariwisata, Pos
& Telekomunikasi, Achmad Tahir, agar membayar asuransi Palapa
B-2, bulan ini juga.
Ternyata, PT Asuransi Jasa Indonesia (AJI) tidak sendirian
menanggung asuransi Palapa B-2--seperti halnya peluncuran Palapa
A-1 dan A-2. Sejak peluncuran Palapa B-1, ditentukan Menteri
Perhubungan bahwa perlu pemerataan penanggungan terhadap
asuransi yang cukup besar. Peluncuran Palapa B-2 ditutup dengan
asuransi sebesar US$ 75.394.000, oleh suatu konsorsium yang di
ketuai AJI.
Mulusnya peluncuran-peluncuran sebelumnya (A-1 dan A-2) telah
memancing perusahaan asuransi swasta ikut dalam konsorsium itu.
Perusahaan-perusahaan itu ialah Asuransi Bintang, Asuransi Indra
Pura Asuransi Ikrar Lloyd, Asuransi Parolamas, Asuransi
Periscope, Asuransi Ramayana, dan Asuransi Wahana Tata. Empat
penunjang BUMN AJI juga ikut, yakni Maskapai Asuransi Indonesia,
Asuransi Murni, Asuransi Timur Jauh, dan Asuransi Tri Pakarta.
Adanya konsorsium ini tidak saja menimbulkan pemerataan
keuntungn dari premi asuransi Palapa B-1, tetapi juga lolosnya
perusahaan-perusahaan itu dari kebangkrutan akibat musibah
Palapa B-2. Karena, ternyata, tiap-tiap perusahaan
mengasuransikan kembali sebagian besar tanggungannya kepada
perusahaan lain lewat PT Reasuransi Umum Indonesia (RUI).
Perusahaan yang terakhir ini pun selanjutnya membagi sebagian
kecil tanggungannya kepada 16 perusahaan asuransi Indonesia
antara lain PT Asuransi Agung Asia Sejahtera, PT Maskapai
Asuransi Ampuh, PT Asuransi Artapala, PT Askrindo - sebelum
menyebarkan risiko, terbesar kepada reasuradur di luar negeri.
"Kami ibarat main judi, kalau tidak mereasuransikan," tutur
F.X. Widiastanto, Direktur PT Asuransi Ramayana. Sebagai
anggota konsorsium, Ramayana menandatangani kontrak
pertanggungan sekitar US$ 400.000. Tetapi, untuk berjaga-jaga
terhadap kemungkinan klaim, yang ternyata memang terjadi pada
kasus Palapa B-2 ini, Ramayana mereasuransikan sebagian besar
tanggungannya. "Hanya US$ 32.500 tanggungan kami dan siap kami
bayarkan," kata Widiastanto.
Jumlah US$ 75.394.000 untuk asuransi Palapa B-2 memang terlalu
berat untuk dipikul perusahaan-perusahaan asuransi Indonesia
yang rata-rata kekayaannya masih dibawah US$ 10 juta. Itu
sebabnya, porsi terbesar mereka serahkan lagi kepada reasuradur
luar negeri. "Cuma 1,72' yang ditanggung langsung perusahaan
dalam negeri," demikian diumumkan pihak AJI, pekan lalu.
Perincian lebih lanjut diberikan Purwanto Abduleadir, Direktur
Teknik PT RUI di Jakarta: Dari 1,72% atau US$ 1.296.776 itu, PT
RUI merupakan penanggung terbesar, yakni 38,09275% atau sekitar
US$ 500.000. Sedangkan tanggungan para anggota konsorsium
sebesar US$ 638.745 termasuk tanggungan PT AJI yang cuma sckitar
US$ 250.000. Selebihnya 12,65090%, ditanggung 16 perusahaan
dalam negeri lainnya.
Penyebaran tanggungan Palapa B-2 ke luar negeri 98,28%, pun
dibagi oleh sekitar 120 perusahaan: 26,2314% di AS dan 72,0486%
di pasaran Lloyd's London.
"Dari gambaran ini, baik RUI maupun pasaran asuransi dalam
negeri sebenarnya tidak mengalami guncangan akibat Palapa,"
tutur Purwanto Abduleadir, dalam wawancara lewat teleks dengan
Bambang Harymurti dari TEMPO. Ia yakin bahwa semua penanggung
mampu membayar klaim Perumtel pada akhir bulan ini. Ia juga
berharap sistem konsorsium masih akan dipakai pemerintah untuk
asuransi peluncuran Palapa selanjutnya.
Kelihatannya, ada pelajaran baru yang diambil dari musibah
Palapa B-2 ini. "Untuk mengadakan Palapa pengganti, Departemen
Parpostel mengusahakan agar pembuatnya bersedia dibayar dengan
harga seperti yang dibayar asuransi, jika terjadi hal-hal yang
tak diinginkan." kata juru bicara Parpostel, A.D.D. Leimena.
Sementara menunggu pembayaran asuransi Palapa B-2, Menteri
Parpostel sibuk berunding dengan pembuat satelit AS, Hughes
International. Negosiasi masih berjalan sampai akhir bulan ini.
Sementara itu, kalangan industri jasa asuransi, terutama yang di
luar negeri, sudah pasang kuda-kuda dengan tarif premi dua kali
lipat: sekitar 8% dari tanggungan. Padahal, premi untuk satelit,
menurut Widiastanto, sudah tinggi dibandingkan dengan premi
asuransi gedung.
|