Di Camis Dan Tulungagung Daerah ciamis bagian selatan dilanda banjir, 3 buah tanggul
bobol. Hampir bersamaan, 3 buah sungai di kabupaten
trenggalek, meluap dan merendam kota tulung agung serta ribuan
hektar sawah dan tegalan.(dh) |
YANG biasa terjadi hampir tiap tahun, telah terjadi lagi Ciamis
bagian selatan dan Tulungagung, banjir. Dalam waktu hampir
bersamaan, pertengahan bulan lalu.
Sampai pekan lalu tercatat 9 kecamatan di Ciamis yang masih
menderita akibat bencana ini. Yaitu Kecamatan Padaherang,
Pamarican, Banjar, Cisaga Banjarsari, Lakbol, Parigi, Kalipucang
dan Pangandaran. Selain karena hujan terus-terusan selama 3
hari banjir juga berasal dari limpahan air tanggul Cikaso,
Cilesung dan tanggal Ciseeng yang sama-sama bobol. Kecamatan
Padaherang tercatat paling menderita, karena 5 buah desa di
wilayah ini berada di dekat tanggul Ciseeng.
Di antara 21.000 jiwa lebih penduduk yang terkena musibah itu,
sekitar 5.000 jiwa di antaranya paling menderita. Terutama di
beberapa desa di Kecamatan Padaherang. Kerugian seluruhnya
diperkirakan mencapai Rp 1 milyar.
Tulungagung
Belum pulih benar dari banjir di akhir Mei lalu, Tulungagung
ditimpa bencana itu lagi. Selama 4 hari, 10 hingga 14 Juni lalu
hujan terus-terusan turun dengan deras. Tiga buah sungai, yaitu
Kalidawir, Kalingasinan (di wilayah Kabupaten Trenggalek) dan
Kalingrowo, meluap. Bukan saja Kota Tulungagung tenggelam, tapi
juga berakibat ribuan hektar sawah dan tegalan terbenam.
Tercatat tak kurang dari 63 buah desa dari 13 kecamatan di
Tulungagung menderita akibat bencana itu. Penduduk yang terkena
meliputi lebih dari 21.000 jiwa.
Bagi penduduk Jawa Timur, terutama para petani, hujan
pertengahan Juni itu jauh di luar dugaan. Biasanya begini lewat
bulan April mereka bernafas lega. Sebab, ini pertanda bahwa
musim hujan telah berlalu. Kali Brantas berikut anak-anaknya
yang merayapi hampir « Jawa Timur tenang-tenang saja sampai awal
Mei lalu. Hujan biasa memang kerap juga terjadi, namun tak
menimbulkan akibat-akibat yang berarti. Karena itu di beberapa
wilayah petani mulai mengambil ancang-ancang untuk bertanam di
sawah maupun tegalan.
Tapi hingga bulan Juni ternyata hujan masih turun juga. Malahan
deras dan membawa banjir. Satu hal yang sama sekali di luar
dugaan. Sebab menurut perhitungan petani Jawa, biasanya banjir
datang pala mangsa wolu, yang biasa tertuang dalam rumus
lunjir, singkatan dari wolu banjir. Artinya banjir itu datang
setiap masa kedelapan. Dan masa kedelapan ini jatuh pada
pertengahan Desember sampai akhir Januari. Setelah itu disebut
mangsa sanga (masa kesembilan) yang lazimnya dirun-uskan dengan
ngarang (sanga terang) -- artinya memasuki masa kesembilan hujan
sudah jarang turun.
Hujan yang turun di luar jadwal itu dikenal petani Jawa dengan
sebutan udan salah mangsa (hujan yang turun di luar jadwal).
Menurut perhitungan Jawa (yang rumusnya sudah jarang diingat?
hujan jenis ini biasa datang satu kali setiap 8 tahun. Di zaman
dulu, hujan di luar jadwal ini dimanfaatkan petani untuk menanam
padi gadu karena keperluan air akan cukup sampai padi berbuah.
Di luar musim ini petani banyak menanam kedelai, jarang yang
berani menanam padi gadu. Dan hujan salah jadwal tahun ini
tidak hanya akan menguntungkan tanaman padi gadu, tapi sekaligus
juga mengirimkan bencana.
|